Tuesday, 8 August 2017

Kepribadian Manusia



Kepribadian Manusia
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Tidak ada pengertian kepribadian yang mutlak dari para ahli. Karena mereka mempunyai pandangan yang berbeda ketika mengartikan kepribadian yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang dan pengalaman religius pada awal kehidupan mereka. Namun sebagian besar dari mereka menyetujui bahwa kata “kepribadian” (personality) berasal dari bahasa Latin, yaitu persona, yang mengacu pada topeng yang dipakai oleh aktor Romawi dalam pertunjukan drama Yunani. Ketika itu, para aktor Romawi kuno memakai topeng (persona) untuk memainkan peran atau penampilan palsu. Kemudian kata persona itu berarti pemain sandiwara itu sendiri. Akhirnya, kata persona  itu menunjukkan pengertian tentang kualitas dari watak/karakter yang dimainkan di dalam sandiwara itu. Namun dalam perkembangan teori-teori kepribadian, para psikolog menggunakan istilah “kepribadian” mengacu pada sesuatu yang lebih dari sekadar peran yang dimainkan seseorang.
Sartain (dalam Purwanto, 1990, hlm. 154) mengemukakan bahwa “istilah kepribadian (personality) menunjukkan suatu organisasi/susunan daripada sifat-sifat dan aspek-aspek tingkah laku lainnya yang saling berhubungan dalam suatu individu”. Sifat-sifat dan aspek-aspek yang dimaksud tersebut adalah yang menyebabkan individu berbuat dan bertindak seperti apa yang dia lakukan dan menunjukkan adanya ciri khas yang membedakan antara individu yang satu dengan yang lainnya.
Kepribadian itu relatif stabil atau dapat dikatakan bersifat tetap dan tidak berubah. Meskipun individu tersebut mengalami pertumbuhan dan perkembangan namun dalam perubahan tersebut ada pola-pola kepribadian tertentu yang bersifat tetap. Semakin dewasa individu tersebut, maka akan semakin jelas polanya.
Meskipun sangat sulit untuk merumuskan definisi tentang kepribadian, namun Feist dan Feist (2011, hlm. 4) mengatakan bahwa “kepribadian adalah pola sifat dan karakteristik tertentu, yang relatif permanen dan memberikan, baik konsistensi maupun individualitas pada perilaku seseorang”. Dengan kata lain, dapat kita simpulkan bahwa kepribadian merupakan bagian dari individu yang paling mencerminkan atau mewakili si pribadi untuk membedakan individu tersebut dari orang lain, dan yang lebih penting bahwa itulah ia yang sebenarnya.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa kepribadian itu berkembang dan mengalami perubahan namun ada pola tertentu yang bersifat tetap. Adapun  faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah sebagai berikut:

1. Faktor Biologis

Kepribadian Manusia

Faktor biologis ini berhubungan dengan keadaan jasmani seseorang atau disebut faktor fisiologis. Faktor ini meliputi keadaan pencernaan, peredaran darah, pernapasan, kelenjar-kelenjar, urat syaraf, tinggi dan berat badan. Keadaan jasmani seseorang berbeda dengan yang lainnya. Keadaan tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan atau bawaan orang itu masing-masing. Keadaan fisik yang berlainan itu menyebabkan sikap dan sifat-sifat serta temperamen yang berbeda pula. 

2. Faktor Sosial

Kepribadian Manusia

Faktor sosial yang dimaksud di sini adalah masyarakat; yakni manusia-manusia lain di sekitar individu yang mempengaruhi individu tersebut. Faktor sosial ini meliputi tradisi-tradisi, adat-istiadat, peraturan, bahasa, dan sebagainya. Masyarakat terkecil yang sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang adalah lingungan keluarga. Keadaan dan suasana keluarga yang berlain-lainan, memberikan pengaruh yang bermacam-macam pula terhadap perkembangan pribadi anak. Ahmad Musa mengemukakan bahwa “keluarga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak dan menentukan perkembangan pribadi anak selanjutnya” (Purwanto, 1990, hlm. 162). Hal itu terjadi karena:
a. pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama;
b. pengaruh yang diterima anak itu masih terbatas jumlah dan luasnya;
c. intensitas pengaruh itu tinggi karena berlangsung terus-menerus siang dan malam; dan
d. umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman serta bersifat intim dan bernada emosional.
Semakin berkembang seorang anak, maka pengaruh yang diterima anak dari lingkungan sosialnya semakin besar dan meluas. Setelah keluarga, anak-anak akan besosialisasi dengan teman sebayanya, tetangga-tetangga, lingkungan kampung, desa, dan seterusnya. Hal itulah yang berpengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan kepribadian seseorang.

3. Faktor Kebudayaan

Kepribadian Manusia

Faktor kebudayaan ini sebenarnya termasuk pula ke dalam faktor sosial. Karena kebudayaan berkembang dalam masyarakat. Namun ada beberapa aspek dalam kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian, yaitu nilai (values), adat dan tradisi, pengetahuan dan keterampilan, bahasa, dan milik kebendaan.
Pada perkembangan teori-teori tentang kepribadian, para ahli mengelompokkan manusia ke dalam berbagai kelompok sesuai dengan teori yang dianutnya. Salah satu teori yang paling menarik dari seluruh konsep kepribadian adalah teori kepribadian dari seorang tokoh Psikologi Analitis, yaitu Carl Gustav Jung.
C.G. Jung membuat pembagian tipe-tipe manusia berdasarkan arah perhatian manusia. Jung mengatakan bahwa “perhatian manusia itu tertuju kepada dua arah, yakni keluar dirinya yang disebut ekstrover dan ke dalam dirinya yang disebut introver” (Purwanto, 1990, hlm. 150). Berdasarkan pemahaman tersebut, dapat kita ketahui bahwa Jung menggolongkan manusia ke dalam dua golongan besar, yaitu ekstrover dan introver. Namun menurut Hall dan Lindzey (1993, hlm. 192), “kedua sikap yang berlawanan ini ada dalam kepribadian tetapi biasanya salah satu diantaranya dominan dan sadar, sedangkan yang lain kurang dominan dan tak sadar”. Artinya, tidak ada manusia yang ekstrover 100% dan juga sebaliknya, tidak ada manusia yang 100% introver. Hanya yang tampak adalah sikap yang dominan. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai ekstrover dan introver:

1. Tipe Ekstrover

Kepribadian Manusia

Menurut Jung, “ekstrover adalah sebuah sikap yang menjelaskan aliran energi psikis ke arah luar, sehingga yang bersangkutan akan memiliki orientasi obyektif dan menjauh dari subyektif” (Feist dan Feist, 2011, hlm.137). Karena perhatian orang ekstrover lebih diarahkan ke luar dirinya, maka orang tipe ekstrover akan lebih mudah untuk dipengaruhi oleh sekelilingnya dibanding oleh kondisi dirinya. Mereka cenderung untuk berfokus pada sikap obyektif dan menekan sisi subyektifnya.
Orang-orang yang tergolong tipe ekstrover mempunyai sifat seperti berhati terbuka, lancar dalam pergaulan, ramah tamah, penggembira, banyak kontak dengan lingkungan, mudah terpengaruh dan mudah mempengaruhi lingkungan. Hal itu selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Jung (dalam Macintyre, 1972, hlm. 294) bahwa “...the extraverted type of personality-sociable, outgoing, and optimistic”.
Berdasarkan karakteristik pemikirannya, orang ekstrover sangat bergantung pada pemikiran yang nyata, tetapi mereka juga menggunakan ide abstrak jika ide tersebut dapat ditransmisikan kepada mereka secara langsung, contohnya dari guru atau orang tua. Contoh orang-orang yang mempunyai tipe pemikiran ini adalah ahli matematika, insinyur, dan akuntan.
Dari segi feeling atau cara memberikan sebuah penilaian (valuing), orang-orang dengan perasaan ekstrover menggunakan data obyektif untuk melakukan penilaian/evaluasi. Mereka tidak banyak dipandu oleh opini subyektif mereka, tetapi lebih oleh nilai eksternal dan penilaian standar yang diterima luas. Orang ekstrover biasanya disukai karena kemampuan sosialnya.
Selanjutnya, berdasarkan proses penginderaan (sensing), orang ekstrover menerima rangsangan eksternal secara obyektif. Sensasi mereka tidak dipengaruhi secara signifikan oleh sikap subyektifnya. Dari segi intuisi atau persepsi yang berada jauh di luar kesadaran, orang ekstrover selalu berorientasi pada fakta dalam dunia eksternal. Orang-orang yang intuitif, menekan sensasi/penginderaan mereka dan lebih menggunakan firasat dan perkiraan sebagai pemandunya jika dibandingkan dengan data dari indera. 
Secara hierarki, Eysenck dan Cattel (dalam Feist dan Feist, 2010, hlm. 122) menggambarkan tipe kepribadian ekstrover sebagai berikut:

Kepribadian Manusia


2. Tipe Introver

Kepribadian Manusia

Menurut Jung, “introver adalah aliran energi psikis ke arah dalam yang memiliki orientasi subyektif. Orang orang ini akan menerima dunia luar dengan sangat selektif dan dengan pandangan subyektif mereka” (Feist dan Feist, 2011, hlm. 137). Jung (dalam Macintyre, 1972, hlm. 296) mengungkapkan juga tentang tipe kepribaian introver, menurutnya “...and the introverted type-more apt to withdraw from external reality, less sociable, more absorbed in his own inner life”. Orang-orang introver perhatiannya lebih mengarah pada dirinya.
Berdasarkan cara berpikirnya, orang introver bereaksi terhadap rangsangan eksternal, tetapi interpretasi mereka terhadap suatu kejadian lebih diwarnai oleh pemaknaan internal yang mereka bawa dalam dirinya sendiri dibanding dengan fakta obyektif yang ada. Sehingga orang-orang dengan tipe kepribadian introver tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain.
Dilihat dari segi perasaan atau feeling dalam proses pemberian nilai (valuing), orang introver mendasarkan penilaian mereka pada persepsi subyektif dibanding dengan fakta obyektif. Menurut Jung “mereka mengabaikan opini tradisional serta kepercayaan, menjauhi dunia obyektif, dan kerap kali menyebabkan orang di sekitar mereka merasa tidak nyaman dan bereaksi dingin terhadap mereka” (Feist dan Feist, 2011, hlm. 140).
Dari cara mereka melakukan penginderaan atau sensing, orang introver biasanya sangat dipengaruhi oleh sensasi subyektif akan penglihatan, pendengaran, rasa, sentuhan, dan lainnya. Sehingga, orang-orang golongan introver baru akan percaya tentang suatu hal apabila ia telah melihat, mendengar, atau merasakannya sendiri. Selanjutnya dari segi intuisi, orang introver dipandu oleh ketidaksadaran terhadap fakta yang umumnya subyektif dan memiliki sedikit atau bahkan tidak ada kesamaan dengan kenyataan eksternal.
Biasanya, orang dengan tipe kepribadian introver memiliki karakteristik seperti kurang pandai bergaul, pendiam, suka menyendiri, sering takut pada orang, bersikap hati-hati, pesimistis, dan terkontrol. Crow and Crow (dalam Purwanto, 1990, hlm. 151) menguraikan lebih terperinci lagi sifat-sifat dari kedua golongan tipe tersebut, yaitu sebagai berikut:
No.
Ekstrover
Introver
1.
Lancar/lincah dalam berbicara.
Lebih lancar menulis daripada berbicara.
2.
Bebas dari kekhawatiran atau kecemasan.
Cenderung/sering diliputi kekhawatiran.
3.
Tidak lekas malu dan tidak canggung.
Lekas malu dan canggung.
4.
Umumnya bersifat konservatif.
Cenderung bersifat radikal.
5.
Mempunyai minat pada atletik.
Suka membaca buku-buku dan majalah.
6.
Dipengaruhi oleh data obyektif.
Lebih dipengaruhi oleh perasaan-perasaan subyektif.
7.
Ramah dan suka berteman.
Agak tertutup jiwanya.
8.
Suka bekerja bersama orang lain.
Menyukai bekerja sendiri.
9.
Kurang memperdulikan penderitaan dan milik sendiri.
Sangat menjaga/berhati-hati terhadap penderitaan dan miliknya.
10.
Mudah menyesuaikan diri dan luwes.
Sukar menyesuaikan diri dan kaku dalam pergaulan.

Adapun struktur hierarki dimensi kepribadian introver yang digagas oleh Eysenck dan Cattel (dalam Feist dan Feist, 2010, hlm. 121) sebagai berikut:

Kepribadian Manusia

Seperti kategori tipe kepribadian, Jung juga mengkategorikan tahap perkembangan manusia menjadi empat periode utama, yaitu “masa kanak-kanak, masa muda, masa perrtengahan (paruh baya), dan masa tua (lanjut usia)” (Feist dan Feist, 2011, hlm. 142). Masing-masing periode terlibat dalam pembentukan kepribadian setiap individu. Jung memberikan ilustrasi setiap tahapan perkembangan kepribadian itu seperti perjalanan matahari melewati langit, sebagai berikut:

Kepribadian Manusia

Berikut penjabaran secara lebih terperinci mengenai tahap perkembangan manusia:

1. Masa Kanak-kanak

Kepribadian Manusia

Jung membagi masa kanak-kanan ke dalam tiga fase, yaitu “fase anarkis, fase monarkis, dan fase dualistis” (Feist dan Feist, 2011, hlm. 143). Fase anarkis dikarakterisasikan dengan banyaknya kesadaran yang kacau. Fase monarkis dikarakterisasikan dengan perkembangan ego dan mulainya masa berpikir secara logis dan verbal. Pada fase monarkis, anak-anak akan melihat dirinya sendiri secara obyektif. Sedangkan pada fase dualistis, anak-anak akan menyadari dirinya sebagai objek dan subjek. Sekarang anak-anak menyadari dirinya sebagai orang pertama dan mulai sadar akan eksistensinya sebagai individu yang terpisah.
Pada masa kanak-kanak inilah, individu akan mulai berkembang menjadi pribadi ekstrover atau introver, karena pada masa ini mereka mulai mengenal lingkungan dan berhubungan sosial baik dengan orang tua atau teman sebayanya. Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya akan menentukan apakah ia ekstrover atau introver. 

2. Masa Muda

Kepribadian Manusia

Periode ini ditandai dari “pubertas sampai dengan masa pertengahan (paruh baya)” (Feist dan Feist, 2011, hlm. 143). Pada masa ini, individu akan bertahan untuk mencapai kebebasan fisik dan psikis dari orang tuanya, mendapatkan pasangan, membangun keluarga, dan mencari tempat di dunia ini. Menurut Jung (dalam Feist dan Feist, 2011, hlm. 143) “masa muda seharusnya menjadi periode ketika aktivitas meningkat, mencapai kematangan seksual, menumbuhkan kesadaran, dan pengenalan bahwa dunia dimana tidak ada masalah seperti pada waktu kanak-kanak”. 

3. Masa Pertengahan (Paruh Baya)

Kepribadian Manusia

Menurut Jung (dalam Feist dan Feist, 2011, hlm. 144) “masa pertengahan/paruh baya berawal di usia 35-40 tahun, pada saat matahari telah melewati tengah hari dan mulai berjalan menuju terbenam”. Untuk sebagian orang, pada masa ini akan terjadi peningkatan kecemasan akan masa tua. Pada masa ini, individu akan menjaga ketertarikan fisik, penampilan, dan gaya hidup masa mudanya.
Orang yang telah hidup pada masa muda tanpa bersikap kekanak-kanakan atau dengan nilai-nilai masa pertengahan akan lebih siap untuk hidup di fase ini. Mereka akan mampu memberikan tujuan ekstrovernya di masa muda dan bergerak menuju kesadaran introver. Mereka harus mulai menatap ke depan dan menanggalkan gaya hidup pada masa muda dan menemukan arti baru dalam masa pertengahan. 

4. Masa Tua

Kepribadian Manusia

Jika pada masa pertengahan (paruh baya) individu takut menghadapi masa tuanya, maka pada masa tua ini individu cenderung takut akan kematian atau fase kehidupan berikutnya. Namun pada dasarnya, seseorang yang takut akan kematian adalah hal yang normal.
Pada masa tua atau lanjut usia, orang akan mengalami penurunan kesadaran, seperti pada saat matahari berkurang sinarnya di waktu senja. Banyak orang tua yang menderita akibat terlalu berorientasi masa lalu, susah payah bergantung pada gaya hidup dan tujuan masa lalu, serta menjalani alur hidup tanpa tujuan yang jelas. Jika keadaannya demikian, maka mereka perlu dibantu untuk membangun tujuan dan arti hidup baru dalam kehidupannya, dengan mempelari arti kematian.

Referensi
Feist, J., & Feist, G. J. (2010). Teori Kepribadian (7th ed). Jakarta: Salemba Humanika.
Feist, J., & Feist, G. J. (2011). Teori Kepribadian (8th ed). Jakarta: Salemba Humanika.
Hall, C. S., & Lindzey, G. (1993). Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kasinius.
Macintyre, A. (1972). The Ensyclopedia of Philosophy. Philosophical Journals, 4 (1), hlm. 294-296.
Purwanto, M. N. (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon