Wednesday, 14 June 2017

Pentingnya Inovasi dalam Pendidikan



Pentingnya Inovasi dalam Pendidikan
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pentingnya Inovasi dalam Pendidikan


Kemajuan teknologi pada masa ini dan masa yang akan datang terutama di bidang informasi dan komunikasi telah menyebabkan dunia ini terasa sempit. Interaksi antar bangsa menjadi semakin intensif. Hal ini kita kenal dengan istilah globalisasi. Pada era globalisasi, terdapat kecenderungan yang kuat terjadinya proses universalisasi yang melanda seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satu implikasi penyeragaman terlihat dengan munculnya gaya hidup global, seperti: makanan, pakaian, musik, dan sebagainya.
Banyak hal yang perlu dicermati agar sebagai bangsa kita tidak tertinggal oleh hal-hal baru yang terjadi secara global, sehingga kita bisa beradaptasi dengan negara-negara di dunia. Di sisi lain, kita harus memiliki filter yang kuat agar pengaruh globalisasi yang negatif tidak menganggu kehidupan bangsa yang menjunjung tinggi budi pekerti dan memiliki budaya yang luhur.
Pada bidang pendidikan, peran guru untuk mendidik peserta didik menjadi manusia yang selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya sangat penting dalam menentukan perjalanan generasi suatu bangsa. Guru dituntut menjadi pendidik yang dapat menjembatani kebutuhan tersebut. Di dalam perkembangannya, dunia berubah dengan sangat cepat dan bersifat global. Hal tersebut diakibatkan oleh perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang komunikasi dan elektronik. Perkembangan ini telah mengakibatkan revolusi informasi. Sejumlah besar informasi, hampir mengenai semua bidang kehidupan dari semua tempat dapat diakses. “Secara terbuka, setiap saat informasi tersebut dapat diakses, dibaca, serta disaksikan oleh setiap orang, terutama melalui internet, media cetak, dan televisi” (Sukmadinata, Nana Syaodih, dkk., 2006, hlm. 5).
Revolusi informasi telah mengakibatkan dunia menjadi semakin terbuka, menghilangkan batas-batas geografis, administratif-yuridis, politis, dan sosial budaya. Masyarakat global, masyarakat teknologis, ataupun masyarakat informasi yang bersifat terbuka, berubah sangat cepat dalam memberikan tuntutan, tantangan, bahkan ancaman-ancaman baru. Pada abad ini, manusia dituntut berusaha tahu banyak (knowing much), berbuat banyak (doing much), mencapai keunggulan (being exellence), menjalin hubungan dan kerjasama dengan orang lain (being sociable) serta berusaha memegang teguh nilai-nilai moral (being morally). “Manusia-manusia seperti ini akan mampu berkompetisi, bukan saja dengan sesama warga dalam suatu daerah, wilayah, ataupun negara, melainkan juga dengan warga negara dan bangsa lain” (Sukmadinata, Nana Syaodih, dkk., 2006, hlm. 6).
Menurut Cece Wijaya, dkk. (1992, hlm. 7) pendidikan dewasa ini menghadapi berbagai tantangan dan persoalan, sebagai berikut:
1. Bertambahnya jumlah penduduk yang sangat cepat dan sekaligus bertambahnya keinginan masyarakat untuk mendapat pendidikan, yang secara kumulatif menuntut tersedianya sarana pendidikan yang memadai;
2. Berkembangnya ilmu pengetahuan yang modern menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan terus-menerus, dan dengan demikian menuntut pendidikan yang lebih lama sesuai dengan konsep pendidikan seumur hidup (life long education);
3. Berkembangnya teknologi yang mempermudah manusia dalam menguasai dan memanfaatkan alam dan lingkungannya, tetapi sering kali ditangani sebagai suatu ancaman terhadap kelestarian peranan manusiawi.
Tantangan tersebut, lebih berat lagi dirasakan karena berbagai persoalan datang, baik di luar maupun dari dalam sistem pendidikan itu sendiri, di antaranya:
1. Sumber-sumber yang makin terbatas dan belum dimanfaatkannya sumber yang ada secara efektif dan efisien;
2. Sistem pendidikan yang masih lemah dengan tujuan yang masih kabur, kurikulumnya belum serasi, relevan, suasana belum menarik, dan sebagainya;
3. Pengelolaan pendidikan yang mekar dan mantap, serta belum peka terhadap perubahan dan tuntutan keadaan, baik masa kini maupun masa yang akan datang;
4. Masih kabur dan belum mantapnya konsepsi tentang pendidikan dan interpretasinya dalam praktik.
Inovasi selalu dibutuhkan manusia. Begitupun yang melakukan inovasi juga manusia dengan kreativitas tinggi. Terutama dalam bidang pendidikan, maka inovasi diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah yang mempengaruhi kelancaran proses pendidikan. Rosenblum, Sheila, dan Louis (1981, hlm. 1) mengemukakan alasan perlunya inovasi dalam pendidikan:
“decliming enrollments, rapid changes in the existing technology and knowledge about teaching and learning processes, a continual expansion of the role of the school into new areas, and changes in the prevailing cultural prefences of both local communities and the larger society continually impel school to innovate”.
Artinya, keberadaan para pendaftar, perubahan yang cepat dalam teknologi dan pengetahuan tentang proses pengajaran dan pembelajaran, keberlangsungan ekspansi dari peranan sekolah ke dalam era baru, serta perubahan dalam kebudayaan masyarakat tentang komunitas lokal dan komunitas lebih luas secara berkelanjutan merasuki sekolah untuk melakukan inovasi.
Akhirnya perlu ditegaskan bahwa kata inovasi seringkali dikaitkan dengan perubahan, tetapi tidak setiap perubahan dapat dikategorikan sebagai inovasi. Rogers (1983, hlm. 11) memberikan batasan yang dimaksud dengan inovasi adalah “suatu gagasan, praktik, atau obyek benda yang dipandang baru oleh seseorang atau kelompok adopter lain”. Kata “baru” tersebut bersifat sangat relatif, bisa karena seseorang baru mengetahui, atau bisa juga karena baru mau menerima meskipun sudah lama tahu.
Lebih lanjut Rogers (1983, hlm. 12-16) mengemukakan karakteristik yang dikandung oleh suatu inovasi mencakup:
1. Adanya keunggulan relatif, sejauh mana inovasi dianggap lebih baik dari gagasan sebelumnya. Biasanya tolak ukurnya adalah faktor ekonomi, sosial, kepuasan, dan kenyamanan.
2. Kesesuaian; merujuk kepada bagaimana suatu inovasi dipandang konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman yang lalu, dan sejauh mana dapat mengatasi kebutuhan calon penerima (adopter).
3. Kompleksitas; hal ini berkenaan dengan tingkat kesulitan suatu inovasi untuk dilaksanakan dibandingkan dengan kegunaannya. Apakah inovasi tersebut gagasannya sederhana atau sulit untuk dipahami, dan apakah tingkat kesulitan tersebut seimbang dengan kegunaannya.
4. Trialabilitas; aspek ini berkaitan dengan bagaimana tingkat ketercobaannya. Apakah inovasi tersebut mudah untuk diujicobakan.
5. Observabilitas; merujuk kepada bagaimana manfaat (hasil) inovasi dapat dilihat oleh masyarakat terutama masyarakat sasaran.
Berdasar batasan dan penjelasan Rogers tersebut, dapat dikatakan bahwa munculnya inovasi karena ada permasalahan yang harus diatasi, dan upaya mengatasi permasalahan tersebut melalui inovasi. Inovasi ini harus merupakan hasil pemikiran yang original, kreatif, dan tidak konvensional. Penerapannya harus praktis yang di dalamnya terdapat unsur-unsur kenyamanan dan kemudahan. Semua ini dimunculkan sebagai suatu upaya untuk memperbaiki situasi/keadaan yang berhadapan dengan permasalahan.
Hamzah B. Uno (2006, hlm. 3) menjelaskan bahwa “sekarang ini telah terjadi perubahan paradigma dalam menata manajemen pemerintahan, termasuk di dalamnya menata manajemen pendidikan”. Di dalam manajemen pemerintahan, salah satu aspek yang amat menonjol yang dapat dijadikan indikator apakah manajemen pemerintahan tersebut dijalankan secara otoriter atau demokratis, dilihat sampai seberapa jauh fokus kekuasaan tersebut diaplikasikan. Di sisi lain, indikator peran rakyat atau masyarakat juga ikut menentukan tentang demokratisasi manajemen pemerintahan. Kekuasaan dan peran masyarakat amat menentukan corak dan demokrasi atau pelaksanaan sistem desentralisasi.
Sementara di dalam manajemen pendidikan, menurut Hamzah B. Uno (2006, hlm. 3) “perlu dilihat seberapa jauh pembuatan kebijakan pendidikan tersebut tersentralisasi atau terdesentralisasi”. Demikian juga kita harus mengamati seberapa jauh masyarakat terlibat dan ikut berperan dalam proses pengelolaan pendidikan. Berperannya masyarakat dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengontrol pelaksanaan pendidikan.
Menurut Sudarwan Danim (2006, hlm. 78) pendidikan nasional harus mampu menghasilkan tiga kemampuan sekaligus, yaitu:
Pertama; kemampuan melahirkan manusia yang dapat memberikan sumbangan terhadap pembangunan nasional. Kedua; kemampuan untuk menghasilkan kemampuan yang dapat mengapresiasi, menikmati, dan memelihara hasil-hasil pembangunan itu. Ketiga; kemampuan melahirkan proses pemanusiaan dan kemanusiaan secara terus menerus, menuju bangsa yang adil dan bijak, lagi cerdas dalam makna pertumbuhan dan perkembangan, pembangunan mansyaratkan kemampuan SDM untuk membangun, memelihara, dan menyikapi secara positif hasil pembangunan. Termasuk di dalamnya adalah rasa memiliki inventaris publik dan private serta sumber-sumber lingkungan hidup, lingkungan fisik, dan non fisik”.
Dasar-dasar pengembangan manusia unggul, bermoral, dan pekerja keras diberikan di sekolah. Selanjutnya, pengembangan berlangsung di masyarakat dan lingkungan-lingkungan pekerjaan. Sekolah tidak mampu mencetak menjadi manusia-manusia tersebut, tetapi memberikan landasan, dasar-dasar, dan embrionya untuk dikembangkan lebih lanjut. Pengembangan manusia-manusia unggul, bermoral, dan pekerja keras berlangsung dalam proses yang lama, hampir sepanjang hayat, tetapi dasar-dasarnya diberikan dan dikembangkan dalam proses pendidikan terutama di sekolah. Artinya, diperlukan manusia-manusia dengan pribadi inovatif untuk perubahan sosial dalam masyarakat modern. Karena pribadi yang inovatif pula yang akan menghasilkan berbagai tindakan inovasi baik secara individual, maupun secara organisasi sehingga menghasilkan keuntungan dan kemajuan bersama dalam bangsa yang kuat. Hagen (dalam Tilaar, 2012, hlm. 390) menyatakan bahwa pribadi inovatif memiliki ciri sebagaimana pada tabel berikut:
Sikap
Masyarakat Tradisional: Pribadi Otoriter
Masyarakat Modern:
Pribadi Inovatif
Terhadap realitas
Menyesuaikan diri kepada pola kehidupan yang telah ditentukan oleh tradisi dan kekuasaan yang dilegitimasikan oleh sifatnya yang abadi dari sumber yang super natural.
Sikap menyelidiki dan manipulatif terhadap realitas, ngotot mencari sebab-sebab yang regular yang mendasari gejala sosial dalam rangka untuk mempengaruhi dan mengontrol gejala tersebut.
Persepsi terhadap peranan dalam masyarakat
Kepatuhan tanpa syarat dan penyerahan diri secara total, sikap konformitas, dan mengelak dari tanggung jawab dan tuntutan kemandirian.
Mengambil tanggung jawab pribadi terhadap kekurangan-kekurangan yang terjadi dan sejalan dengan itu mencari solusi terbaik.
Gaya kepemimpinan
Kaku dan otoriter menuntut ekspektasi tinggi dari bawahan dan memberi sanksi yang berat.
Keterbukaan dan toleransi terhadap bawahan dalam rangka menganjurkan orisinilitas dan sikap serta tindakan inovatif.
Tingkat kreativitas dan inovasi
Ketiadaan kreativitas dan kehampaan inovasi.
Memberi penghargaan pada keaslian dan kebaruan serta memotivasi rasa ingin tahu yang terus menerus.

Untuk menciptakan pribadi-pribadi yang kreatif dan inovatif, maka diperlukan pendidikan yang berbasis pada transformatif sosial. Karena melalui pendidikan yang berfokus pada transformatif sosial, dapat diharapkan muncul sumber daya manusia yang menjadi pemimpin dan anggota masyarakat yang kreatif dan inovatif. Untuk itu, pendidikan juga memiliki alasan yang kuat untuk dikelola dengan berbagai inovasi, sehingga menghasilkan tindakan yang inovatif untuk memajukan kebudayaan agar mendatangkan keuntungan bagi semua pihak dan bangsa.
Maka, dapat disimpulkan bahwa pentingnya inovasi dalam pendidikan paling tidak berakar  pada empat alasan, yakni pertama; upaya memecahkan masalah-masalah praktik pendidikan supaya dapat berjalan sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan, kedua; memberikan kepuasan kepada stakeholder pendidikan, sehingga mendatangkan keuntungan dan kemajuan, ketiga; pentingnya menyediakan pendidikan yang bermutu dan penyelenggaraan yang akuntabel, keempat; pentingnya pendidikan mengantisipasi perubahan eksternal sehingga memberikan daya saing dan keunggulan bangsa di tengah pergaulan dunia global.

Referensi
Danim, S. (2006). Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rogers, E. M. (1983). Diffusion of Innovations. London: The Free Press.
Rosenblum, Sheila, & Louis (1981). Stability and Change: Innovation in an Educational Context. New York: Plenum Press.
Sukmadinata, Syaodih, N., dkk. (2006). Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah. Bandung: Aditama.
Uno, H. B. (2006). Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Wijaya, C., dkk. (1992). Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon