Thursday, 20 July 2017

Hakikat Bullying di Lingkungan Sekolah



Hakikat Bullying di Lingkungan Sekolah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Hakikat Bullying di Lingkungan Sekolah
Bullying berasal dari kata bully, yaitu kata yang mengacu pada pengertian adanya ancaman yang dilakukan seseorang terhadap orang lain yang menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya berupa stress yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau psikis, atau kedaunya. John W. Santrock (2007, hlm. 213) “bullying dapat didefinisikan sebagai perilaku verbal dan fisik yang dimaksudkan untuk mengganggu seseorang yang lebih lemah”. Sedangkan menurut Ken Rigby (dalam Ponny Retno Astuti, 2008, hlm. 3) bullying adalah “sebuah hasrat untuk menyakiti orang lain. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan senang”. Komisi Nasional Perlindungan Anak (dalam Fitria Chakrawati, 2015, hlm. 11) mendefinisikan bullying merupakan “kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri”. Fitrian Saifullah (2016, hlm. 204) menyatakan bahwa “bullying adalah tindakan yang dilakukan seseorang secara sengaja membuat orang lain takut atau terancam sehingga menyebabkan korban merasa takut, terancam, atau setidak-tidaknya tidak bahagia”.
Berdasarkan sejumlah definisi tersebut, dapat ditarik garis besar bahwa bullying merupakan perilaku menyimpang yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang lebih kuat terhadap orang yang lemah dengan tujuan untuk mengancam, menakuti, atau membuat korbannya tidak bahagia.
Bullying termasuk ke dalam perilaku menyimpang. Menurut James W. Van der Zanden (dalam Jokie M. S. Siahaan, 2010, hlm. 6.3) “perilaku menyimpang pada masyarakat dapat disebabkan sejumlah faktor. Pertama, kelonggaran aturan dan norma yang berlaku di wilayah tersebut. Kedua, sosialisasi yang kurang sempurna sehingga sosialisasi yang terjadi cenderung kepada subkebudayaan yang menyimpang”. Menurut Nissa Adila (2009, hlm. 57-58)
bullying termasuk ke dalam kekerasan yang bersifat psikologis, karena secara tidak langsung bullying mempengaruhi mental orang yang di bully. Bullying merupakan aktivitas sadar, disengaja, dan bertujuan untuk melalui ancaman agresi lebih lanjut, dan menciptakan teror yang disadari oleh ketidakseimbangan kekuatan, niat untuk mencederai, ancaman agresi lebih lanjut, yang dapat terjadi jika penindasan meningkat tanpa henti. Bullying juga dikategorikan sebagai perilaku antisosial atau misconduct behavior dengan menyalahgunakan kekuatannya kepada korban yang lemah, secara individu atau kelompok, dan biasanya terjadi berulang kali. Bullying dikatakan sebagai salah satu bentuk delinkuensi (kenalakan anak), karena perilaku tersebut melanggar norma masyarakat, dan dapat dikenai hukuman oleh lembaga hukum”.
Bullying merupakan perilaku yang disengaja untuk menyakiti atau melukai korbannya baik secara jasmani dan rohani. Menurut Sullivan (dalam Ponny Retno Astuti, 2008, hlm. 22), menggolongkan dua bentuk bullying, sebagai berikut:
1. Fisik, contohnya menggigit, menarik rambut, memukul, menendang, dan mengintimidasi korban di ruangan atau dengan mengitari, memelintir, menonjok, mendorong, mencakar, meludahi, dan merusak kepemilikan korban, penggunaan senjata tajam dan perbuatan kriminal.
2. Non-fisik, terbagi menjadi:
a. Verbal, contohnya adalah panggilan telepon yang meledek, pemalakan, pemerasan, mengancam, menghasut, berkata jorok, berkata menekan, dan menyebarluaskan kejelekan korban.
b. Non verbal, terbagi menjadi:
1) Tidak langsung, contohnya manipulasi pertemanan, mengasingkan, tidak mengikutsertakan, mengirim pesan menghasut, dan curang.
2) Langsung, contohnya melalui gerakan tangan, kaki, atau anggota badan lainnya dengan cara kasar, menatap dengan tajam, menggeram, hentakan mengecam, atau menakuti.
Adapun menurut Bauman (dalam Fitrian Saifullah, 2016, hlm. 205) tipe-tipe bullying, sebagai berikut:
1. Overt bullying atau intimidasi terbuka yang meliputi bullying secara fisik dan secara verbal, misalnya dengan mendorong sampai jatuh, mendorong dengan kasar, mengancam, dan mengejek dengan tujuan untuk menyakiti.
2. Indirect bullying atau intimidasi tidak langsung yang meliputi agresi relasional, di mana pelaku bermaksud untuk menghancurkan hubungan yang dimiliki oleh korban dengan orang lain, termasuk upaya pengucilan, menyebarkan gosip, dan meminta pujian atas perbuatan tertentu dalam kompetensi persahabatan.
3. Cyberbullying atau intimidasi dunia maya. Cyberbullying melibatkan penggunaan e-mail, telepon, sms, website, atau media sosial untuk menghancurkan reputasi seseorang.
Menurut Vincent N. Parillo (2008, hlm. 98) pelaku bullying memiliki ciri-ciri “the psychological profile of bullies a suggest that they suffer from low self-esteem and a poor self-image”. Artinya, pelaku bullying memiliki harga diri yang rendah serta citra diri yang buruk. Selanjutnya Vincent N. Parillo (2008, hlm. 98) mengatakan bahwa “...in comparison to their peers, bullies posses a value system that supports the use of aggression to resolve problems and achieve goals”. Artinya, pelaku bullying telah memiliki peran dan pengaruh penting di kalangan teman-temannya di sekolah. Biasanya ia telah memiliki sistem sendiri untuk menyelesaikan masalahnya di sekolah. Secara fisik para pelaku bullying tidak hanya didominasi oleh anak yang berbadan besar dan kuat, anak bertubuh kecil maupun sedang yang memiliki dominasi besar secara psikologis di kalangan teman-temannya juga dapat menjadi pelaku bullying. “Alasan utama seseorang menjadi pelaku bullying adalah karena para pelaku bullying merasakan kepuasan tersendiri apabila ia berkuasa di kalangan teman sebayanya” (Andi Halimah, dkk., 2015, hlm. 131).
Vincent N. Parillo (2008, hlm. 99) menyebutkan ciri-ciri korban bullying yakni “victims are typically shy, socially awkward, low in self-esteem, and lacking in self-confidence. Futhermore, these characteristic reduce the victims sosial resources and limit the number of friends they have”. Artinya, korban bullying biasanya pemalu, canggung, rendah harga diri, dan kurang percaya diri. Akibatnya, mereka sulit bersosialisasi dan tidak mempunyai banyak teman. Selanjutnya Vincent N. Parillo (2008, hlm. 99) menyebutkan “...they are also less likely to report the behavior to an authority figure”. Artinya, kemungkinan para korban juga tidak berani untuk melapor atas kejadian yang mereka alami. Rigby (dalam Andi Halimah, dkk., 2015, hlm. 131) mengemukakan bahwa “anak yang menjadi korban bullying akan merasa terganggu secara psikologis dan sering mengeluh sakit di bagian tertentu seperti kepala, lutut, kaki, atau bahu”.
Ciri pelaku bullying menurut Ponny Retno Astuti (2008, hlm. 55), antara lain:
1. Hidup berkelompok dan menguasai kehidupan sosial siswa di sekolah.
2. Menempatkan diri di tempat tertentu di sekolah dan sekitarnya.
3. Seseorang yang populer di sekolah.
4. Gerak-geriknya sering kali dapat ditandai, seperti sering berjalan di depan, sengaja menabrak, berkata kasar, menyepelekan, atau melecehkan.
Adapun ciri korban bullying menurut Ponny Retno Astuti (2008, hlm. 55), antara lain:
1. Pemalu, pendiam, dan penyendiri.
2. Bodoh atau dungu.
3. Mendadak menjadi penyendiri atau pendiam.
4. Sering tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak jelas.
5. Berperilaku aneh atau tidak biasa (marah tanpa sebab, mencoret-coret, dan lain-lain).
Terdapat sejumlah faktor yang menjadi sebab timbulnya bullying, di antaranya:
1. Keluarga
“Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap orang tua yang terlalu berlebihan dalam melindungi anaknya, membuat mereka rentan terkena bullying” (Masdin, 2013, hlm. 79). Pola hidup orang tua yang berantakan, terjadinya perceraian orang tua, orang tua yang tidak stabil perasaan dan pikirannya, orang tua yang saling mencaci maki, menghina, bertengkar dihadapan anak-anaknya, bermusuhan, dan tidak pernah akur, memicu terjadinya depresi dan stress bagi anak. Menurut Irvan Usman (2013, hlm. 51) “seorang remaja yang tumbuh dalam keluarga yang menerapkan pola komunikasi negatif seperti sarcasm (sindiran tajam) akan cenderung meniru kebiasaan tersebut dalam kesehariannya”. Bentuk komunikasi ini terbawa dalam pergaulan sehari-hari, akibatnya remaja akan dengan mudah berkata sindiran yang tajam disertai dengan kata kotor dan kasar. Hal ini dapat memicu anak menjadi berperilaku bully, sebab anak dan remaja tersebut terbiasa berada lingkungan keluarga yang kasar.
2. Sekolah
Secara umum, sekolah menjadi tempat untuk menumbuhkan akhlak dan budi pekerti yang baik. Namun, sekolah dapat menjadi tempat yang rawan karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya peserta didik dari berbagai macam karakter. Biasanya bullying antar peserta didik terjadi di sekolah. Hal ini terjadi secara turun menurun karena berbagai alasan. “Bullying dapat terjadi di sekolah jika pengawasan dan bimbingan etika dari para guru rendah, sekolah dengan kedisiplinan yang sangat kaku, bimbingan yang tidak layak, dan peraturan yang tidak konsisten” (Levianti, 2008, hlm. 6). Siswa juga cenderung tidak melaporkan kasus bullying ke guru atau orang tua. Siswa cenderung menutup-nutupi hal tersebut dan menyelesaikannya dengan teman sepermainan di sekolah untuk mencerminkan kemandirian.
3. Media massa
Saripah mengutip survey yang dilakukan Kompas (dalam Masdin, 2013, hlm. 80) yang memaparkan bahwa “56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditotonnya, umumnya mereka meniru gerakan (64%) dan kata-kata (43%)”. Hal ini dapat menciptakan perilaku anak yang keras dan kasar yang selanjutnya memicu terjadi bullying yang dilakukan oleh anak-anak terhadap teman-temannya di sekolah.
4. Budaya
Menurut Masdin (2013, hlm. 80) “faktor kriminal budaya menjadi salah satu penyebab munculnya perilaku bullying”. “Suasana politik yang kacau, perekonomian yang tidak menentu, prasangka dan diskriminasi, konflik dalam masyarakat, dan ethosentrisme” (Abu Ahmadi, 2009, hlm. 270), hal ini dapat mendorong anak-anak dan remaja menjadi seorang yang depresi, stress, arogan, dan kasar.
5. Peer group atau teman sebaya
Kelompok teman sebaya yang memiliki masalah di sekolah akan memberikan dampak yang buruk bagi teman-teman lainnya seperti berperilaku dan berkata kasar terhadap guru atau sesama teman dan membolos. Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis oleh Dara Agnis Septiyuni, Dasim Budimansyah, dan Wilodati (2014, hlm. 3) “ditemukan fakta bahwa kelompok teman sebaya menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya bullying”. Anak-anak ketika berinteraksi di sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Sejumlah anak melakukan bullying hanya untuk membuktikan kepada teman sebayanya agar diterima dalam kelompok tersebut, walaupun sebenarnya mereka tidak nyaman dalam melakukan hal tersebut.

Referensi
Adila, N. (2009). Pengaruh Kontrol Sosial terhadap Perilaku Bullying Pelajar di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Kriminologi, 5 (1), hlm. 57-58.
Ahmadi, A. (2009). Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Astuti, P. R. (2008). Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Mengatasi Kekerasan pada Anak. Jakarta: UI Press.
Chakrawati, F. (2015). Bullying, Siapa Takut?. Solo: Tiga Ananda.
Halimah, A., dkk. (2015). Persepsi pada Bystander terhadap Intensitas Bullying pada Siswa SMP. Jurnal Psikologi, 42 (2), hlm. 131.
Levianti (2008). Konformitas dan Bullying pada Siswa. Jurnal Psikologi, 6 (1), hlm. 6.
Masdin (2013). Fenomena Bullying dalam Pendidikan. Jurnal Al-Ta’dib, 6 (2), hlm. 79-80.
Parillo, V. N. (2008). Encyclopedia of Social Problems. New York: Sage Publication Inc.
Saifullah, F. (2016). Hubungan Antara Konsep Diri dengan Bullying pada Siswa-siswi SMP (SMP Negeri 16 Samarinda). eJournal Psikologi, hlm. 204.
Santrock, J. W. (2007). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Septiyuni, D. A., Budimansyah, D., & Wilodati (2014). Pengaruh Kelompok Teman Sebaya (Peer Group) terhadap Perilaku Bullying Siswa di Sekolah. Jurnal Sosietas, 5 (1), hlm. 3.
Siahaan, J. M. S. (2010). Sosiologi Perilaku Menyimpang. Jakarta: Universitas Terbuka.
Usman, I. (2013). Kepribadian, Komunikasi, Kelompok Teman Sebaya, Iklim Sekolah, dan Perilaku Bullying. Humanitas, 10 (1), hlm. 51.


EmoticonEmoticon