Tuesday, 15 August 2017

Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)



Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)

Istilah sains teknologi masyarakat merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yakni science technology society, yang pada awalnya dikemukakan oleh “John Ziman dalam bukunnya  Teaching and Learning about Science and Society’, pembelajaran science technology society berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat” (Anna Poedjiadi, 2010, hlm. 99).
Model pembelajaran sains teknologi masyarakat bertujuan untuk “membentuk individu yang memiliki literasi sains dan teknologi serta memiliki kepedulian terhadap masalah masyarakat dan lingkungannya” (Anna Poedjiadi, 2010, hlm. 123). Model pembelajaran ini secara tidak langsung mendidik siswa menjadi warga masyarakat yang sadar akan sains dan teknologi, peduli terhadap lingkungan sekitar, peduli terhadap isu-isu yang berkembang di lingkungannya serta mampu memecahkan berbagai permasalahan lingkungan sekitarnya dengan menerapkan dan mengamalkan nilai-nilai sains dan teknologi.
Para pendidik atau praktisi pendidikan telah mengemukakan sejumlah istilah di antaranya “Science Technology Society yang diterjemahkan dengan Sains Teknologi Masyarakat (STM) atau SATEMAS, Science Environment Technology (SET), dan Science Environment Technology Society (SETS) yang disingkat dengan Salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, masyarakat)” (Anna Poedjiadi, 2010, hlm. 115). Kesemuaan tersebut memiliki inti yang sama, yakni merujuk pada hubungan antara sains dan teknologi, serta manfaatnya bagi masyarakat.
Menurut Anna Poedjiadi (2010, hlm. 127-130) Model pembelajaran STM diterapkan harus melalui lima tahapan, sebagai berikut:
1. Pendahuluan (inisiasi/invitasi/apersepsi/eksplorasi)
Pada tahap ini siswa diharapkan agar memusatkan perhatian pada pembelajaran untuk dapat mengaitkan peristiwa yang telah diketahui dengan materi yang akan dibahas, sehingga tampak adanya kesinambungan pengetahuan, karena diawali dengan hal-hal yang telah diketahui siswa.
2. Pembentukan/pengembangan konsep
Pada tahap ini siswa dilibatkan secara aktif untuk membentuk konsep melalui konstruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan hasil observasi, eksperimen, dan diskusi. Hal ini dimaksudkan agar siswa tertantang untuk memperoleh perkembangan isu-isu yang aktual di lingkungan masyarakat.
3. Aplikasi konsep dalam kehidupan
Penyelesaian masalah atau analisis isu, setiap konsep yang dibangun oleh siswa digunakan untuk menyelesaikan masalah atau menganalisa masalah, siswa dapat melaksanakan tindakan kongkrit yang disadari oleh rasa kepeduliannya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
4. Pemantapan konsep
Guru meluruskan jika ada miskonsepsi selama kegiatan berlangsung.
5. Penilaian/evaluasi
Penilaian ini mencakup adanya hubungan antara tujuan dengan produk dan proses belajar, perbedaan antara kecakapan dan kematangan serta latar belakang siswa juga harus diperhatikan, kualitas, efisien, dan keefektifan, serta fungsi program juga harus dievaluasi.
Model STM diharapkan memiliki efek yang lebih kaya karena di samping mengembangkan aspek kognitif melalui pengembangan keterampilan intelektual, model STM juga mengembangkan keterampilan emosional dan keterampilan spiritual. STM sebagai model dapat menjangkau siswa yang tergolong pada kelompok berkemampuan rendah karena dengan model ini akan lebih menarik, nyata, dan aplikatif.
Berikut gambaran model pembelajaran STM yang dikemukakan oleh Anna Poedjiadi (2010, hlm. 126), sebagai berikut:

Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)

Adapun Nono Sutanto (2007, hlm. 36) mengemukakan kelebihan dan kelemahan dari penggunaan model pembelajaran STM, sebagai berikut:
Kelebihan:
1. Siswa memiliki kemampuan memandang sesuatu secara terintegrasi dengan memperhatikan unsur STM, sehingga dapat memperoleh yang lebih mendalam tentang pengetahuan yang telah dimiliki.
2. Melatih siswa peka terhadap masalah yang sedang berkembang di lingkungan mereka.
3. Siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan dengan mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara timbal balik.
4. Siswa dapat melihat hubungan nilai tentang apa-apa yang mereka pelajari di sekolah dengan kehidupan nyata sehari-hari.
5. Siswa dapat melihat relevansi teknologi yang digunakan saat ini dengan konsep-konsep dan prinsip sains yang sedang mereka pelajari.
6. Siswa menjadi lebih kreatif, hal ini akan terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan karena besarnya rasa ingin tahu mereka. Mereka juga menjadi lebih mudah dan terampil mengidentifikasi penyebab atau dampak penggunaan suatu teknologi.
7. Siswa dapat melihat bahwa sains ialah alat yang dapat digunakan atau mampu memecahkan masalah-masalah.
Kelemahan:
1. Siswa mengalami kesulitan dalam menghubungkan antar unsur-unsur dalam pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam pembelajaran.
3. Model STM lebih efektif diterapkan di kelas atas pada jenjang Sekolah Dasar (SD).

Referensi
Poedjiadi, A. (2010). Sains Teknologi Masyarakat Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sutanto, N. (2007). Materi dan Pembelajaran IPA di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.


EmoticonEmoticon