Monday, 31 July 2017

Media Pembelajaran Booklet



Media Pembelajaran Booklet
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Booklet termasuk pada jenis media grafis yakni media gambar/foto. “Booklet merupakan media untuk menyampaikan pesan-pesan dalam bentuk buku, baik berupa tulisan maupun gambar” (Heri D. J. Maulana, 2009, hlm. 174). Hal ini sejalan dengan pendapat Ferry Efendi dan Makhfudli (2009, hlm. 112) yang menyatakan bahwa “booklet merupakan media yang berbentuk buku kecil yang berisi tulisan atau gambar atau keduanya”. Menurut Satmoko (2006, hlm. 2) “booklet adalah sebuah buku kecil yang memiliki paling sedikit lima halaman tetapi tidak lebih dari empat puluh delapan halaman di luar hitungan sampul”. Sedangkan menurut Roymond S. Simamora (2009, hlm. 71) “booklet adalah buku berukuran kecil dan tipis, tidak lebih dari 30 lembar bolak balik yang berisi tentang tulisan dan gambar-gambar”. Menurut Holmes (dalam Mintarti, 2001, hlm. 24) “booklet membuat lembaran-lembaran paling banyak 20 halaman dengan ukuran 20 x 30 cm yang dijilid dalam satu satuan, dengan berbagai visual, yakni: huruf, foto, gambar, garis, atau lukisan”.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut, disimpulkan bahwa booklet merupakan media berbentuk buku berukuran kecil yang memuat gambar dan tulisan. Istilah booklet berasal dari buku dan leaflet, artinya media booklet merupakan perpaduan antara buku dan leaflet. Booklet memiliki format (ukuran) yang kecil seperti leaflet, namun struktur isi booklet menyerupai buku (terdapat pendahuluan, isi, dan penutup), hanya saja cara penyajian isinya lebih ringkas dari pada buku.
Booklet umumnya digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, karena booklet memberikan informasi dengan spesifik dan banyak digunakan sebagai alternatif media untuk dipelajari setiap saat. Menurut Mintarti (2001, hlm. 26) “booklet sebagai media pembelajaran telah berhasil meningkatkan pengetahuan khalayak sasaran dalam bidang tertentu”. Booklet secara efektif mampu mengubah perilaku khalayak sasaran bukan sembarang bokklet. Semakin tinggi kemampuan booklet untuk merangsang terjadinya proses belajar pada diri khalayak sasaran melalui panca indera dan merubah perilaku, maka semakin efektif booklet tersebut. Booklet memuat berbagai lambang visual, huruf, gambar, kalimat, dan sebagainya, sehingga efektivitas booklet dapat dikingkatkan dengan merekayasa lambang-lambang visual yang ada tersebut. Berbagai rekayasa booklet dapat dilakukan dengan mengatur komposisi warna, tampilan gambar, besar dan jenis huruf, ketebalan, dan jenis kertas.
Unsur-unsur pada booklet tidak berbeda dari unsur-unsur yang terdapat pada buku. Menurut Sitepu (2012, hlm. 160) unsur-unsur atau bagian-bagian pokok yang secara fisik terdapat dalam buku, yaitu:
1. Kulit (cover) dan isi buku
Kulit buku (cover) terbuat dari kertas yang lebih tebal dari kertas isi buku, fungsi dari kulit buku adalah melindungi isi buku. Kulit buku terdiri atas kulit depan atau kulit muka, kulit punggung isi suatu buku apabila lebih dari 100 halaman dijilid dengan lem atau jahit benang tetapi jika buku kurang dari 100 halaman tidak menggunakan kulit punggung. Agar lebih menarik kulit buku didesain dengan menarik seperti pemberian ilustrasi yang sesuai dengan isi buku dan menggunakan nama.
2. Bagian depan (premlimunaries)
Bagian depan ini memuat halaman judul, halaman kosong, halaman judul utama, halaman daftar isi dan kata pengantar, setiap nomor halaman depan buku teks menggunakan angka Romawi kecil.
3. Bagian teks
Bagian teks memuat bahan yang akan disampaikan kepada siswa, terdiri atas judul bab dan sub judul, setiap bagian dan bab baru dibuat pada halaman berikutnya dan diberi nomor halaman yang diawali dengan angka 1.
4. Bagian belakang
Bagian belakang buku terdiri atas daftar pustaka, glosarium dan indeks, tetapi penggunaan glosarium dan indeks dalam buku hanya jika buku tersebut banyak menggunakan istilah atau frase yang memiliki arti khusus dan sering digunakan dalam buku tersebut.
Adapun secara lebih spesifik Prastowo (2014, hlm. 380) menyatakan bahwa dalam menyusun sebuah booklet sebagai media, booklet setidaknya mencakup:
1. Judul diturunkan dari Kompetensi Dasar (KD) atau materi pokok sesuai dengan besar kecilnya materi.
2. KD/materi pokok yang akan dicapai, diturunkan dari Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).
3. Informasi pendukung dijelaskan secara jelas, padat, menarik memperhatikan penyajian kalimat yang disesuaikan dengan usia dan pengalaman pembaca.
4. Pada booklet terdapat lebih banyak gambar dari pada teks, sehingga tidak terkesan monoton.
5. Gambar ditampilkan secara nyata yaitu gambar-gambar yang sudah dikenal oleh peserta didik.
6. Isi disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik.
7. Mudah dibawa kemana saja dan dibaca kapan saja, di mana saja.
8. Memuat informasi yang lengkap, walau tidak rinci dan berurutan.
Booklet termasuk dalam teks berbasis cetakan. Menurut Azhar Arsyad (2009, hlm. 85) terdapat enam elemen yang harus diperhatikan pada saat merancang teks berbasis cetakan, antara lain:
1. Konsistensi
Format dan jarak spasi harus konsisten, jika antara baris terlalu dekat akan membuat tulisan terlihat tidak jelas pada jarak tertentu. Format dan jarak yang konsisten akan membuat booklet terlihat lebih rapi dan baik.
2. Format
Format tampilan dalam booklet menggunakan tampilan satu kolom karena paragraf yang digunakan panjang. Setiap isi materi yang berbeda dipisahkan dan diberi label agar memudahkan untuk dibaca dan dipahami oleh peserta didik.
3. Organisasi
Booklet disusun secara sistematis dan dipisahkan dengan menggunakan kotak-kotak agar peserta didik mudah untuk membaca dan memahami informasi yang ada di booklet.
4. Daya tarik
Booklet didesain dengan menarik, seperti menambahkan gambar yang berhubungan dengan isi materi, sehingga memotivasi peserta didik untuk terus membaca.
5. Ukuran huruf
Huruf yang digunakan pada booklet yaitu jenis font yang mudah dibaca dan biasanya menggunakan ukuran font 11. Booklet menghindari penggunaan huruf kapital pada seluruh teks, huruf kapital digunakan sesuai dengan kebutuhan.
6. Ruang (spasi) kosong
Spasi kosong dapat berbentuk ruangan sekitar judul, batas tepi (margin), spasi antar kolom, permulaan paragraf, dan antara spasi atau antara paragraf. Untuk meningkatkan tampilan dan keterbacaan dapat menyesuaikan spasi antar baris dan menambahkan spasi antar paragraf.
Adapun menurut Masnur Muslich (2007, hlm. 24-25) suatu booklet yang layak digunakan di sekolah harus memperhatikan aspek-aspek berikut:
1. Aspek isi materi
Materi atau isi booklet harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dijadikan dasar dalam penulisan booklet karena materi diharapkan dapat membantu pencapaian tujuan pembelajaran, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, mengembangkan kemampuan nalar, dan dapat mendorong pembacanya untuk dapat berpikir. Berdasar hal tersebut, hal-hal yang harus diperhatikan pada isi booklet, yakni:
a. Relevansi
Booklet yang baik memuat materi yang relevan dengan tuntutan kurikulum yang berlaku dan relevan dengan kompetensi yang harus dimiliki pada jenjang pendidikan tertentu. Di sisi lain, booklet juga harus relevan dengan tingkat perkembangan dan karakteristik peserta didik yang akan menggunakan booklet tersebut.
b. Kecukupan
Kecukupan mengandung arti bahwa booklet tersebut memuat materi yang memadai dalam rangka mencapai kompetensi yang diharapkan.
c. Keakuratan
Keakuratan berarti bahwa isi materi yang disajikan dalam booklet benar-benar secara keilmuan, mutakhir, bermanfaat bagi kehidupan, dan pengemasan materi sesuai dengan hakikat pengetahuan.
d. Proporsionalitas
Proporsionalitas artinya uraian materi pada booklet memenuhi keseimbangan kelengkapan, kedalaman, dan keseimbangan antara materi pokok dengan materi pendukung.
2. Aspek penyajian
Booklet yang baik menyajikan bahan secara lengkap, sistematis, berdasarkan pertimbangan urutan waktu, ruang, maupun jarak yang disajikan secara teratur, sehingga dapat mengarahkan kerangka berpikir (mind frame) pembaca melalui penyajian materi yang logis dan sistematis. Penyajian booklet mudah dipahami dan familiar dengan pembaca, penyajian materi dapat menimbulkan suasana menyenangkan, penyajian materi dapat juga dilengkapi dengan ilustrasi untuk merangsang pengembangan kreativitas.
3. Aspek bahasa dan keterbacaan
Keterpahaman bahasa atau ilustrasi dapat meningkatkan keterpahaman pembaca apabila pada booklet digunakan bahasa dan ilustrasi yang sesuai dengan perkembangan kognisi pembaca, menggunakan ilustrasi yang jelas dan dilengkapi keterangan. Ketepatan penggunaan bahasa seperti menggunakan ejaan, kata, dan istilah dengan benar dan tepat, kalimat dengan baik dan benar, serta paragraf yang harmonis dan sistematis.
4. Aspek grafika
Grafika merupakan bagian dari booklet yang bersifat fisik, seperti ukuran booklet, jenis kertas, cetakan, ukuran huruf, warna, dan ilustrasi. Ketepatan penggunaan gambar, foto, atau ilustrasi sesuai dengan ukuran dan bentuk, warna gambar yang sesuai dan fungsional. Seluruh komponen itu membuat siswa akan menyenangi booklet tersebut.
Menurut Ewles (dalam Fitria Roz 2012, hlm. 4) booklet memiliki keunggulan, sebagai berikut:
1. Dapat digunakan sebagai media atau alat belajar mandiri.
2. Dapat dipelajari isinya dengan mudah.
3. Dapat disajikan informasi secara spesifik.
4. Mudah untuk dibuat, diperbanyak, diperbaiki, dan disesuaikan.
5. Mengurangi kebutuhan mencatat.
6. Dapat dibuat secara sederhana dan memerlukan biaya yang relatif murah.
7. Tahan lama.
8. Memiliki daya tampung luas.
9. Dapat diarahkan pada segmen tertentu.
Adapun booklet sebagai media cetak memiliki sejumlah keterbatasan. Ronald H. Anderson (1994, hlm. 169) berpendapat bahwa keterbatasan media cetak, sebagai berikut:
1. Perlu waktu yang lama untuk mencetak tergantung dari pesan yang akan disampaiakan dan alat yang digunakan untuk mencetak.
2. Sulit menampilkan gerak di halaman.
3. Pesan dan informasi yang terlalu banyak dan panjang akan mengurangi niat untuk membaca.
4. Perlu perawatan yang baik agar media tersebut tidak rusak dan hilang.
Berikut contoh booklet yang digunakan di Sekolah Dasar (SD):
Media Pembelajaran Booklet

Media Pembelajaran Booklet


Media Pembelajaran Booklet


Referensi
Anderson, R. H. (1994). Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Belajar. Jakarta: Rajawali Press.
Arsyad, A. (2009). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Permai.
Efendi, F., & Mahkfudli (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salamba Medika.
Maulana, H. D. J. (2009). Promosi Kesehatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Mintarti (2001). Efektivitas Booklet Makjan sebagai Media Belajar untuk Meningkatkan Perilaku Berusa bagi Pedagang Makanan Jajanan. (Tesis). Bogor: Intitut Teknologi Bogor.
Muslich, M. (2007). KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Prastowo, A. (2004). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: DIVA Press.
Roz, F. (2012). Media Gizi Booklet. Padang: POLTEKKES KEMENKES RI Padang.
Satmoko, H. (2006). Pengaruh Bahasa Booklet pada Peningkatan Pengetahuan Peternak Sapi Perah tentang Inseminasi Buatan di Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Jurnal Penyuluhan, 2 (2), hlm. 2.
Simamora, R. S. (2009). Buku Ajar Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: EGC.
Sitepu (2012). Penulisan Buku Teks Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon