Sunday, 6 August 2017

Metode Praktikum



Metode Praktikum
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Metode Pembelajaran Praktikum

Praktikum berasal dari kata praktik yang berarti pelaksanaan secara nyata dari suatu teori. Praktikum adalah bagian dari pengajaran yang bertujuan agar peserta didik mendapat kesempatan untuk menguji dan melaksanakan teori pada keadaan nyata. Menurut Sudirman (1992, hlm. 163) “metode praktikum adalah cara penyajian pelajaran kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sesuatu yang dipelajari”. Hal ini sejalan dengan Suherman dan Winataputra (1993, hlm. 219) yang menyatakan bahwa “metode praktikum adalah suatu cara penyajian yang disusun secara aktif untuk mengalami dan membuktikan sendiri tentang apa yang dipelajarinya”.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut, disimpulkan bahwa metode pembelajaran praktikum merupakan suatu cara untuk membuktikan atau menguji suatu teori agar siswa mengalami secara nyata pelaksanaan dari teori tersebut.
Melalui pelaksanaan metode pembelajaran praktikum, siswa dapat memiliki banyak pengalaman, baik berupa pengamatan langsung atau melakukan percobaan sendiri dengan obyek atau fenomena tertentu. Melalui pengalaman nyata ini, siswa dapat belajar lebih mudah dibandingkan dengan belajar melalui sumber sekunder, misalnya buku atau pengalaman orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Bruner (dalam Tresna Sastrawijaya, 1998, hlm. 17) bahwa “anak belajar dengan pola inactive melalui perbuatan (learning by doing) akan dapat mentransfer ilmu pengetahuan yang dimilikinya pada berbagai situasi”.
Sagala (2005, hlm. 220) mengemukakan bahwa “proses belajar mengajar dengan praktikum ini berarti siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri, mengikuti proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan, dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu obyek, keadaan, atau proses tertentu”. Maka, di dalam kegiatan praktikum sangat dimungkinkan adanya penerapan beragam keterampilan proses sekaligus pengembangan sikap ilmiah yang mendukung proses pemerolehan pengetahuan dalam diri siswa.
Menurut Suparno (2007, hlm. 77) “kegiatan praktikum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu praktikum terbimbing atau terencana dan praktikum bebas”. Kegiatan siswa pada praktikum terbimbing hanya melakukan percobaan dan menemukan hasil sesuai dengan apa yang telah dirancang oleh guru. Langkah-langkah percobaan, peralatan yang harus digunakan, serta obyek yang harus diamati atau diteliti sudah ditentukan sejak awal oleh guru. Sedangkan kegiatan siswa dalam praktikum bebas lebih banyak dituntut untuk berpikir mandiri, bagaimana merangkai alat percobaan, melakukan percobaan dan memecahkan masalah, guru hanya memberikan permasalahan dan obyek yang harus diamati atau diteliti. Pada implementasinya kegiatan praktikum dalam pembelajaran, umumnya siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil antara 2-6 orang, tergantung pada ketersediaan alat dan bahan.
Pada pelaksanaan praktikum dalam proses pembelajaran, terdapat langkah-langkah yang perlu dilakukan agar hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan baik. Menurut Djajadisastra (dalam Anggraini, 2012, hlm. 21-22) “ada tiga langkah utama yang perlu dilakukan, yaitu langkah persiapan, langkah pelaksanaan, dan tindak lanjut metode praktikum”.
Langkah persiapan diperlukan untuk memperkecil kelemahan-kelemahan atau kegagalan-kegagalan yang dapat muncul. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam langkah persiapan antara lain menetapkan judul dan tujuan praktikum, mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan, mempersiapkan tempat praktikum, mempertimbangkan jumlah siswa dengan jumlah alat yang tersedia dan kapasitas tempat praktikum, mempersiapkan tata tertib dan disiplin selama praktikum, serta membuat petunjuk dan langkah-langkah praktikum.
Pada langkah pelaksanaan praktikum, siswa melakukan kegiatan praktikum sesuai dengan petunjuk dan langkah-langkah yang telah dibuat pada tahap persiapan praktikum. Langkah-langkah yang dibuat disesuaikan dengan materi pembelajaran yang akan dipraktikumkan. Kegiatan siswa dalam pelaksanaan praktikum adalah mengobservasi (mengamati) percobaan, mencatat data, menganalisis data, menjawab pertanyaan, menyimpulkan hasil praktikum, dan mengomunikasikan hasil praktikum. Sedangkan guru dalam pelaksanaan praktikum adalah mengawasi proses praktikum yang sedang dilakukan oleh siswa, baik secara menyeluruh maupun perkelompok.
Setelah praktikum dilaksanakan, kegiatan guru selanjutnya adalah melakukan tindak lanjut kepada siswa dengan cara meminta siswa membersihkan dan menyimpan peralatan yang digunakan, mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama praktikum, membuat laporan hasil praktikum, meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan hasil laporan yang telah diperoleh dan dibuat selama kegiatan praktikum berlangsung.
Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode praktikum dalam pembelajaran menurut Sagala (2005, hlm. 220), sebagai berikut:
Kelebihan:
1. Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaan yang dilakukan sendiri daripada hanya menerima penjelasan dari guru atau dari buku.
2. Mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi tentang sains dan teknologi.
3. Menumbuhkan sikap-sikap ilmiah, seperti bekerjasama, bersikap jujur, terbuka, kritis, dan bertoleransi.
4. Siswa belajar dengan mengalami atau mengamati sendiri suatu proses atau kejadian.
5. Memperkaya pengalaman siswa dengan hal-hal yang bersifat obyektif dan realistis.
6. Mengembangkan sikap berpikir ilmiah.
7. Hasil belajar akan bertahan lama dan terjadi proses internalisasi.
Kekurangan:
1. Memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan murah.
2. Setiap praktikum tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena terdapat faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan.
3. Pada kehidupan sehari-hari tidak semua hal dapat dijadikan materi eksperimen.
4. Sangat menuntut penguasaan perkembangan materi, fasilitas peralatan, dan bahan mutakhir.

Referensi
Anggraini, B. (2012). Penerapan Praktikum dengan Model Pembelajaran STAD terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa. (Skripsi). Lampung: Unversitas Negeri Lampung.
Sagala, S. (2005). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta.
Sastrawijaya, T. (1988). Proses Belajar Mengajar Kimia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Sudirman, A. M. (1992). Interaksi dan Motifasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali.
Suherman, E., & Winataputra, U. S. (1993). Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka.
Suparno, P. (2007). Metode Pembelajaran Fisika. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.


EmoticonEmoticon