Monday, 14 August 2017

Pendekatan dalam Penelitian Sastra



Pendekatan dalam Penelitian Sastra
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pendekatan dalam Penelitian Sastra

Penelitian sastra pada umumnya disebut juga kritikus sastra, baik sebelum maupun sesudah penelitian dilakukan, secara sadar mengetahui teori apa yang dimanfaatkan, metode dan teknik apa yang membantu. Kegagalan suatu penelitian sastra dapat segera diketahui, yaitu dengan meneliti ulang langkah-langkah yang dilakukan, indikator-indikator yang terlihat, yang secara metodologis mencerminkan tingkat kematangan suatu penelitian sastra. Subjek penelitian sastra tidak harus merupakan produk akademis, tetapi ia harus memiliki kemampuan setingkat akademis agar dapat menguraikan sekaligus mengorganisasikan fakta-fakta sesuai dengan tujuan penelitian. Peneliti merupakan mereka yang secara sadar dan mandiri berpartisipasi aktif dalam mengembangkan karya sastra dengan cara menyebarluaskannya kepada masyarakat. Visi sastra kontemporer menyebutkan bahwa pembaca sekaligus berfungsi sebagai konsumen dan produsen.
Karya sastra, baik berupa novel, drama, cerpen, sekumpulan cerpen, puisi, dongeng, dan tembang, dapat disebut sebagai obyek penelitian sastra. Namun, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa obyek penelitian sastra yang sesungguhnya adalah unsur yang benar-benar merupakan sasaran, unsur-unsur yang dianalisis, seperti tema, penokohan, plot, latar, gaya bahasa, wacana naratif, emansipasi wanita, nasionalisme, dan sebagainya.
Berdasar sejumlah pembahasan tersebut, maka penelitian sastra mempertimbangkan ciri-ciri, sebagai berikut:
1. Hipotesis dan asumsi tidak diperlukan sebab analisis bersifat deskripsi, bukan generalisasi. Gejala sastra tidak berulang, makna tidak tetap yang justru merupakan hakikat.
2. Populasi dan sampel tidak mutlak diperlukan, kecuali dalam penelitian tertentu, misalnya penelitian yang melibatkan sejumlah karya atau sejumlah konsumen.
3. Kerangka penelitian tidak bersifat tertutup, korpus data bersifat terbuka, deskripsi dan pemahaman berkembang terus.
4. Tidak diperlukan obyektivitas dalam pengertian yang umum sebab peneliti terlibat secara terus-menerus, obyektivitas terjadi pada saat penelitian dilakukan.
5. Obyek yang sesungguhnya bukan bahasa, tetapi wacana, teks, sebab sebagai hakikat diskursif bahasa sudah terikat dengan sistem model kedua dengan berbagi sistem komunikasi.
Pada umumnya pendekatan disamakan dengan metode. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri obyek, sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data. Tujuan metode adalah efisiensi, dengan cara menyederhanakan. Melalui pemanfaatan metode dan teori yang baru, tujuan pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah obyek ilmu pengetahuan itu sendiri. Maka, pendekatan lebih dekat dengan bidang studi tertentu.
Pendekatan juga mengarahkan penelusuran sumber-sumber sekunder, sehingga peneliti dapat memprediksikan literatur yang harus dimiliki, perpustakaan, dan toko-toko buku yang akan menjadi obyek sasaran. Model-model pendekatan perlu dibedakan secara jelas. Pendekatan dalam ilmu sastra di Indonesia perlu mendapat perhatian yang lebih serius dengan pertimbangan bahwa dalam penelitian sastra Indonesia seolah-olah lebih bersifat praktis daripada teoritis. Hal ini disebabkan oleh keberadaan sastra Indonesia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan kebudayaan di satu pihak, kurangkanya pemahaman mengenai teori sastra di pihak lain.
Atas dasar sejumlah hal tersebut, maka model pendekatan sastra perlu dikemukakan, antara lain:

1. Pendekatan biografis
Menurut Wellek dan Warren (1962, hlm. 75) “model biografis dianggap sebagai pendekatan yang tertua”. Pendekatan biografis merupakan studi yang sistematis mengenai proses kreativitas. Subyek kreator dianggap sebagai asal-usul karya sastra, arti sebuah karya sastra dengan demikian secara relatif sama dengan maksud, niat, pesan, dan bahkan tujuan-tujuan tertentu pengarang. Penelitian harus mencatumkan biografi, surat-surat, dokumen penting pengarang, foto-foto, bahkan wawancara langsung dengan pengarang. Karya sastra pada gilirannya identik dengan riwayat hidup, pertanyaan-pertanyaan pengarang dianggap sebagai suatu kebenaran, biografi mensubordinasikan karya. Maka, pendekatan biografis sesungguhnya merupakan bagian penulisan sejarah, sebagai historiografi.
Manusia sebagai makhluk sosial, meskipun sering ditolak, dalam kasus-kasus tertentu biografi masih bermanfaat. Pada ilmu sastra, biografi pengarang membantu untuk memahami proses kreatif, genesis karya seni. Biografi memperluas sekaligus membatasi proses analisis. Pada ilmu sosial, umumnya biografi dimanfaatkan dalam kaitannya dengan latar belakang proses rekontruksi fakta-fakta, membantu menjelaskan pikiran-pikiran seorang ahli, seperti sistem ideologis, paradigma ilmiah, pandangan dunia, dan kerangka umum sosial budaya yang ada di sekitarnya.
Berkaitan dengan pemahaman sosiologi ilmu pengetahuan, Berger dan Luckmann (1973, hlm. 85-86) menyatakan bahwa “pada dasarnya hanya sebagian kecil dari keseluruhan pengalaman yang berhasil tersimpan dalam kesadaran manusia”. Biografi merupakan sedimentasi pengalaman-pengalaman masa lampau, baik personal, sebagai pengalaman individual, maupun kolektif, sebagai pengalaman intersubyektif, yang pada saat-saat tertentu akan muncul kembali. Moral, religi, karya seni dalam berbagai bentuknya, dan sebagainya, merupakan hasil seleksi sedimentasi pengalaman masa lampau. Semakin kaya dan beragam isi sedimentasi yang berhasil untuk direkam, makin lengkaplah catatan biografi yang berhasil dilakukan.

2. Pendekatan sosiologis
Pendekatan sosiologis menganalisis manusia dalam masyarakat, dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu. Pendekatan sosiologis menganggap karya sastra sebagai milik masyarakat.
Dasar filosofis pendekatan sosiologis adalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat. Hubungan-hubungan yang dimaksudkan disebabkan oleh a) karya sastra dihasilkan oleh pengarang, b) pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat, dan d) hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Pendekatan sosiologis, khususnya untuk sastra Indonesia, baik lama maupun modern menjajikan lahan penelitian yang luas. Setiap hasil karya, baik dalam skala angkatan maupun individual, memiliki aspek-aspek sosial tertentu yang dapat dibicarakan melalui model-model pemahaman sosial. Ilmu pengetahuan lain, seperti sosiologi, sejarah, antropologi, dan ilmu sosial justru menunggu hasil-hasil analisis melalui pendekatan sosiologis yang akan digunakan untuk membantu memahami gender, feminis, status peranan, wacana sosial, dan sebagainya.

3. Pendekatan psikologis
Wellek dan Warren (1962, hlm. 81-82) menunjukkan “empat model pendekatan psikologis, yang dikaitkan dengan pengarang, proses kreatif, karya sastra, dan pembaca”. Meskipun demikian, pendekatan psikologis pada dasarnya berhubungan dengan tiga gejala utama, yakni pengarang, karya sastra, dan pembaca, dengan pertimbangan bahwa pendekatan psikologis lebih banyak berhubungan dengan pengarang dan karya sastra. Apabila perhatian ditujukan pada pengarang maka model penelitiannya lebih dekat dengan pendekatan ekspresif, sebaliknya apabila perhatian ditujukan pada karya, maka model penelitiannya lebih dekat dengan pendekatan obyektif.
Pendekatan psikologis cenderung memanfaatkan data-data personal. Proses kreatif merupakan salah satu model yang banyak dibicarakan dalam rangka pendekatan psikologis. Karya sastra dianggap sebagai hasil aktivitas penulis, yang sering dikaitkan dengan gejala-gejala kejiwaan, seperti obsesi, kontemplasi, kompensasi, sublimasi, bahkan sebagai neurosis.
Sampai saat ini teori yang paling banyak diacu dalam pendekatan psikologis adalah diterminisme psikologi Sigmund Freud (1856-1939). “Menurutnya, semua gejala yang bersifat mental, tidak sadar yang tertutup oleh alam kesadaran” (Schellenberg, 1997, hlm. 18). Pada proses penelitian, sebagai psikoanalisis Freud bertumpu pada a) bahasa pasien dan keterlibatan sastra, dan b) memakai obyek mimpi, fantasi, dan mite, yang dalam sastra ketiganya merupakan sumber imajinasi.

4. Pendekatan antropologis
Antopologi adalah ilmu pengetahuan mengenai manusia dalam masyarakat. Oleh karena itu, antropologi dibedakan menjadi antropologi fisik dan antropologi kebudayaan, yang sekarang berkembang menjadi studi kultural. Pada kaitannya dengan sastra, antropologi kebudayaan pun dibedakan menjadi dua bidang, yaitu antropologi dengan obyek verbal dan nonverbal. Pendekatan antropologi sastra lebih banyak berkaitan dengan obyek verbal.
Menurut Poyatos (1988, hlm. 11) “secara historis pendekatan antopologis dikemukakan tahun 1977 dalam kongres Folklore and Literary Anthropology yang berlangsung di Calcutta”. Pada kongres ini sejumlah ilmuwan berbicara mengenai hubungan antara sastra dan antropologi, yakni Fernando Fayatos, Thomas G. Winner, Stephane Sarkany, Lucy Jane Borscharow, Vincent Erickson, Irene Portis Winner, Regina Zilberman, Katherine Trumpener James Nyce, Annamaria Lammel, Ilona Nagy, Wenner Enninger, Gyula David, William Boelhower, dan Francisco Loriggio.
Pokok-pokok bahasan yang ditawarkan dalam pendekatan antropologis adalah bahasa sebagaimana dimanfaatkan dalam karya sastra, sebagai struktur naratif, di antaranya:
a. Aspek-aspek naratif karya sastra dari kebudayaan yang berbeda-beda.
b. Penelitian aspek naratif sejak epik yang paling awal hingga novel yang paling modern.
c. Bentuk-bentuk arkhais dalam karya sastra, baik dalam konteks karya individual maupun generasi.
d. Bentuk-bentuk mitos dan sistem religi dalam karya sastra.
e. Pengaruh mitos, sistem religi, dan citra primordial yang lain dalam kebudayaan populer.

5. Pendekatan historis
Pendekatan historis menelusuri arti dan makna bahasa sebagaimana yang sudah tertulis, dipahami pada saat ditulis, oleh pengarang yang benar-benar menulis, dan sebagainya. Di dalam hubungan ini perlu juga menghubungkan dengan karya-karya lain. Pendekatan historis memusatkan perhatian pada masalah bagaimana hubungannya terhadap karya yang lain, sehingga dapat diketahui kualitas unsur-unsur kesejarahannya. Pendekatan historis mempertimbangkan relevansi karya sastra sebagai dokumen sosial.
Pendekatan historis pada umumnya lebih relevan dalam kerangka sejarah sastra tradisional, sejarah sastra dengan implikasi para pengarang, karya sastra, dan periode-periode tertentu, dengan obyek karya-karya sastra individual. Dengan mempertimbangkan indikator sejarah dan sastra, maka beberapa masalah yang menjadi obyek sasaran pendekatan historis, di antaranya:
a. Perubahan karya sastra dengan bahasanya sebagai akibat proses penerbitan ulang.
b. Fungsi dan tujuan karya sastra pada saat diterbitkan.
c. Kedudukan pengarang pada saat menulis.
d. Karya sastra sebagai wakil tradisi zamannya.

6. Pendekatan mitopoik
Secara etimologis mythopoic berasal dari myth atau mitos. Mitos dalam pengertian tradisional memiliki kesejajaran dengan fabel dan legenda. Namun, dalam pengertian modern menurut antropologi Frazerian dan psikologi Jungian (dalam Rohrberger dan Woods, 1971, hlm. 11-13) “mitos memiliki hubungan dengan masa lampau sebagai citra primordial dan arketipe”. Apabila pada awalnya mitos diartikan sebagai imajinasi yang sederhana dan primitif untuk menyusun suatu cerita, maka dalam pengertian modern mitos adalah struktur cerita itu sendiri. Karya sastra jelas bukan mitos, tetapi sebagai bentuk estetis karya sastra adalah minefestasi mitos itu sendiri.
Pendekatan mitopoik dianggap paling pluralis sebab memasukkan hampir semua unsur kebudayaan, seperti sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi, agama, filsafat, dan seni. Dengan kata lain, dalam pendekatan mitopoik peneliti harus sadar bahwa keragaman data harus dipahami secara metodologis sehingga diperoleh makna yang tunggal.
Kekayaan masalah-masalah kebudayaan Indonesia, termasuk karya sastranya, memberikan peluang yang menjanjikan bagi perkembangan pendekatan mitopoik. Pemahaman sastra Indonesia adalah pemahaman menyeluruh terhadap aspek-aspek kebudayaan yang melatarbelakanginya. Maka, cara penilitian ini dengan sendirinya sudah dimulai sejak lama.

7. Pendekatan ekspresif
Pendekatan ekspresif memiliki sejumlah persamaan dengan pendekatan biografis dalam hal fungsi dan kedudukan karya sastra sebagai manifestasi subyek kreator. Dikaitkan dengan proses pengumpulan data penelitian, pendekatan ekspresif lebih mudah dalam memanfaatkan data biografis dibandingkan dengan pendekatan biografis dalam memanfaatkan data pendekatan ekspresif. Pendekatan biografis pada umumnya menggunakan data primer mengenai kehidupan pengarang, oleh karena itu disebut sebagai data historiografi. Sebaliknya pendekatan ekspresif lebih banyak memanfaatkan data sekunder, data yang telah diangkat melalui aktivitas pengarang sebagai subyek pencipta, jadi sebagai data literatur.
Pendekatan ekspresif tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya sastra tersebut diciptakan, namun bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Apabila wilayah studi biografis terbatas pada diri pengarang dengan kualitas pikiran dan perasaannya, maka wilayah studi ekspresif adalah diri penyair, pikiran, dan perasaan, serta hasil-hasil ciptaannya. Melalui indikator kondisi sosiokultural pengarang dan ciri-ciri kreativitas imajinatif karya sastra, maka pendekatan ekspresif dapat dimanfaatkan untuk menggali ciri-ciri individualisme, nasionalisme, komunisme, dan feminisme dalam karya, baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.

8. Pendekatan mimetis
Menurut Abrams (1976, hlm. 8-9) “pendekatan mimetis merupakan pendekatan estetis yang paling primitif”. Akar sejarahnya terkandung pada pandangan Plato dan Aristoteles. Menurut Plato, dasar pertimbangannya adalah dunia pengalaman, yaitu karya sastra itu sendiri tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya, melainkan hanya sebagai peniruan. Secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. Pandangan ini ditolak Aristoteles dengan argumentasi bahwa karya seni berusaha menyucikan jiwa manusia. Di samping itu, karya seni juga berusaha membangun dunianya sendiri.
Pendekatan mimetis memiliki sejumlah persamaan dengan pendekatan sosiologis, bedanya pendekatan sosiologis tetap bertumpu pada masyarakat, sedangkan pendekatan mimetis bertumpu pada karya sastra. Pendekatan mimetis dipandang sebagai pendekatan yang paling beragam dan memiliki sejarah perkembangan yang paling panjang. Meskipun demikian, pendekatan ini sering dihindari sebagai akibat keterlibatan tokoh dalam dunia politik. Di Indonesia, misalnya selama hampir tiga dasawarsa, selama kekuasaan Orde Baru, pendekatan ini seolah-olah terlarang. Baru setelah zaman reformasi pendekatan ini dimulai lagi. Di Indonesia pendekatan mimetik perlu dikembangkan dalam rangka menopang keragaman khazanah kebudayaan. Pemahaman terhadap ciri-ciri kebudayaan kelompok yang lain dapat meningkatkan kualitas solidaritas sekaligus menghapus berbagai kecurigaan dan kecemburuan sosial.

9. Pendekatan pragmatis
Pendekatan pragmatis memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Subyek pragmatis dan subyek ekspresif, sebagai pembaca dan pengarang berbagi obyek yang sama, yaitu karya sastra. Perbedaannya, pengarang merupakan subyek pencipta, tetapi secara terus-menerus fungsi-fungsinya dihilangkan, bahkan pada gilirannya pengarang dimatikan. Sebaliknya, pembaca yang sama sekali tidak tahu tentang proses kreativitas diberikan tugas utama bahkan dianggap sebagai penulis (rewritten).
Pada tahap tertentu pendekatan pragmatis memiliki hubungan yang cukup dekat dengan sosiologi, yaitu dalam pembicaraan mengenai masyarakat pembaca. Pendekatan pragmatis memiliki manfaat terhadap fungsi-fungsi karya sastra dalam masyarakat, perkembangan, dan penyebarluasannya, sehingga manfaat karya sastra dapat dirasakan. Melalui indikator pembaca dan karya sastra, tujuan pendekatan pragmatis secara keseluruhan berfungsi untuk menopang teori resepsi, teori sastra yang memungkinkan pemahaman hakikat karya tanpa batas.
Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca, maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis, antara lain berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik sebagai pembaca eksplisit maupun implisit, baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis.

10. Pendekatan obyektif
Pendekatan obyektif dapat dibilang sebagai pendekatan yang terpenting sebab pendekatan apa pun yang digunakan pada dasarnya bertumpu atas karya sastra itu sendiri. Pendekatan obyektif semata-mata memusatkan perhatian pada unsur-unsur yang dikenal dengan analisis intrinsik. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik, seperti aspek historis, sosiologis, politis, dan unsur-unsur sosiokultural lain, termasuk biografi. Oleh karena itu, penedakatan obyektif dikenal juga dengan sebutan analisis otonomi, analisis ergocentric, atau pembacaan mikroskopi. Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur mendalam dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain.
Dengan adanya penolakan terhadap unsur-unsur ekstrinsik, maka masalah mendasar yang harus dipecahkan dalam pendekatan obyektif ialah harus dicari dalam karya tersebut, seperti citra bahasa, stilistika, dan aspek-aspek lain yang berfungsi untuk menimbulkan kualitas estetis. Pada sastra fiksi, misalnya yang dicari adalah unsur-unsur seperti plot, tokoh, latar, kejadian, sudut pandang, dan sebagainya. Melalui pendekatan obyektif, unsur-unsur intrinsik karya akan dieksploitasi semaksimal mungkin.

Referensi
Abrams, M. H. (1976). The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Oxford: Oxford University Press.
Berger, P. L., & Luckmann, T. (1973). The Social Construction of Reality: a Treatise in the Sociology of Knowledge. London: Penguin Books.
Poyatos, F. (1988). Literary Anthropology: a New Interdisciplinary Approach to Peoplem, Signs, and Literature. Amsterdam dan Philadelphia: John Benjamins Publishing Company.
Rohrberger, M., & Woods, Jr, S. H. (1971). Reading and Writing About Literature. New York: Random House.
Schellenberg, J. A. (1997). Tokoh-tokoh Psikologi Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Wellek, R., & Warren, A. (1962). Theory of Literature. New York: A Harvest Book Harcourt, Brace & World Inc.


EmoticonEmoticon