Tuesday, 29 August 2017

Metode Hypnoteaching



Metode Hypnoteaching
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Metode Hypnoteaching

Istilah hypnoteaching berasal dari dua kata, yakni hypno dan teaching. R. Bakir dan Sigit Suryanto (dalam Muhammad Noer, 2010, hlm. 117) menyatakan bahwa “hypnosis adalah fenomena mirip tidur, namun bukan tidur. Hypnoteaching dalam pembahasan di sini dapat diartikan sebagai proses pengajaran yang dapat memberikan sugesti kepada para peserta didik”. Adapun makna tidur tersebut bukan berarti kondisi tidur secara normal, namun menidurkan sejenak aktivitas pikiran sadar dan mengaktifkan pikiran bawah sadar. Hypnoteaching berkaitan dengan pemberian sugesti. Sejalan dengan pendapat Bobby DePotter dan Mike Hernacki (dalam Ratnawati, 2005, hlm. 61) bahwa “eksperimen yang dilakukan oleh Dr. George Lozanov yang berkutat pada suggestology atau suggestopedia menghasilkan sebuah prinsip bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi situasi dan hasil belajar”. Menurut Yustisia (2012, hlm. 75) “metode hypnoteaching juga dapat didefinisikan sebagai metode pembelajaran yang dalam menyampaikan materi, guru memakai bahasa-bahasa bawah sadar yang bisa menumbuhkan ketertarikan tersendiri kepada peserta didik”.
Sebagai gambaran, banyak masyarakat yang tidak mengetahui hipnosis akan tetapi sebenarnya telah mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya seorang guru yang piawai memberikan motivasi kepada anak didiknya untuk belajar. “Guru-guru yang digandrungi oleh murid-muridnya dan dianggap sebagai guru teladan, tanpa disadari sebenarnya guru tersebut telah mengaplikasikan teknik-teknik hipnosis dalam kehidupan sehari-hari” (Andri Hakim, 2010, hlm. 4)
Kunci dari metode hypnoteaching adalah bagaimana guru bisa menciptakan lingkungan belajar yang nyaman secara intern (psikis) maupun ekstern (fisik). “Karena ketika kenyamanan ada dalam pembelajaran, mereka (peserta didik) akan merasakan pula proses belajar yang menyenangkan, dan ketika dalam sebuah pembelajaran (terdapat) rasa nyaman dipastikan materi yang disampaikan guru akan mudah sekali diserap oleh peserta didik” (Ratnawati, 2005, hlm. 71). Hal tersebut dapat terjadi karena kondisi nyaman adalah “kondisi yang diciptakan oleh operator hipnosis (guru) dengan sebuah komunikasi yang berguna membawa subyek hipnosis (peserta didik) ke kondisi alam bawah sadarnya” (Adi W. Gunawan, 2012, hlm. 54).
Metode hypnoteaching juga mendidik para guru agar menjadi guru yang profesional, menjiwai perannya sebagai seorang guru, yang merupakan sosok yang digugu dan ditiru, yang pada akhirnya mampu memberikan contoh baik dari segi berbicara, bertingkah laku, berpenampilan, karena peserta didik tidak akan bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan jika guru sebagai sang pemberi contoh justru tidak memberikan contoh yang baik. Maka, penggunaan metode hypnoteaching sangat mengharuskan guru menjiwai perannya dan menjadi guru yang profesional karena dalam metode ini banyak sekali tuntutan bagi guru yang harus dipenuhi, agar benar-benar menjadi guru yang memiliki daya magnet dalam menarik peserta didik untuk menjadi orang yang berhasil dalam hal keilmuan dan moral.
Metode hypnoteaching dianggap sangat penting dalam upaya pembelajaran terutama bagi peserta didik yang mengalami kegoncangan jiwa dan kesulitan dalam mencerna suatu pembelajaran. Adapun manfaat hypnoteaching menurut Yustisia (2012, hlm. 80), sebagai berikut:
1. Pembelajaran menjadi menyenangkan dan lebih mengasyikkan baik bagi peserta didik maupun bagi guru.
2. Pembelajaran dapat menarik perhatian peserta didik melalui berbagai kreasi permainan yang diterapkan oleh guru.
3. Guru menjadi lebih mampu mengelola emosi.
4. Pembelajaran dapat menumbuhkan hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik.
5. Guru dapat mengatasi peserta didik yang mempunyai kesulitan belajar melalui pendekatan personal.
6. Guru dapat menumbuhkan semangat peserta didik dalam belajar melalui permainan hypnoteaching.
Pada konteks suatu pembelajaran, pengajar memberikan materi pembelajarna kepada anak didiknya agar dapat dipahami dan dimengerti oleh anak didik tersebut. Tujuan suatu proses pembelajaran adalah seseorang yang belajar mampu mengetahui dan memahami maksud dari data, informasi, dan pengetahuan yang mereka peroleh dari sumber yang dapat dipercaya. Namun, sering kali seorang peserta didik dianggap sebagai obyek pembelajaran, bukan sebagai subyek pembelajaran. “Hal ini terjadi akibat dominasi dalam proses belajar mengajar sering dikendalikan secara penuh oleh guru” (Andri Hakim, 2010, hlm. 12). Metode hypnoteaching dalam suatu pembelajaran maksudnya yaitu mengaplikasikan hipnosis dalam pembelajaran/memanfaatkan inti dan substansi dari ilmu hipnosis, yakni berkomunikasi dan sugesti, menarik perhatian siswa dengan bahasa komunikasi persuasif yang lembut dan halus serta mengena. Setelah itu, guru memberi masukan sugesti-sugesti positif pada peserta didik. Hipnosis merupakan teknik yang memudahkan untuk membawa peserta didik masuk dalam kondisi rileks. Pada kondisi hipnosis, ada sebuah kondisi pada saat ketika seseorang mudah menerima saran, masukan, informasi, data bahkan pengetahuan tertentu. Dengan demikian, secara otomatis seseorang dapat mengoptimalkan daya serap, daya ingat, dan daya pikirnya.
Hipnosis digunakan dalam sebuah pembelajaran guna menjadikan sebuah pembelajaran menjadi lebih berkesan dan membuahkan hasil, hasil yang didapat tentunya peserta didik dapat memahami materi yang dipelajari. Melalui motivasi yang diberikan secara tidak langsung guru berupaya membawa peserta didik dalam kondisi aman, rileks, dan nyaman. Ketika sudah merasa rileks dan nyaman, barulah guru diharapkan dapat mengucapkan berulang kali sugesti-sugesti positif serta menyampaikan materi dengan metode-metode lain yang menunjang guna memahamkan peserta didik terhadap materi.
Adapun unsur-unsur dari metode hypnoteaching, sebagai berikut:

1. Penampilan guru
Langkah pertama yang harus diperhatikan guru dalam menggunakan metode hypnoteaching adalah dengan memperhatikan performa atau penampilan guru. Guru dalam menggunakan metode hypnoteaching diharuskan berpakaian serba rapi, jika memungkinkan bagi yang laki-laki hendaknya memakai dasi, dan pakaian serasi. Penampilan yang baik tentunya akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi dan membantu dalam memberikan daya magnet yang kuat bagi peserta didik.

2. Rasa simpati
Seorang guru harus mempunyai rasa simpati yang tinggi kepada peserta didik sehingga peserta didiknya juga akan menaruh rasa simpati. Sebab, hukum alam yang pasti berlaku adalah kaidah timbal balik. Jika guru memperlakukan peserta didik dengan baik, peserta didik pun pasti akan bersikap baik. Meskipun peserta didik tersebut nakal, namun ia pasti akan tetap merasa enggan dan hormat kepada guru yang juga menghormatinya. 

3. Sikap yang empatik
Sebagai seorang pendidik, bukan sekedar pengajar, seorang guru harus mempunyai rasa empati. Ketika didapati ada atau banyak peserta didik yang bermasalah, suka membuat ulah di sekolah, suka cari perhatian teman dan guru dengan berbicara sendiri dan membuat ulah yang kurang baik, guru yang memiliki rasa empatik tidak akan begitu saja menyematkan gelar peserta didik nakal. Guru tersebut justru menyelidiki latar belakang yang menyebabkan tindakan peserta didik tersebut dengan menggali dan mengumpulkan berbagai informasi yang ada serta membantu peserta didik tersebut menjadi lebih baik dan maju.

4. Penggunaan bahasa
Guru yang baik hendaknya memiliki kosakata dan bahasa yang baik serta enak didengar telinga, dapat menahan emosi diri, tidak mudah terpancing amarah, suka menghargai karya, potensi, dan kemampuan peserta didik, tidak suka merendahkan, menghina, mengejek, atau memojokkan peserta didik dengan berbagai ungkapan kata yang tidak seharusnya keluar dari lidahnya. Guru yang dapat menjaga lisan dengan baik, niscaya para peserta didik pun tidak akan berani mengakatakan kalimat yang menyakiti hati. Paling tidak peserta didik yang dinasihati dengan bahasa hati akan menuruti dengan sepenuh hati.

5. Peraga/ekspresi diri
Peraga merupakan salah satu unsur hipnosis dalam proses pembelajaran, yang dimaksud adalah peraga berupa ekspresi diri. Seluruh anggota badan digerakkan jika diperlukan. Tangan, kaki, mimik, dan suara dieksplorasi secara maksimal serta optimal. Guru ketika menerangkan diusahakan menggunakan gaya bahasa tubuh agar apa yang disampaikan semakin mengesankan dan untuk menerapkan hal ini, terlebih dahulu guru harus menguasai materi yang akan disampaikan, karena guru yang tidak menguasai materi biasanya akan mengajar peserta didik dengan cara yang cenderung membosankan.

6. Motivasi peserta didik dengan cerita dan kisah
Salah satu keberhasilan hypnoteaching adalah menggunakan teknik cerita dan kisah. Alangkah baiknya jika dalam mengajar kita selalu menyelipkan kisah-kisah sesuai pelajaran yang sedang menjadi pembahasan, karena dengan hal itu secara tidak langsung kita telah memberikan motivasi positif, apalagi melihat peserta didik yang dipastikan memiliki masalah pribadi masing-masing yang biasanya menganggu fokus pikiran dan tidak termotivasi untuk belajar. Melalui cerita guru, secara tidak langsung guru sedang menasihati peserta didik tanpa harus menggurui.

7. Kuasai pikiran peserta didik dengan menguasai hatinya
Di dalam mengajar, kuasai peserta didik terlebih dahulu, maka secara otomatis akan mampu menguasai pikirannya. Artnya, diharapkan guru tidak mengajar secara formal yang menjadikan suasana kelas menjadi kaku, miskin canda tawa, miskin kreasi, dan tidak mengenal psikologi anak.

Menurut M. Noer (dalam Yustisia, 2012, hlm. 85-88) ada sejumlah langkah yang perlu dilakukan guru dalam penerapan metode hypnoteaching, langkah-langkah tersebut, sebagai berikut:

1. Niat dan motivasi
Kesuksesan seseorang sangat bergantung pada niatanya untuk senantiasa berusaha dan bekerja dalam mencapai kesuksesan yang ingin diraih. Niat yang besar dan tekad yang kuat akan menumbuhkan motivasi dan komitmen yang tinggi pada bidang yang ditekuni. Sebagaimana seorang guru, guru yang memiliki motivasi dan komitmen yang kuat terhadap profesinya, pasti akan selalu berusaha yang terbaik menjadi guru yang patut dijadikan sosok yang pantas untuk digugu dan ditiru oleh peserta didik.

2. Pacing
Pacing berarti menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa, serta gelombang otak dengan orang lain. Pada konteks ini adalah bagaimana guru menyesuaikan diri dengan peserta didik. Prinsip dalam langkah ini adalah manusia cenderung atau lebih suka berkumpul, berinteraksi dengan manusia yang memiliki banyak kesamaan dengannya. Dengan demikian, secara alami dan naluriah, setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya. Sebab hal ini akan membuat seseorang merasa nyaman ketika berada di dalamnya, melalui rasa nyaman yang bersumber dari kesamaan gelombang otak tersebut, setiap pesan yang disampaikan dari satu orang pada orang lain akan dapat diterima dan dipahami dengan baik.

3. Leading
Leading berarti memimpin atau mengarahkan. Setelah guru melakukan pacing, peserta didik akan merasa nyaman dengan susana pembelajaran yang berlangsung. Ketika itu, setiap apapun yang diucapkan guru atau ditugaskan guru kepada peserta didik, peserta didik akan melakukan dengan senang hati. Meskipun materi yang dihadapi relatif sulit akan tetapi pikiran bawah sadar peserta didik akan menangkap materi pelajaran yang disampaikan guru menjadi hal yang mudah.

4. Menggunakan kata-kata positif
Langkah ini merupakan langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang menerima apa saja yang diucapkan oleh siapa pun negatif maupun positif, jadi hendaknya guru membiasakan untuk menggunakan kata-kata positif agar tidak ada hal negatif yang diterima oleh alam bawah sadar peserta didik.

5. Memberikan pujian
Salah satu hal yang penting yang perlu diingat guru adalah adanya reward dan punishment. Pujian merupakan reward  untuk meningkatkan harga diri seseorang. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. Sementara punishment merupakan hukuman atau peringatan yang diberikan guru ketika peserta didik melakukan tindakan yang kurang baik, tentunya dalam memberikan punishment guru melakukan dengan hati-hati agar punishment tersebut tidak membuat peserta didik merasa rendah diri dan tidak bersemangat.

6. Modeling
Modeling merupakan proses pemberian teladan atau contoh melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. Hal ini merupakan sesuatu yang penting dan menjadi kunci keberhasilan penerapan metode hypnoteaching.

7. Mengusai materi secara komprehensif
Guna mendukung serta memaksimalkan penerapan metode hypnoteaching, sebaiknya guru menguasai materi pembelajaran secara komprehensif. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran, sebisa mungkin menyampaikan materi secara kontekstual, memberi kesempatan peserta didik melakukan pembelajaran secara kolaboratif, dan memberi umpan balik secara langsung kepada peserta didik. Tidak kalah penting pemberian motivasi dan sugesti positif harus sering dilakukan selama pembelajaran berlangsung.

Sebagai suatu metode, hypnoteaching tidak lepas dari kelebihan dan kekurangan tersendiri, adapun kelebihan dari penerapan metode hypnoteaching menurut Yustisia (2012, hlm. 83), sebagai berikut:
1. Peserta didik dapat berkembang sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki.
2. Guru dapat menciptakan proses pembelajaran yang beragam sehingga tidak membosankan bagi peserta didik.
3. Tercipta interaksi yang baik antara guru dan peserta didik.
4. Materi yang disajikan mampu memusatkan peserta didik.
5. Materi mudah dikuasai peserta didik, sehingga mereka lebih termotivasi untuk belajar.
6. Banyak terdapat proses pemberian keterampilan selama pembelajaran.
7. Proses pembelajaran bersifat aktif.
8. Peserta didik lebih dapat berimajinasi dan berpikir secara kreatif.
9. Sebab tidak bersifat hafalan, daya serap peserta didik akan lebih cepat dan bertahan lama.
10. Pemantauan guru akan peserta didik menjadi lebih intensif.
11. Sebab pembelajaran dilaksanakan secara rileks dan menyenangkan, hal ini membuat peserta didik merasa senang dan bersemangat ketika mengikuti pembelajaran.
Adapun kelemahan penerapan metode hypnoteaching menurut Yustisia (2012, hlm. 83), sebagai berikut:
1. Banyaknya peserta didik yang berada dalam satu kelas mengakibatkan guru merasa kesulitan untuk memberikan perhatian satu per satu kepada peserta didik.
2. Guru perlu belajar dan berlatih untuk menerapkan metode hypnoteaching.
3. Metode hypnoteaching masih tergolong dalam metode baru dan belum banyak digunakan oleh guru di Indonesia.
4. Kurang tersedianya sarana dan prasarana di sekolah yang dapat mendukung penerapan metode hypnoteaching.

Referensi
Gunawan, A. W. (2012). Hypnotherapy for Children. Jakarta: Gramedia.
Hakim, A. (2010). Hypnosis in Teaching. Jakarta: Visi Media.
Noer, M. (2010). Hypnoteaching for Success Learning. Yogyakarta: PT Bintang Pustaka Abadi.
Ratnawati (2005). Aplikasi Quantum Learning. Jurnal Pendidikan Islam, 14 (1), hlm 61-71.
Yustisia, N. (2012). Hypnoteaching Seni Mengeksplorasi Otak Peserta Didik. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.


EmoticonEmoticon