Sunday, 4 June 2017

Sikap Ilmiah



Sikap Ilmiah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Sikap Ilmiah

Sikap ilmiah merupakan sikap atau tindakan yang harus muncul dari diri siswa yang dilandasi oleh pengalaman dan wawasan dalam berinteraksi dengan fenomena-fenomena yang baru, seperti sikap seorang ilmuan dalam melakukan penelitian untuk mendapat suatu pengetahuan. Pada dasarnya sikap ilmiah merupakan keyakinan, opini, dan nilai-nilai yang harus dipertahankan oleh seseorang ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru.
Sikap merupakan tingkah laku yang bersifat umum yang menyebar di seluruh hal yang dilakukan siswa. “Sikap juga merupakan salah satu aspek yang berpengaruh pada hasil belajar siswa” (Azwar, 2009, hlm. 106).
Brotowidjoyo (1985, hlm. 33-34) menyatakan bahwa orang yang berjiwa ilmiah adalah orang yang memiliki tujuh macam sikap ilmiah, yaitu:
1. Sikap ingin tahu.
2. Sikap kritis.
3. Sikap terbuka.
4. Sikap obyektif.
5. Sikap rela menghargai karya orang lain.
6. Sikap berani mempertahankan kebenaran
7. Sikap menjangkau ke depan
Selanjutnya, beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Brotowijdoyo (1985, hlm. 31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, sebagai berikut:
1. Sikap ingin tahu, artinya apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya, maka ia berusaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah.
2. Sikap kritis, artinya tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat; kebiasaan menggunakan bukti-bukti pada waktu menarik kesimpulan; tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain; bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
3. Sikap obyektif, artinya melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek tersebut; menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri; mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subyek.
4. Sikap ingin menemukan, artinya selalu memberikan saran-saran untuk eksperimen baru; kebiasaan menggunakan eksperimen-eksperimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukan.
5. Sikap menghargai orang lain, artinya tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya; menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang lain atau bangsa lain.
6. Sikap tekun, artinya tidak bosan mengadakan penyelidikan; bersedia mengulangi eksperimen yang hasilnya meragukan; tidak akan berhenti melakukan kegiatan-kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahui ia berusaha bekerja dengan teliti.
7. Sikap terbuka, artinya bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahui; terbuka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapat orang lain.
Menurut Harlen (dalam Maulise, 2010, hlm. 2) “sikap ilmiah mengandung dua makna, yaitu attitude toward science dan attitude of science”. Sikap yang pertama mengacu pada sikap terhadap sains sedangkan sikap yang kedua mengacu pada sikap yang melekat setelah mempelajari sains. Maka, apabila seseorang memiliki sikap tertentu, orang tersebut cenderung berperilaku secara konsisten pada setiap keadaan.
Pengelompokkan sikap ilmiah oleh para ahli cukup bervariasi, variasi tersebut muncul hanya dalam penempatan dan penanaman sikap ilimiah yang ditonjolkan. Pengelompokkan tersebut disajikan pada tabel berikut:
Gegga (1977)
Harlen (1996)
AAAS (1993)
Sikap ingin tahu (curiosity)
Sikap penemuan (inventiveness)
Sikap berpikir kritis (critical thinking)
Sikap teguh pendirian (persistence)
Sikap ingin tahu (curiosity)
Sikap respek terhadap data (respect for evidence)
Sikap refleksi kritis (critical reflection)
Sikap ketekunan (perseverance)
Sikap kreatif dan penemuan (creativity and inventiveness)
Sikap berpikiran terbuka (open mindedness)
Sikap bekerjasama dengan orang lain (co-operation with other)
Sikap keinginan menerima ketidakpastian (willingness to tolerate uncetaintly)
Sikap sensitif terhadap lingkungan (sensitivity to envireonment)
Sikap jujur (honesty)
Sikap ingin tahu (curiosity)
Sikap berpikiran terbuka (open minded)
Sikap keraguan (skepticism)

Pengukuran sikap ilmiah siswa sekolah dasar didasarkan pada pengelompokkan sikap sebagai dimensi sikap. Selanjutnya, dikembangkan indikator-indikator sikap untuk setiap dimensi sehingga memudahkan menyusun butir instrumen sikap ilmiah. Adapun penelompokkan dimensi sikap yang dikembangkan Harlen (1996) disajikan pada tabel berikut:
Dimensi
Indikator
Sikap ingin tahu
Antusias mencari jawaban.
Perhatian pada obyek yang diamati.
Antusias pada proses sains.
Menanyakan setiap langkah kegiatan.
Sikap respek terhadap data
Obyektif/jujur.
Tidak memanipulasi data.
Tidak purbasangka.
Mengambil keputusan sesuai fakta.
Tidak mencampur fakta dengan pendapat.
Sikap refleksi kritis
Meragukan temuan teman.
Menanyakan setiap perubahan/hal baru.
Mengulangi kegiatan yang dilakukan.
Tidak mengabaikan data meskipun kecil.
Sikap ketekunan
Melanjutkan meneliti setelah kebaharuannya hilang.
Mengulangi percobaan meskipun berakibat kegagalan.
Melengkapi satu kegiatan meskipun teman sekelasnya selesai lebih awal.
Sikap kreatif dan penemuan
Menggunakan fakta-fakta untuk dasar konklusi.
Menunjukkan laporan berbeda dengan teman kelas.
Merubah pendapat dalam merespon terhadap fakta.
Menggunakan alat tidak seperti biasanya.
Menyarankan percobaan-percobaan baru.
Menguraikan konklusi baru dari hasil pengamatan.
Sikap berpikiran terbuka dan bekerja sama dengan orang lain
Menghargai pendapat/temuan orang lain.
Mau merubah pendapat jika data kurang.
Menerima saran dari teman.
Tidak merasa selalu benar.
Menganggap setiap kesimpulan adalah tentatif.
Berpartisipasi aktif dalam kelompok.
Sikap sensitif terhadap lingkungan sekitar
Perhatian terhadap peristiwa sekitar.
Partisipasi pada kegiatan sosial.
Menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

Referensi
Azwar, S. (2009). Sikap Manusia, Teori, dan Pengukurannya. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Brotowidjoyo, M. (1985). Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: PT Melton Putra.
Maulise, S. (2010). Dasar-dasar Pendidikan. Jambi: Universitas Jambi.


EmoticonEmoticon