Saturday, 19 August 2017

Hubungan Filsafat, Ilmu, dan Agama



Hubungan Filsafat, Ilmu, dan Agama
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Hubungan Filsafat, Ilmu, dan Agama

Istilah filsafat “berasal dari bahasa Arab, falsafah yang berasal dari bahasa Yunani, philosophia” (Nasution, 1973, hlm. 9), berasal dari dua kata, yakni philos yang berarti cinta, suka, dan shopia berarti pengetahuan atau hikmah. Jadi philosophia diartikan sebagai cinta kepada kebijaksanaan atau kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “philosopher, dalam bahasa Arab disebut failasuf, yakni pecinta pengetahuan yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya atau mengabdikan diri kepada pengetahuan” (Hasyimsyah, 1999, hlm. 1).
Secara praktis, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir. Hal ini sejalan dengan pendapat Hasyimsyah (1999, hlm. 1), yakni “berfilsafat artinya berpikir”. Namun, tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir mendalam dan sungguh-sungguh. Tegasnya filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain filsafat merupakan ilmu tentang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan universal.
Ilmu berasal dari bahasa Arab, alima-ya’lamu-ilman dengan wazan fa’ila-yaf’ulu yang berarti mengerti atau memahami benar-benar. Di dalam bahasa Inggris disebut science, dari bahasa Latin scientia (pengetahuan) atau scire (mengetahui). Ashely Montagu (dalam Anshari, 1981, hlm. 48) menyatakan bahwa “ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi, dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hak yang sedang dikaji”. Maka, ilmu merupakan sebagian pengetahuan yang memiliki ciri, tanda, syarat tertentu, yakni sistematis, rasional, empiris, universal, obyektif, dapat diukur, terbuka, dan kumulatif.
Adapun obyek ilmu pada dasarnya ada dua bentuk, yakni obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah obyek material ilmu pengetahuan alam. Sedangkan obyek formal merupakan metode untuk memahami obyek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif.
Agama berasal dari dua suku kata, yakni “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Jadi, agama secara ringkas berarti tidak kacau. Agama merupakan suatu unsur mengenai pengalaman-pengalaman yang dipandang mempunyai nilai tertinggi, pengabdian kepada suatu kekuasaan-kekuasaan yang dipercayai sebagai suatu yang menjadi asal mula, yang menambah dan melestarikan nilai-nilai, serta sejumlah ungkapan yang sesuai tentang urusan serta pengabdian tersebut, baik dengan jalan melakukan upacara-upacara simbolis maupun perbuatan-perbuatan yang bersifat perseorangan atau kemasyarakatan.
Agama memang tidak mudah diberi definisi, karena agama mengambil berbagai bentuk sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing. Meskipun tidak terdapat definisi yang universal, bahwa sepanjang sejarah manusia telah menunjukkan rasa Ketuhanan dan agama termasuk dalam kategori hal yang Berketuhanan. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tidak terbatas. Hubungan manusia dengan Tuhan menimbulkan kewajiban, baik untuk melaksanakan maupun meninggalkan sesuatu. Sikap terhadap agama bersifat batiniah, subyektif, dan individualistis, walupun nilai-nilai yang dimiliki oleh agama bersifat universal.
Pada setiap agama paling tidak ditemukan empat ciri khas, di antaranya 1) aspek kredial, yakni ajaran tentang doktrin-doktrin Ketuhanan yang harus diyakini, 2) aspek ritual, yakni ajaran tentang tata cara berhubungan dengan Tuhan, untuk meminta perlindungan dan pertolongan-Nya atau untuk menunjukkan kesetiaan dan penghambaan, 3) aspek moral, yaitu ajaran tentang aturan berperilaku dan bertindak yang benar dan baik bagi individu dalam kehidupan, 4) aspek sosial, yakni ajaran tentang aturan hidup bermasyarakat.
Adapun persamaan antara filsafat, ilmu, dan agama, di antaranya:
1. Ketiganya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki obyek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.
2. Ketiganya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-akibat.
3. Ketiganya hendak memberikan sintesis, yakni suatu pandangan yang bergandengan.
4. Ketiganya memiliki metode dan sistem.
5. Ketiganya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia (obyektivitas) akan pengetahuan yang lebih mendasar.
Sedangkan perbedaan dari filsafat, ilmu, dan agama diuraikan, sebagai berikut:
1. Filsafat dan ilmu
Secara tegas bahwa filsafat dengan ilmu berbeda, namun saling berhubungan. Perbedaan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan tampak jelas ketika berhadapan untuk melihat masalah-masalah kenyataan yang praktis. Ilmu pengetahuan bersifat informasional dan analitis untuk bidang-bidang tertentu, tetapi filsafat tidak sekedar memberi informasi terlebih menjadi suatu bagian yang harus dikaitkan dengan pengetahuan lainnya.
Jadi, dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan anak dari filsafat. Dilihat dari sejarahnya, ilmu pengetahuan manusia memang berasal dari filsafat, ketika filsafat adalah kegiatan untuk menjelaskan segala gejala-gejala kehidupan yang belum terpecah-pecah menjadi berbagai bidang ilmu pengetahuan. Maka, ilmu berkaitan dengan lapangan yang terbatas, sedangkan filsafat mencoba menghubungkan diri dengan berbagai pengalaman manusia untuk memperoleh suatu pandangan yang lebih utuh dan lengkap.
2. Filsafat dan agama
Filsafat berbeda dari agama, tetapi juga ada yang menganggap agama sebagai bagian dari filsafat. Ketika kita mendefinisikan filsafat sebagai kegiatan yang menggunakan pikiran yang mendalam, menyeluruh, rasional, dan logis, agama justru merupakan suatu hal yang tampak berkebalikan dengan filsafat. Pertentangan ini tampak dalam berbagai ekspresi, yang paling tampak adalah pertentangan antara orang yang berpegang teguh pada pikiran spekulatif serta tidak rasional dari agama dengan filsuf yang muncul di tengah meluasnya pemikiran agama.
Agama dan filsafat sebenarnya memiliki kesamaan yang mutlak, yakni bahwa keduanya mengejar suatu hal yang dalam bahasa Inggris disebut ultimater, yakni hal-hal yang sangat penting mengenai masalah kehidupan dan bukan suatu hal yang remeh. Orang yang memegang filsafat dan agama sama-sama menjunjung tinggi apa yang dianggap penting dalam kehidupan. Adapun perbedaan pada agama dan filsafat tidak terletak pada bidang keduanya, tetapi dari cara menyelidiki bidang itu sendiri. Filsafat berarti berpikir, sedangkan agama berarti mengabdikan diri. Orang yang belajar filsafat  tidak saja mengetahui soal filsafat, tetapi lebih penting adalah bahwa ia dapat berpikir. Begitu pula dengan orang yang mempelajari agama, tidak hanya puas dengan pengetahuan agama, tetapi perlu untuk membiasakan diri hidup beragama.
Hal yang dicari oleh filsafat adalah kebenaran, demikian pula ilmu dan agama yang juga mengajarkan kebenaran. Kebenaran dalam filsafat dan ilmu merupakan kebenaran akal, sedangkan kebenaran menurut agama adalah kebenaran wahyu. Kita tidak akan berupaya untuk mencari mana yang benar atau lebih benar di antara ketiganya, tetapi kita akan melihat apakah ketiganya dapat hidup berdampingan secara damai. Meskipun filsafat dan ilmu mencari kebenaran dengan akal, hasil yang diperoleh baik oleh filsafat maupun ilmu bermacam-macam. Hal ini dapat dilihat dari aliran yang berbeda-beda, baik pada filsafat maupun ilmu, demikian pula terdapat bermacam-macam agama yang masing-masing mengajarkan kebenaran. Untuk mencari hubungan antara filsafat, ilmu, dan seni, perhatikan ilustrasi berikut:
Jika seseorang melihat sesuatu kemudian mengatakan tentang sesuatu tersebut, dikatakan ia telah memiliki pengetahuan mengenai sesuatu. Pengetahuan adalah yang tergambar di dalam pikiran kita. Misalnya, ia melihat manusia, kemudian mengatakan itu adalah manusia. Ini berarti ia telah memiliki pengetahuan tentang manusia. Jika ia meneruskan bertanya lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang manusia, misalnya dari mana asalnya, bagaimana susunannya, ke mana tujuannya, dan sebagainya, akan diperoleh jawaban yang lebih terperinci mengenai manusia tersebut. Jika titik beratnya ditekankan kepada susunan tubuh manusia, jawabannya akan berupa ilmu tentang manusia dilihat dari susunan tubuhnya  atau antropologi fisik. Jika ditekankan pada hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, jawabannya akan berupa ilmu manusia dilihat dari hubungan sosial atau antropologi sosial.
Berdasar contoh tersebut, nampak bahwa pengetahuan yang telah disusun atau disistematisasi lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui kebenarannya adalah ilmu. Selanjutnya, jika seseorang masih bertanya terus mengenai apa manusia itu atau apa hakikat manusia itu, maka jawabannya akan berupa filsafat. Di dalam hal ini yang dikemukakan bukan lagi susunan tubuhnya atau hubungan sesama manusia, melainkan hakikat manusia yang ada di balik tubuh dan hubungan tersebut. Jawaban yang dikemukakan beragam, antara lain: 1) monisme, yang berpendapat manusia terdiri dari satu asas, misalnya jiwa, materi, atom, dan sebagainya, 2) dualisme, yang berpendapat bahwa manusia terdiri atas dua asas yang masing-masing tidak berhubungan satu sama lain, misalnya jiwa-raga, 3) triadisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas tiga asas, misalnya badan, jiwa, dan roh, dan 4) pluralisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas banyak asas, misalnya api, udara, angin, dan tanah.
Dari contoh tersebut, filsafat adalah pendalaman lebih lanjut dari ilmu. Di sinilah batas kemampuan akal manusia. Dengan akal manusia, ia tidak akan dapat menjawab pertanyaan yang lebih dalam lagi mengenai manusia. Dengan akalnya, manusia hanya dapat memberi jawaban dalam batas-batas tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut, maka yang dapat menjawab pertanyaan lebih lanjut mengenai manusia adalah agama, misalnya tentang pengalaman apa yang akan dijalani setelah seseorang meninggal dunia. Jadi, sesungguhnya filsafat tidaklah dapat menyaingi agama dan tidak hendak menambahkan suatu kepercayaan baru.

Referensi
Anshari, E. S. (1981). Kuliah Al-Islam. Jakarta: Rajawali.
Hasyimsyah, N. (1999). Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Nasution, H. (1973). Filsafat dan Mistisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.


EmoticonEmoticon