Tuesday, 18 July 2017

Karakteristik Anak Tunagrahita



Karakteristik Anak Tunagrahita
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Karakteristik Anak Tunagrahita

Sejumlah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang memiliki kondisi kecerdasan di bawah rata-rata, dalam bahasa Indonesia pernah digunakan istilah lemah otak, lemah ingatan, dan lemah psikis. Seiring berkembangnya Pendidikan Luar Biasa (PLB) istilah ini berganti menjadi tunagrahita. Tunagrahita berasal dari kata bahasa Jawa tuno yang berarti rugi dan nggrahita yang berarti tidak berpikir sampai seperti itu, maka tunagrahita dapat diartikan kurang daya pikir.
Tunagrahita “dalam kepustakaan bahasa asing dikenal juga dengan istilah mental retardation, mentally reterded, mental deficiency, dan mental defective” (Sutjihati Somantri, 2007, hlm. 103). Menurut Grossman (dalam Wardani, 1996, hlm. 6.21) “anak tunagrahita adalah anak yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) secara signifikan berada di bawah rata-rata (normal) yang disertai dengan ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan semua ini berlangsung pada masa perkembangan”. Menurut World Health Organization (WHO) (dalam Moh. Amin, 1995, hlm. 19) anak tunagrahita memiliki dua komponen esensial, yakni “fungsi intelektual secara nyata berada di bawah rata-rata dan adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan dengan norma yang berlaku di masyarakat”. Sejalan dengan pengertian tersebut Asian Federation on Mental Retardation (AFMR) (dalam Wardani, 1996, hlm. 6.5) menegaskan bahwa seseorang yang dikategorikan tunagrahita “harus melebihi komponen keadaan kecerasannya yang jelas-jelas di bawah rata-rata, adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tuntutan yang berlaku di masyarakat”.
Berdasar sejumlah pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan tunagrahita apabila kecerdasannya di bawah rata-rata. Terhambat dalam belajar dan penyesuaian sosial, serta memerlukan pendidikan khusus.
Menurut Sutjihati Somantri (2007, hlm. 106) bahwa “kemampuan intelegensi anak tunagrahita kebanyakan diukur dengan tes Stanford Binet dan Skala Weschler (WISC)”. Klasifikasi anak tunagrahita dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Tunagrahita ringan
Tunagrahita ringan disebut juga maron atau debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet. Menurut Skala Weschler (WISC) anak tunagrahita ringan merupakan salah satu klasifikasi anak tunagrahita yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) 69-55. Sutjihati Somantri (2007, hlm. 106) menyatakan bahwa anak tunagrahita “masih dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana sampai tingkat tertentu”. Biasanya hanya sampai pada kelas IV Sekolah Dasar (SD). Melalui bimbingan dan pendidikan yang baik, anak terbelakang mental ringan pada saatnya dapat memperoleh penghasilan untuk dirinya sendiri.
Anak tunagrahita ringan dapat dididik menjadi tenaga kerja semi-skilled seperti pekerjaan laundry, pertanian, peternakan, pekerjaan rumah tangga, bahkan jika dilatih dan bimbingan dengan baik, anak tunagrahita ringan dapat bekerja di pabrik-pabrik dengan sedikit pengawasan. Namun, anak tunagrahita ringan tidak mampu melakukan penyesuaian sosial secara independen, tidak bisa merencanakan masa, dan bahkan suka berbuat kesalahan.
Pada umumnya anak tunagrahita ringan tidak mengalami gangguan fisik. Mereka secara fisik tampak seperti anak normal pada umumnya. Untuk itu, agak sukar membedakan secara fisik antara anak tunagrahita dengan anak normal.
2. Tunagrahita sedang
Anak tunagrahita sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 51-36 menurut Skala Binet dan 54-40 menurut Skala Weschler (WICS). “Anak tunagrahita sedang dapat mencapai perkembangan sampai kurang lebih 7 tahun” (Sutjihati Somantri, 2007, hlm. 108). Menurut Nunung Apriyanto (2012, hlm. 32) anak tunagrahita “dapat mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya seperti menghindari kebakaran, berjalan di jalan raya, berlindung dari hujan, dan sebagainya”.
Anak tunagrahita sedang sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti menulis, membaca, dan berhitung, walaupun mereka masih dapat menulis secara sosial, misalnya menulis namanya sendiri, alamat rumahnya, dan lain-lain. Anak tunagrahita sedang masih bisa dididik mengurus diri, seperti mandi, berpakaian, makan, minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya. Pada kehidupan sehari-hari, anak tunagrahita sedang membutuhkan pengawasan secara terus menerus. Mereka juga masih dapat bekerja di tempat kerja terlindung (sheltered workshop).
3. Tunagrahita berat
Anak tunagrahita berat sering disebut idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi antara anak tunagrahita berat dan sangat berat. Tunagrahita berat (severe) memiliki IQ antara 32-20 menurut Skala Binet dan antara 39-25 menurut Skala Weschler (WICS). Sedangkan tunagrahita sangat berat (profound) memiliki IQ di bawah 19 menurut Skala Binet dan IQ di bawah 24 menurut Skala Weschler (WICS). “Kemampuan mental maksimal yang dapat dicapai kurang dari tiga atau empat tahun” (Wardani, hlm. 1996, hlm. 6.22).
Anak tunagrahita berat memerlukan bantuan perawatan secara total dalam berpakaian, mandi, makan, dan lain-lain. “Bahkan mereka memerlukan perlindungan dari bahaya sepanjang hidupnya” (Nunung Apriyanto, 2012, hlm. 32).
Nunung Apriyanto (2012, hlm. 40) menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor seseorang menjadi tunagrahita, yakni:
1. Faktor keturunan
Faktor keturunan yang dapat menyebabkan anak tunagrahita, di antaranya kelainan pada koromosom, kelainan pada gonosom, dan kelainan pada genetik yang bermutasi.
2. Gangguan metabolisme gizi
Metabolisme dan gizi merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak. Kegagalan dalam metabolisme dan kegagalan dalam pemenuhan akan kebutuhan gizi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fisik maupun mental pada individu. Salah satunya tunagrahita.
3. Infeksi dan keracunan
Infeksi dan keracunan dapat menyebabkan ketunagrahitaan yang mana terjadi selama janin masih berada dalam kandungan ibu. Infeksi dan keracunan ini diakibatkan penyakit yang diderita oleh ibunya. Penyakit-penyakit tersebut di antaranya: rubella, syphilis bawaan, syndrome gravidity beracun, dan lain sebagainya.
4. Trauma dan zat radioaktif
Ketunagrahitaan juga dapat disebabkan terjadinya trauma pada beberapa bagian tubuh khususnya pada otak ketika bayi dilahirkan dan terkena radiasi zat radioaktif selama hamil.
5. Masalah pada kelahiran
Tunagrahita dapat juga disebabkan oleh masalah-masalah yang terjadi pada waktu kelahiran (perinatal), misalnya kelahiran yang disertai hypoxia dapat dipastikan bahwa bayi dilahirkan menderita kerusakan otak. Kerusakan otak pada masa perinatal dapat disebabkan oleh trauma mekanis terutama pada kelahiran yang sulit.
6. Faktor lingkungan (sosial budaya)
Berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap fungsi intelektual. Sejumlah pengalaman negatif atau kegagalan dalam melaksanakan interaksi yang terjadi selama periode perkembangan diduga dapat menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan.
Perkembangan fungsi intelektual anak tunagrahita yang rendah dan disertai dengan perkembangan perilaku adaptif yang rendah pula akan berakibat langsung pada kehidupan sehari-hari, sehingga banyak menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Menurut Rochyadi (dalam Nunung Apriyanto, 2012, hlm. 49) banyak masalah yang dihadapi anak tunagrahita, seperti:
1. Masalah belajar
Aktifitas belajar berhubungan langsung dengan kemampuan kecerdasan. Pada suatu kegiatan sekurang-kurangnya dibutuhkan kemampuan mengingat dan kemampuan memahami, serta kemampuan untuk mencari hubungan sebab akibat. Keadaan tersebut sulit dilakukan oleh anak tunagrahita karena mengalami kesulitan untuk berpikir secara abstrak, belajar apapun harus terkait dengan obyek yang bersifat konkret. Kondisi ini ada hubungannya dengan kelemahan ingatan jangka pendek, kelemahan dalam bernalar, dan sukar sekali dalam mengembangkan ide.
Berdasar masalah-masalah belajar yang dialami oleh anak tunagrahita tersebut, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran untuk anak tunagrahita, sebagai berikut:
a. Bahan yang diajarkan perlu dipecah-pecah menjadi bagian-bagian kecil dan ditata secara berurutan.
b. Setiap bagian dari bahan ajar diajarkan satu demi satu dan dilakukan secara berulang-ulang.
c. Kegiatan belajar hendaknya dilakukan dalam situasi yang konkrit.
d. Diberikan dorongan atau motivasi untuk melakukan apa yang sedang ia pelajari.
e. Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan menghindari kegiatan  belajar yang terlalu formal.
f. Gunakan alat peraga dalam mengkonkritkan konsep.
2. Masalah penyesuaian diri
Anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam memahami dan mengartikan norma lingkungan. Oleh karena itu, anak tunagrahita sering melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma lingkungan di mana mereka berada. Tingkah laku anak tunagrahita sering dianggap aneh oleh sebagian masyarakat karena tindakannya tidak lazim dilihat dari ukuran normatif atau karena tingkah lakunya tidak sesuai dengan perkembangan umurnya.
Keganjilan tingkah laku yang tidak sesuai dengan ukuran normatif lingkungan berkaitan dengan kesulitan memahami dan mengartikan norma, sedangkan keganjilan tingkah laku lainnya berkaitan dengan ketidaksesuaian antara perilaku yang ditampilkan dengan perkembangan usia.
3. Gangguan komunikasi
Terdapat dua hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan gangguan proses komunikasi, yakni:
a. Gangguan atau kesulitan bicara
Anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam mengartikulasikan bunyi bahasa dengan benar. Kenyataan ini menunjukkan bahwa anak tunagrahita mengalami gangguan bicara dibandingkan dengan anak normal.
b. Gangguan bahasa
Anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan kosakata serta kesulitan dalam memahami aturan sintaksis dari bahasa yang digunakan.
4. Masalah kepribadian
Anak tunagrahita memiliki ciri kerpribadian yang khas, berbeda dari anak-anak pada umumnya. Perbedaan ciri kepribadian ini berkaitan erat dengan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Kepribadian seseorang dibentuk oleh faktor organik seperti predisposisi genetik, disfungsi otak, dan faktor-faktor lingkungan, seperti pengalaman pada masa kecil dan lingkungan masyarakat secara umum.

Referensi
Amin, M. (1995). Ortopedagogik Anak Tunagrahita. Bandung: Departemen Pendidikan Nasional.
Apriyanto, N. (2012). Seluk-Beluk Tunagrahita dan Strategi Pembelajarannya. Yogyakarta: JAVALITERA.
Somantri, S. (2007). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT Refika Aditama.
Wardani (1996). Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Universitas Terbuka.


EmoticonEmoticon