Sunday, 23 July 2017

Model Pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)



Model Pembelajaran PAIKEM
(Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

“PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan” (Ismail, 2009, hlm. 46). Menurut Syah dan Kariadinata (2009, hlm. 1) “PAIKEM dapat digunakan bersama metode tertentu dan berbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan”. Dengan demikian, para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap pengetahuan serta keterampilan yang diajarkan. Di sisi lain, melalui penggunaan model PAIKEM memungkinkan siswa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap, pemahaman, dan keterampilan sendiri dalam arti tidak disuapi oleh guru.
Secara rinci pengertian PAIKEM, sebagai berikut:
 
1. Pembelajaran aktif

Model Pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)

“Pembelajaran aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua siswa dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan spiritual” (Umi Kulsum, 2011, hlm. 57). Guru perlu menciptakan suasana sedemikian rupa agar siswa aktif bertanya, membangun gagasan, dan melakukan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman langsung, sehingga belajar merupakan proses aktif siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri. Menurut Jamal Ma’mud Asmani (2011, hlm. 66) “siswa aktif adalah siswa yang bekerja keras untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam proses belajarnya sendiri”. Sedangkan lingkungan belajar aktif adalah lingkungan belajar, di mana para siswa secara individu didukung untuk terlibat aktif dalam proses membangun mental, berdasar informasi yang telah mereka peroleh.
Pembelajaran dikatakan aktif apabila mengandung unsur berikut:
a. Keterlekatan pada tugas (commitment)
Pada hal ini, materi, metode, dan strategi pembelajaran hendaknya bermanfaat bagi siswa, sesuai dengan kebutuhan siswa, dan memiliki keterkaitan dengan minat siswa.
b. Tanggung jawab (responsibility)
Pada hal ini, sebuah proses belajar perlu memberikan wewenang kepada siswa untuk berpikir kritis secara bertanggung jawab, sedangkan guru lebih banyak mendengarkan dan menghormati ide-ide siswa, serta memberikan pilihan dan peluang kepada siswa untuk mengambil keputusan sendiri.
c. Motivasi (motivation)
Proses belajar hendaknya lebih mengembangkan motivasi intrinsik siswa, yang dalam hal ini adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri yang dapat mendorongnya untuk melakukan tindakan belajar. Pada perspektif psikologi kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi siswa adalah motivasi intrinsik karena lebih murni dan awet serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Guru perlu menciptakan susana yang membangkitkan siswa terlibat aktif menemukan, mengolah, dan membangun pengetahuan atau keterampilan menjadi sebuah konsep yang baru dan benar.

2. Pembelajaran inovatif

Model Pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)

Segala aspek (metode, bahan, perangkat, dan sebagainya) dipandang baru atau bersifat inovatif apabila metode dan sebagainya berbeda atau belum dilaksanakan oleh seorang guru meskipun semua itu bukan hal baru bagi guru. “Membangun pembelajaran yang inovatif dapat dilakukan dengan cara-cara menampung setiap karakteristik siswa dan mengukur kemampuan atau daya serap setiap siswa” (Umi Kulsum, 2011, hlm. 59).
Pada hal ini, seorang guru bertindak inovatif dalam hal:
a. Menggunakan bahan atau materi baru yang bermanfaat dan bermartabat;
b. Menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran dengan gaya baru;
c. Memodifikasi pendekatan pembelajaran konvensional menjadi pendekatan inovatif yang sesuai dengan keadaan siswa, sekolah, dan lingkungan; dan
d. Melibatkan perangkat teknologi pembelajaran.
Di sisi lain, siswa pun perlu bertindak inovatif dalam hal:
a. Mengikuti pembelajaran inovatif dengan aturan yang berlaku;
b. Berupaya mencari bahan atau materi sendiri dari sumber-sumber yang relevan; dan
c. Menggunakan perangkat teknologi maju dalam proses belajar.

3. Pembelajaran kreatif

Model Pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)

Kreatif berarti menggunakan hasil ciptaan atau kreasi baru yang berbeda dengan sebelumnya. Pembelajaran kreatif adalah “kemampuan untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi, dan hal-hal yang artistik lainnya” (Lif Khoiru Ahmadi dan Sofan Amri, 2011, hlm. 3). Sedangkan kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah.
Seorang guru harus mampu kreatif dalam artian:
a. Mengembangkan kegiatan pembelajaran yang beragam;
b. Membuat alat bantu belajar yang berguna meskipun sederhana;
c. Memanfaatkan lingkungan;
d. Mengelola kelas dan sumber belajar; dan
e. Merencanakan proses dan hasil belajar.
Di sisi lain, siswa dituntut untuk kreatif dalam hal:
a. Merancang atau membuat sesuatu; dan
b. Menulis atau mengarang.
Adapun ciri-ciri kepribadian kreatif berdasarkan survei kepustakaan oleh Supriadi (dalam Lif Khoiru Ahmadi dan Sofan Amri, 2011, hlm. 4) mengidentifikasi ciri kepribadian kreatif, antara lain:
a. Terbuka terhadap pengalaman baru;
b. Fleksibel dalam berpikir dan merespon;
c. Bebas dalam menyatakan pendapat dan perasaan;
d. Menghargai fantasi;
e. Tertarik kepada kegiatan-kegiatan kreatif;
f. Mempunyai pendapat sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain;
g. Mempunyai rasa ingin tahu yang besar;
h. Toleran terhadap perbedaan dan situasi yang tidak pasti;
i. Berani mengambil resiko yang diperhitungkan;
j. Percaya diri dan mandiri;
k. Memiliki tanggung jawab dan komitmen kepada tugas;
l. Tekun dan tidak mudah bosan;
m. Tidak kehabisan akal dalam memecahkan masalah;
n. Kaya akan inisiatif;
o. Peka terhadap situasi lingkungan;
p. Lebih berorientasi ke masa kini dan masa depan daripada masa lalu;
q. Memiliki citra diri dan stabilitas emosional yang baik;
r. Tertarik kepada hal-hal yang abstrak, kompleks, holistik, dan mengandung teka-teki;
s. Memiliki gagasan yang orisinil;
t. Memiliki minat yang luas;
u. Menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat dan konstruktif bagi pengembangan diri;
v. Kritis terhadap pendapat orang lain;
w. Senang mengajukan pertanyaan yang baik; dan
x. Memiliki kesadaran etik moral dan estetik yang tinggi.

4. Pembelajaran efektif

Model Pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)

Pembelajaran dikatakan efektif apabila mencapai sasaran atau minimal mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Di samping itu, hal terpenting adalah banyaknya pengalaman dan hal baru yang didapat baik oleh siswa maupun guru. Untuk mengetahui keefektifan sebuah proses pembelajaran, maka pada setiap akhir pembelajaran perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi ini bukan sekedar tes bagi siswa, melainkan semacam refleksi, perenungan yang dilakukan oleh guru dan siswa, didukung oleh catatan dari guru.

5. Pembelajaran menyenangkan

Model Pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)

Pembelajaran menyenangkan perlu dipahami artinya secara luas, bukan berarti hanya ada lelucon, banyak bernyanyi, atau tepuk tangan yang meriah. Pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran yang diminati oleh siswa. Siswa merasa nyaman, aman, dan asyik. “Perasaan yang mengasyikan mengandung unsur dorongan keingintahuan yang disertai upaya mencari tahu sesuatu” (Umi Kulsum, 2011, hlm. 63).
Adapun ciri pokok pembelajaran menyenangkan menurut Umi Kulsum (2011, hlm. 64), sebagai berikut:
a. Adanya lingkungan yang rileks, menyenangkan, tidak membuat tegang, aman, menarik, dan tidak membuat siswa ragu melakukan sesuai meskipun keliru untuk mencapai keberhasilan yang tinggi;
b. Terjaminnya ketersediaan materi pelajaran dan metode yang relevan;
c. Terlibatnya seluruh indera dan aktivitas otak kiri serta kanan; dan
d. Adanya situasi belajar yang menantang bagi siswa untuk berpikir jauh ke depan dan mengeksplorasi materi yang sedang dipelajari.
Shadiq (dalam Syah dan Kariadinata, 2009, hlm. 2-3) berpendapat bahwa PAIKEM dikembangkan berdasarkan beberapa perubahan/peralihan:
1. Peralihan dari belajar perorangan (individual learning) ke belajar bersama (cooperative learning).
2. Peralihan dari belajar dengan cara menghafal (rote learning) ke belajar untuk memahami (learning for understanding).
3. Peralihan dari teori pemindahan pengetahuan (knowledge-transmitted) ke bentuk interaktif, keterampilan proses, dan pemecahan masalah.
4. Peralihan paradigma dari guru mengajar ke siswa belajar.
5. Beralihnya bentuk evaluasi tradisional ke bentuk authentic assessment, seperti portofolio, proyek, laporan siswa, atau penampilan siswa.
Menurut Syah dan Kariadinata (2009, hlm. 3-4) PAIKEM memiliki karakteristik, sebagai berikut:
1. Berpusat pada siswa (student-centered).
2. Belajar yang menyenangkan (joyfull learning).
3. Belajar yang berorientasi pada tercapainya kemampuan tertentu (competency-based learning).
4. Belajar secara tuntas (mastery learning).
5. Belajar secara berkesinambungan (continuous learning).
6. Belajar sesuai dengan kekinian dan kedisinian (contextual learning).
Secara garis besar Amri dan Ahmadi (2010, hlm. 17) menjelaskan penerapan PAIKEM, sebagai berikut:
1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk mejadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan sesuai bagi siswa.
3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca.
4. Guru menerapkan cara belajar yang lebih kooperatif dan intraktif, termasuk cara belajar kelompok.
5. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasan, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolah.
Berikut Umi Habibah (2012, hlm. 27) menjabarkan sintaks dari model pembelajaran PAIKEM:
Tahap
Kegiatan Pembelajaran
Tahap 1 Pendahuluan
1. Mengaitkan pembelajaran sekarang dengan pembelajaran sebelumnya.
2. Memotivasi siswa.
3. Memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui konsep-konsep prasyarat yang sudah dikuasai oleh siswa.
4. Menjelaskan tujuan pembelajaran.
Tahap 2 Presentasi materi
1. Presentasi konsep-konsep yang harus dikuasasi oleh siswa.
2. Presentasi alat dan bahan yang dibutuhkan.
Tahap 3
Membimbing kelompok belajar
1. Menempatkan siswa ke dalam kelompok belajar.
2. Memberi Lembar Kerja Siswa (LKS).
3. Menjelaskan langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanakan.
4. Memberikan bimbingan pada kelompok yang membutuhkan.
5. Mengumpulkan hasil kerja kelompok.
Tahap 4
Menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik
1. Memberikan kesempatan pada kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
2. Memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk menanggapi hasil presentasi.
3. Memberikan konfirmasi terhadap hasil kerja siswa.
Tahap 5
Pengembangan dan penyerapan
1. Membimbing siswa menyimpulkan seluruh materi pembelajaran yang telah dipelajari.
2. Memberikan tugas rumah.
Tahap 6
Menganalisis dan mengevaluasi
1. Membantu siswa untuk melakukan refleksi.
2. Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran dalam bentuk tes.

Pada pelaksanaannya, keberhasilan suatu model pembelajaran mencapai hasil yang beragam. Hal ini bergantung pada indikator kriteria pada suatu model pembelajaran tersebut. Adapun secara garis besar Indrawati dan Wawan Setiawan (2009, hlm. 18) menjabarkan kriteria PAIKEM pada tabel berikut:
Kriteria Aktif
Kriteria Kreatif
Siswa melakukan sesuatu dengan memikirkan apa yang mereka lakukan seperti:
1. Menulis.
2. Berdiskusi.
3. Berdebat.
4. Memecahkan masalah.
5. Mengajukan pertanyaan.
6. Menjawab pertanyaan.
7. Menjelaskan.
8. Menganalisis.
Siswa kreatif apabila:
1. Berpikir kritis.
2. Memecahkan masalah secara konstruktif.
3. Memiliki ide/gagasan yang berbeda.
4. Berpikir konvergen (pemecahan masalah yang benar atau terbaik).
5. Berpikir divergen (beragam alternatif pemecahan masalah).
6. Fleksibilitas dalam berpikir (melihat dari berbagai sudut pandang).
7. Berpikir terbuka.
Kriteria Inovatif
Kriteria Menyenangkan
Ketercapaian target hasil belajar dapat berupa:
1. Siswa menguasai konsep.
2. Siswa mampu mengaplikasikan konsep pada masalah sederhana.
3. Siswa menghasilkan produk tertentu.
4. Siswa termotivasi untuk belajar.
Pembelajaran berlangsung secara:
1. Interaktif.
2. Dinamik.
3. Menarik.
4. Menggembirakan.
5. Atraktif.
6. Menimbulkan inspirasi.

Adapun kriteria efektif pada model pembelajaran PAIKEM tercapai apabila ke empat kriteria lainnya muncul dan tergambar dalam suatu proses pembelajaran.

Referensi
Ahmadi, L. K., & Amri S. (2011). PAIKEM GEMBROT. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya.
Amri, S., & Ahmadi, K. I. (2010). Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya.
Asmani, J. M. (2011). 7 Tips Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: DIVA Press.
Habibah, U. (2012). Penerapan Model PAIKEM untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Materi Pokok Bangun Datar pada Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hikmah Krandon Kota Tegal. [Online]. Diakses dari: lib.unnes.ac.id.
Indrawati, & Setiawan, W. (2009). Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) untuk Program PERMUTU.
Ismail, S. M. (2009). Strategi Pengajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Semarang: Rasail.
Kulsum, U. (2011). Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis PAIKEM. Surabaya: Gena Pratama Pustaka.
Syah, M., & Kariadinata, R. (2009). Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Bandung: Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Jati.


EmoticonEmoticon