Wednesday, 2 August 2017

Kerajaan Kutai Mulawarman



Kerajaan Kutai Mulawarman
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Kerajaan Kutai Mulawarman merupakan salah satu kerajaan yang tertua di Indonesia, yang muncul pada abad ke-5 Masehi atau kurang lebih tahun 400 Masehi. Kerajaan ini teletak di Muara Karam, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli, mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti Yupa yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut.
Kutai tidak terletak dalam sebuah jalur perdagangan internasional, akan tetapi kerajaan tersebut telah memiliki hubungan dagang dengan India. Melalui hubungan dagang tersebut, pengaruh Hindu-Budha mulai tersebar. Salah satu buktinya menerangkan mengenai kerajaan Kutai di mana Yupa diidentifikasi yang merupakan suatu peninggalan Hindu-Budha dan bahasa yang digunakan, yakni bahasa Sansekerta. Bahasa Sansekerta merupakan bahasa Hindu asli. Tulisan atau bentuk dari hurufnya dinamakan huruf Pallawa, yaitu tulisan yang digunakan pada tanah Hindu Selatan berkisar di tahun 400 Masehi. Berdasar adanya bentuk huruf dari prasasti yang telah ditemukan tersebut, maka para ahli menyatakan bahwa Yupa tersebut telah dibuat sekitar abad ke-5 Masehi. Maka, dapat diperkirakan bahwa kerajaan Kutai Mulawarman merupakan kerajaan Hindu pertama di Indonesia.

Yupa kerajaan kutai mulawarman
Yupa Kerajaan Kutai Mulawarman

Yupa merupakan sebuah tiang batu berukuran kurang lebih 1 meter dan sebagian ditanam di atas tanah. Pada tiang batu ini terukir prasasti dari kerajaan Kutai Mulawarman yang dianggap sebagai sumber tulisan tertua, sehingga Indonesia mulai memasuki masa sejarah dan mengakhiri masa pra sejarah.
Kerajaan Kutai Mulawarman diperkirakan berdiri pada abad ke-5 Masehi, ini dibuktikan dengan ditemukannya tujuh (7) buah Yupa yang ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang berasal dari India. Yupa memiliki tiga (3) fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, tiang pengikat hewan untuk upacara korban keagamaan, dan lambang kebesaran raja.
Melalui tulisan yang tertera pada Yupa nama raja Kudungga diperkirakan merupakan nama asli Indonesia, namun nama raja penggantinya seperti Aswawarman dan Mulawarman menunjukkan nama yang diambil dari nama India. Dari sana dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Hindu (India) telah masuk di Kerajaan Kuta Mulawarman. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal dari bahasa Sansekerta. Kata tersebut biasanya digunakan untuk akhiran nama-nama masyarakat atau penduduk India Selatan.
Pada salah satu Yupa, diketahui bahwa yang menjadi cikal bakal dari kerajaan Kutai Mulawarman adalah Kundungga, yang diteruskan kepada Aswawarman. Kemudian pengganti dari Aswawarman yang memiliki putra sebanyak tiga orang, yakni Mulawarman. Pada zaman Mulawarman lah kerajaan Kutai Mulawarman mencapai masa kejayaannya.
Ditinjau dari aktivitas ekonomi, pada salah satu Yupa tertulis bahwa Raja Mulawarman telah melakukan sebuah upacara korban emas yang sangat banyak. Kemajuan dari kerjaaan Kutai Mulawarman ini juga terlihat dari tanda adanya golongan terdidik. Mereka terdiri atas golongan Ksatria dan Brahmana yang kemungkinan telah berpergian ke India atau pada pusat-pusat penyebaran agama Hindu yang ada di Asia Tenggara. “Masyarakat tersebut mendapat kedudukan yang terhormat dalam kerajaan Kutai (Mulawarman)” (Mamat Ruhimat, dkk. 2006, hlm. 203).
Terdapat sejumlah aspek kehidupan yang dapat kita cermati dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan Kutai Mulawarman, yakni:

1. Kehidupan sosial

Kerajaan Kutai Mulawarman

Kerjaan Kutai Mulawarman memiliki golongan masyarakat yang telah menguasai bahasa Sansekerta dan dapat menulis huruf Pallawa, yakni golongan Brahmana. Golongan yang lain, yakni golongan Ksatria yang terdiri atas kerabat dari Raja Mulawarman. Masyarakat Kutai Mulawarman merupakan golongan penduduk yang masih erat memegang teguh kepercayaan asli dari leluhur mereka. Mulawarman kemudian menjadi penganut agama Hindu Syiwa dan golongan para Brahmana.

2. Kehidupan politik

Kerajaan Kutai Mulawarman

Kudungga tidak dianggap sebagai pendiri dari dinasti karena menggunakan konsep keluarga raja di zaman tersebut masih terbatas di para keluarga raja yang telah menyerap kebudayaan India pada setiap kehidupan dalam sehari-hari. Raja Mulawarman juga menciptakan adanya stabilitas politik pada masa pemerintahannya tersebut. Itu terlihat dari adanya Yupa yang menyebutkan bahwa Mulawarman menjadi raja berkuasa, kuat, dan bijaksana.

3. Kehidupan ekonomi

Kerajaan Kutai Mulawarman

Mata pencaharian utama pada masyarakat zaman kerajaan Kutai Mulawarman merupakan beternak sapi, bercocok tanam, dan berdagang. Hal ini terlihat dari kerjaan Kutai Mulawarman yang terletak berada di tepian sungai Mahakam yang sangat subur, sehingga cocok untuk mengembala sapi dan bercocok tanam.
Kerajaan Kutai Mulawarman berakhir saat raja Kutai Mulawarman yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan raja Kutai Kartanegara ke-13, yakni Aji Pangeran Unum Panji Mendapa.

Referensi
Ruhimat, M., dkk. (2006). IPS Terpadu Kelas VII Jilid I. Jakarta: Grafindo Media Pratama.


EmoticonEmoticon