Friday, 21 July 2017

Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill)



Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill)

Kecakapan hidup (life skill) adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problematika kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif, mencari serta menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan. Brolin (dalam Imam Mawardi, 2012, hlm. 287) mendefinisikan life skill atau kecakapan hidup sebagai “kontinum pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk berfungsi secara independen dalam kehidupan”. Di sisi lain, Depdiknas (2002, hlm. 9) mengartikan kecakapan hidup sebagai “kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problem hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan”.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kecakapan hidup (life skill) adalah pendidikan kecakapan-kecakapan yang secara praktis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan.
Depdiknas (2007, hlm. 11) menyatakan bahwa “life skill atau kecakapan hidup dapat dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu: (1) kecakapan hidup generik (generic life skill/ GLS) dan (2) kecakapan hidup spesifik (specific life skill/ SLS)”. Masing-masing jenis kecakapan ini dibagi menjadi sub kecakapan. Kecakapan hidup generik terdiri atas kecakapan personal (personal skill) dan kecakapan sosial (sosial skill). Kecakapan personal mencakup kecakapan dalam memahami diri sendiri (self awareness skill) dan kecakapan berpikir (thinking skill). Sedangkan kecakapan sosial mencakup kecakapan berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan kerja sama (collaboration skill). Kecakapan hidup spesifik adalah kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu. Kecakapan ini terdiri atas kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional (vocational skill). Kecakapan akademik terkait dengan bidang-bidang pekerjaan yang lebih memerlukan pemikiran atau kerja intelektual. Kecakapan vokasional terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan keterampilan motorik. Kecakapan vokasional terdiri atas kecakapan vokasional dasar (basic vocational skill) dan kecakapan vokasional khusus (accuptional skill). Kesemuaan tersebut dijabarkan secara terperinci, sebagai berikut:
1. Kecakapan personal (personal skill)
Kecakapan personal mencakup kesadaran diri dan berpikir rasional. Kesadaran diri ini lebih difokuskan pada kemampuan peserta didik untuk melihat potretnya sendiri dalam lingkungan keluarga, kebiasaannya, kegemarannya, dan sebagainya. Sedangkan kecakapan berpikir lebih terfokus dalam menggunakan rasio atau pikiran yang meliputi menggali informasi, mengolah informasi, dan mengambil keputusan secara cerdas, serta mampu memecahkan masalah secara tepat dan baik.
2. Kecakapan sosial (social skill)
Kecakapan sosial terdiri atas kecakapan berkomunikasi yang dilakukan secara lisan maupun tulisan dan kecakapan kerja sama, maksudnya adanya saling pengertian dan saling membantu antar sesama untuk mencapai tujuan yang baik, karena hal tersebut merupakan suatu kebutuhan yang tidak dielakan sepanjang hidup manusia.
3. Kecakapan akademik (academic skill)
Kecakapan akademik sering kali disebut dengan kecakapan intelektual atau kemampuan berpikir ilmiah yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berpikir secara umum, namun mengarah kepada kegiatan yang bersifat keilmuan. Kecakapan ini mencakup antara lain kecakapan mengidentifikasi variabel, menjelaskan hubungan suatu fenomena tertentu, merumuskan hipotesis, merancang dan melaksanakan penelitian. Untuk membangun kecakapan tersebut diperlukan sikap ilmiah, kritis, obyektif, dan transparan.
4. Kecakapan vokasional (vocational skill)
Kecakapan vokasional sering kali disebut dengan kecakapan kejuruan, artinya suatu kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat atau lingkungan peserta didik. Kecakapan vokasional lebih cocok untuk peserta didik yang menekuni pekerjaan yang mengandalkan keterampilan psikomotorik daripada kecakapan berpikir ilmiah. Kecakapan vokasional terdiri atas kecakapan vokasional dasar yang berkaitan dengan bagaimana peserta didik menggunakan alat sederhana, misalnya obeng, palu, dan sebagainya, dan kecakapan vokasional khusus hanya diperlukan bagi mereka yang akan menekuni pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, misalnya pekerja montir, apoteker, tukang, dan sebagianya.
Pendidikan kecakapan hidup (life skill) memiliki tujuan, sebagai berikut:
1. Memberdayakan asset kualitas batiniyah, sikap, dan perbuatan lahiriyah peserta didik melalui pengenalan (logos), penghayatan (etos), dan pengalaman (patos) nilai-nilai kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya.
2. Memberikan wawasan yang luas tentang perkembangan karir, yang dimulai dari perkembangan diri, eksplorasi karir, orientasi karir, dan penyiapan karir.
3. Memberikan bekal dasar dan latihan-latihan yang dilakukan secara benar mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang dapat memampukan peserta didik untuk berfungsi menghadapi kehidupan masa depan yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus.
4. Mengoptimalisasi pemanfaatan sumber daya sekolah melalui pendekatan manajemen berbasis sekolah, partisipasi stakeholder, dan fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah.
5. Memfasilitasi peserta didik dalam memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi sehari-hari.
Secara umum manfaat pendidikan kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi problema hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, dan warga negara. Adapun secara khusus manfaat pendidikan kecakapan hidup, di antaranya:
1. Menurunkan angka pengangguran.
2. Meningkatkan produktivitas nasional.
3. Memperluas lapangan kerja.
4. Memahami konsep kecakapan hidup dan menerapkannya sesuai prinsip pendidikan berbasis luas dan pendidikan berbasis masyarakat.
Usaha-usaha dalam memberikan kecakapan hidup kepada peserta didik sebenarnya telah dilaksanakan, namun masih memerlukan peningkatan dalam hal efektivitas dan efisiensi, sehingga diperlukan pemahaman dari pendidik (guru) mengenai konsep kecakapan hidup tersebut. Pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup dapat diwujudkan melalui penerapan prinsip-prinsip pendidikan berbasis luas yang merupakan salah satu pendekatan pembelajaran pada Kurikulum 1999 yang berbasis kompetensi. Menurut Indra Jati Sidi (2004, hlm. 11) “pendidikan berbasis luas adalah pendidikan yang memberi bekal learning how to learn (belajar bagaimana belajar) dan general life skill (kecakapan hidup generik), tidak hanya memberikan teori saja tetapi juga mempraktikannya untuk memecahkan problema kehidupan sehari-hari”.
Terdapat sejumlah strategi penerapan life skill dalam kegiatan pembelajaran, sebagai berikut:
1. Life skill diimplementasikan secara integratif dalam kegiatan pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Dengan demikian tujuan pembelajaran ada tiga, yakni:
a. Penguasaan konsep utama materi pembelajaran.
b. Mendapatkan kemampuan learning how to learn atau keterampilan proses melalui metode-metode pembelajaran inquiry/discovery.
c. Memperoleh kemampuan general life skill.
2. Life skill diimplementasikan melalui kegiatan ekstrakurikuler, sehingga peserta didik mendapatkan kemampuan general life skill.
3. General life skill dan academic life skill dilaksanakan dengan diintregasikan ke dalam kegiatan pembelajaran pada setiap mata pelajaran yang ada dalam bentuk paket pembelajaran life skill.

Referensi
Depdiknas (2002). Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Jakarta: Team Broad Based Education.
Depdiknas (2007). Konsep Pengembangan Model Integrasi Kurikulum Pendidikan Kecakapan Hidup (Pendidikan Menengah). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.
Mawadi, I. (2012). Pendidikan Life Skill Berbasis Budaya Nilai-nilai Islami. Surabaya: Perpustakaan UIN Sunan Ampel.
Sidi, I. J. (2004). Pelayanan Profesional, Kegiatan Belajar-Mengajar yang Efektif. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.


EmoticonEmoticon