Sunday, 30 July 2017

Gatrik



Gatrik
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Gatrik pada masanya sempat menjadi permainan yang populer di Indonesia. Gatrik merupakan salah satu permainan tradisional zaman dahulu yang dimainkan oleh anak-anak secara berkelompok. Tiap kelompok terdiri atas 2 orang sampai 4 orang. Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupai tongkat berukuran panjang dan lainnya yang berukuran lebih kecil.

Gatrik

Gatrik
Permainan Gatrik

Potongan bambu yang kecil ditaruh di antara dua batu lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengena/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir, setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan pada saat dimulai. Semakin jauh, maka semakin lelah kelompok lewan untuk menggendong.
Permainan tradisional gatrik menggunakan alat bantu berupa potongan kayu atau bambu, potongan panjang sebagai pemukul berukuran kurang lebih 30 cm dan potongan pendek berukuran kurang lebih 10 cm. Wok merupakan lubang tanah buatan yang dibentuk untuk menjalankan permainan ini. Pada permainan gatrik, wok berbentuk garis pendek sekitar 5-10 cm. Wok juga dapat digantikan dengan menyusun batu sandaran potongan pendek.

Gatrik
Alat Permainan Gatrik

Permainan diawali dengan pembuatan dua kelompok. Lalu, seperti pada umumnya permainan tradisional, yakni suit atau melemparkan kayu gatrik pendek ke wok. Siapa yang masuk atau paling dekat dengan wok main duluan, sementara kelompok yang lain menjadi penjaga.
Terdapat tiga babak permainan. Pertama adalah menyilangkan gatrik pendek di atas wok dan siap dilempar dengan gatrik panjang. Tugas lawan adalah menjaga lemparan gatrik pendek, sebisa mungkin untuk ditangkap agar dia bisa bermain gatrik. Jika tidak bisa menangkap, masih ada satu kesempatan lagi dengan melemparkan gatrik pendek ke gatrik panjang. Bila kena, kelompok penjaga ganti memainkan gatrik. Jarak antara penjaga dan pemukul sekitar kurang lebih 10 m.
Bila masih kalah, maka masuk babak kedua. Gatrik panjang dan pendek dipegang oleh pemain gatrik dan gatrik pendek dipukul keras-keras dengan gatrik panjang. Gatrik pendek akan terlempar dan penjaga bersiap menangkap. Apabila tertangkap, ia mendapat nilai yang telah disepakati dan mempunyai peluang untuk bermain gatrik. Apabila tidak, ia melemparkan gatrik pendek sebisa mungkin mendekati wok, agar pemain gatrik tidak mempunyai jarak per-getrik pendek untuk mendapatkan nilai.
Babak terakhir adalah apa yang disebut gepok lele, yakni menaruh gatrik pendek sejajar dengan wok, dipukul bagian ujung hingga terlempar naik, lalu segera dipukul lebih keras lagi ke depan. Penjaga tetap bertugas menangkap gatrik pendek. Bila tidak tertangkap, pemain gatrik tinggal menghitung jarak pukulan yang dihasilkan antara gatrik pendek dengan wok.
Jarak yang diukur dengan gatrik pendek itu menjadi nilai pemain yang menentukan kemenangannya bermain gatrik. Setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patongan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke tempat wok tadi. Makin jauh, maka makin enak lelah kelompok lawan untuk menggendong. Cara dan peraturan bermain gatrik ini di setiap daerah bisa berbeda-beda.
Gatrik merupakan permainan tradisional dari Jawa Barat yang melatih ketangkasan, selain menuntut keterampilan memukul bambu permainan gatrik ini melatih kelincahan dan kecepatan. Pemain harus berhati-hati saat memainkannya karena harus fokus semakin kencang gatrik meluncur, tim penangkap harus sigap menangkap kayu dan terhindar dari cedera terkena kayu. Permainan ini pun bermanfaat selain mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan, permainan ini juga melatih anak untuk berjiwa besar ketika menerima kekalahan.
Bermain gatrik juga melatih kerja sama, ketangkasan, strategi, kejujuran untuk mengikuti aturan permainan, dan melatih untuk saling menghormati lawan main. Filosofi yang terkandung dalam permainan ini bertujuan melatih jiwa sportifitas dan berkompetisi secara jujur, terampil, dan cekatan yang harus dinamkan sejak kecil.


EmoticonEmoticon