Friday, 4 August 2017

Tari Kecak



Tari Kecak
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Tari Kecak merupakan jenis tari tradisional dari Bali yang sangat memukau para penonton. Keunikan dari gerakan dan kemistikan dalam pertunjukan membuat tarian ini istimewa bagi kalangan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Tari Kecak
Tari Kecak

Tari Kecak diciptakan pada kisaran tahun 1930 oleh seorang penari sekaligus seniman dari Bali, yakni Wayan Limbak. Sebagai seorang seniman, Wayan Limbak sangat akrab dengan para seniman lain, seperti Walter Spies yang merupakan seorang pelukis dari negara Jerman. Kedua sahabat inilah yang menjadi pencetus tari Kecak yang kita kenal hingga saat ini.

Tari Kecak
Wayan Limbak dan Walter Spies

Tarian yang kerap dimainkan oleh laki-laki ini kini menjadi salah satu ikon kebudayaan Bali yang cukup mendapat sanjungan oleh para wisatawan yang berkunjung ke Bali. Meskipun gerakan yang dilakukan oleh para penari tergolong sederhana, namun pembawaan para penari yang berjumlah cukup banyak mulai dari puluhan hingga ribuan orang membuat gerakan yang dimainkan tergolong sangat unik dan menarik. Pementasan dan pertunjukan tari Kecak ini dapat dengan mudah kita saksikan di sejumlah wilayah Bali, seperti Uluwatu, Garuda Wisnu Kencana, Ubud, dan Gianyar Bali.
Ekspresi para penari para penari nan memukau membuat para penonton tercengang akan penampilan tari Kecak. Di samping itu, musik pengiring hampir tidak ada, hanya suara dan lantunan kata-kata yang berbunyi “cak-cak-cak-cak-cak” terdengar dalam mengiringi gerakan tarian.
Pada awal kemunculannya jenis tari ini tercipta secara tidak sengaja yang diambil dari tarian pemujaan yang dikenal dengan sebutan Sanghyang. Sanghyang adalah jenis tarian tradisional Bali yang dilakukan dalam upacara religi seperti menolak bala serta mengusir suatu wabah penyakit. Dari pementasan Sanghyang inilah, Wayang Limbak bersama Walter Spies berinovasi menciptakan sebuah gerakan tari sebagai salah satu wujud kecintaan mereka terhadap budaya dan kesenian Bali.
Tari Kecak disajikan oleh para penari yang duduk melingkar serta mengucapkan kata “cak-cak-cak-cak-cak” secara serentak, karena ini pula tarian ini diberi nama sebutan tari Kecak. Gerakan tangan yang disajikan dalam pertunjukan sebenarnya mengisahkan sebuah cerita Ramayana yakni pada peristiwa Dewi Shinta diculik oleh Rahwana. Hingga akhir pertunjukan biasanya tari ini menyajikan kisah pembebasan Dewi Shinta dari tangan Rahwana. Guna mendukung cerita yang disajikan, maka dalam pertunjukan tari tradisional Bali juga harus terdapat beberapa tokoh yang memerankan peran utama sebagai Hanoman, Sugriwa, Dewi Shinta, Rama, dan Rahwana.
Tari Kecak merupakan tarian yang berasal dari kreasi upacara Sanghyang. Karena upacara Sanghyang merupakan jenis kegiatan sakral dan hanya boleh dilakukan di Pura, maka Wayan Limbak berinovasi dari inspirasi gerakan Sanghyang menjadi gerakan tari yang terkenal hingga mancanegara.
Sebagai sarana hiburan, penciptaan gerakan tarian ini secara sadar dilakukan guna mempertunjukkan suatu kesenian khas Bali pada masyarakat umum. Tarian ini bertujuan sebagai sarana hiburan baik bagi masyarakat setempat maupun bagi para wisatawan mancanegara. Pada tarian yang berawal dari upacara Sanghyang ini juga terdapat kisah dan cerita yang tersirat dari awal hingga akhir pertunjukan.  Cerita pewayangan yang diangkat dalam sebuah gerakan tari merupakan inovasi baru dalam usaha melestarikan kebudayaan Hindu, khususnya dalam kisah Ramayana.
Tari Kecak juga memiliki properti khas yang menjadi ciri khas dalam sebuah pertunjukan kesenian tradisional. Adapun properti yang biasa digunakan dalam tari Kecak, antara lain:

1. Selendang

Tari Kecak

Selendang atau kain yang dikenakan oleh para penari tari Kecak memiliki corak kotak-kotak dengan warna hitam putih menyerupai papan catur.

2. Gelang kerincingan

Tari Kecak

Properti ini dikenakan baik pada pergelangan tangan dan sebagian juga pada pergelangan kaki. Gelang kincringan ini menimbulkan bunyi gemerincing pada saat gerakan tari dilakukan.

3. Tempat sesaji

Tari Kecak

Adanya tempat sesaji sebagai properti tari kecak menjadikan tarian ini sangat unik dan terkesan sakral. Terlebih asal-usul gerakan tari ini yang berasal dari sebuah upacara adat Sanghyang membuat tarian ini juga terkesan mistis bagi para penonton.

4. Topeng

Tari Kecak

Minimal terdapat tiga (3) topeng yang digunakan oleh penari utama yang berperan sebagai tokoh Hanoman, Sugriwa, dan Rahwana pada cerita yang disajikan selama tarian berlangsung.
Pertunjukan tari Kecak yang berfungsi sebagai usaha melestarikan kebudayaan, alur cerita yang disajikan dalam suatu pementasan biasanya berupa kisah diculiknya Dewi Shinta oleh Rahwana dan usaha Rama dalam membebaskan Dewi Shinta dari tangan Rahwana. Secara garis besar terdapat lima (5) bagian cerita yang mengisahkan, sebagai berikut:

1. Bagian 1

Tari Kecak

Menceritakan tentang keberadaan Rama dan Dewi Shinta di dalam hutan yang kemudian disusul kemunculan kijang emas. Pada akhir cerita bagian 1 ini, Shinta berhasil diculik oleh Rahwana dan dibawa ke Alengka yang menjadi kerajaan Rahwana.

2. Bagian 2

Tari Kecak

Pada bagian kedua ini Dewi Shinta ditawan di lingkungan kerajaan Alengka dengan dijaga Trijata yang merupakan keponakan dari Rahwana. Pada agenda ini terlihat Shinta bersedih hati akan peristiwa yang tengah menimpanya serta sangat berharap kedatangan Rama membebaskan dirinya dari Rahwana.

3. Bagian 3

Tari Kecak

Mengisahkan tentang kedatangan Rama ke negeri Alengka dengan bala tentaranya untuk membebaskan Dewi Shinta dari sekapan Rahwana. Pada awal pertempuran pihak Rama mengalami kekalahan melawan pasukan Rahwana. Setelah memanjatkan doa kepada Sang Dewa datanglah burung garuda menyelamatkan Rama dari pengaruh sihir yang dilakukan oleh keturunan Rahwana.

4. Bagian 4

Tari Kecak

Pertempuran antara Rama dan Rahwana kembali terjadi dan semakin seru. Pada bagian ini Sugriwa yang diperintahkan raja Rama berhasil mengalahkan Megananda.

5. Bagian 5

Tari Kecak

Merupakan puncak dari pertunjukan tari Kecak di mana menceritakan tentang kemenangan Rama atas Rahwana sehingga berhasil menemukan Dewi Shinta dan membebaskannya dari Rahwana. Cerita diakhiri dengan bertemunya kembali Rama dan Dewi Shinta serta beberapa pasukan pihak Rama seperti Hanoman dan Sugriwa.


EmoticonEmoticon