Sunday, 3 September 2017

Implementasi Pembelajaran Calistung di SD Kelas Rendah



Implementasi Pembelajaran Calistung di SD Kelas Rendah
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
Implementasi Pembelajaran Calistung di SD Kelas Rendah
Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Sekolah Dasar (SD) dilakukan melalui pembelajaran dengan pendekatan tematik terpadu dari kelas I sampai kelas VI. Pembelajaran bersifat tematik, artinya pembelajaran tersebut dikembangkan dari tema. Berangkat dari tema tersebut, siswa belajar tentang fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang selama ini ada pada mata pelajaran. Tema merupakan pemicu bagi siswa untuk mempelajari materi pelajaran. Sedangkan pembelajaran terpadu, berarti pembelajaran yang menggunakan tema untuk mengaitkan sejumlah mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
Pada implementasi Kurikulum 2013, tema tidak dinegosiasikan dengan siswa, tetapi telah ditetapkan oleh pemberintah. Untuk keperluan penerapan pembelajaran tematik terpadu di kelas, guru dapat mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tematik dengan memperhatikan silabus tematik, buku guru, dan buku siswa yang telah tersedia serta mengacu pada format dan sistematika RPP yang berlaku.
Calistung (baca, tulis, dan hitung) bukan merupakan mata, pelajaran tetapi calistung merupakan kemampuan dasar yang diajarkan di semua jenjang pendidikan. Pada perencanaan pembelajaran, guru tidak perlu menyiapkan RPP secara khusus untuk mengajarkan calistung, tetapi guru memberikan penguatan pada pembelajaran calistung pada setiap kegiatan pembelajaran.
Sejumlah cara dalam penguatan calistung pada pembelajaran, antara lain:
1. Menyisipkan atau menambahkan indikator yang berkaitan dengan calistung dalam jaringan tema.
2. Menambahkan kegiatan pembelajaran yang memberikan penguatan pada calistung dalam RPP.
Pembelajaran calistung adalah pembelajaran tematik terpadu yang mengaitkan atau memadukan sekurang-kurangnya dua mata pelajaran, misalnya bahasa Indonesia dan matematika dalam satu tema atau subtema. Pada implementasinya, guru tidak perlu membuat jaringan tema sendiri atau menyiapkan RPP tersendiri. Guru dapat mengambil dari jaringan tema atau subtema yang ada dalam buku guru, lalu melengkapi atau menambah indikator dan kegiatan pembelajarannya untuk mengajarkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.
Pada pembelajaran calistung di kelas rendah, guru harus memperhatikan input siswa, sebagai berikut:
1. Siswa yang belum pernah mengenyam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
2. Siswa yang pernah mengenyam pendidikan PAUD.
3. Siswa campuran, yang pernah mengenyam pendidikan PAUD dan yang tidak pernah mengenyam pendidikan PAUD.
Adapun berdasarkan kategori tersebut, strategi pembelajaran calistung yang dapat dilaksanakan, sebagai berikut:

1. Pembelajaran calistung bagi siswa SD kelas rendah yang belum pernah mengenyam pendidikan PAUD
Pembelajaran keterampilan berhitung harus didahului pemahaman terhadap konsep operasi hitung. Pembelajaran konsep operasi hitung melalui proses saintifik dapat dibantu dengan sejumlah media pembelajaran, alat peraga, atau memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar.
Keterampilan berhitung dibentuk melalui proses latihan dan pengulangan. Agar keterampilan berhitung ini semakin kuat, maka guru dapat memberikan latihan (mencongak) ketika siswa akan masuk ruang kelas. Sedangkan untuk pembelajaran membaca dan menulis permulaan dimulai dengan pengenalan konsep (makna) melalui gambar.
Setiap siswa diberi pertanyaan penjumlahan dan pengurangan bilangan di bawah seratus. Kesempatan ini dapat dilakukan ketika siswa akan keluar ruang kelas di saat akhir pelajaran, dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan siswa yang menjawab diperbolehkan keluar lebih dahulu. Cara lain dapat dilakukan dengan menggunakan kartu bilangan, kartu huruf yang sudah didesain untuk kepentingan tersebut.

2. Pembelajaran calistung bagi siswa SD kelas rendah yang pernah mengenyam pendidikan PAUD
Siswa yang sudah mengenyam PAUD biasanya sudah dikenalkan huruf, kosakata, kalimat-kalimat sederhana, angka, penjumlahan, serta pengurangan. Siswa mampu melakukan penjumlahan dan pengurangan sederhana (bilangan di bawah 20), siswa dapat bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia dan memahami perintah lisan. Siswa dapat menyusun kalimat yang terdiri atas 3-4 kata dibantu dengan menggunakan kartu kata. Namun, karena PAUD tidak secara resmi mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, maka perlu diduga bahwa pemahaman terhadap konsep penjumlahan dan pengurangan pada siswa tidak mendalam.
Demikan halnya dengan membaca dan menulis, khususnya belum lancar membaca nyaring dan belum sempurna merangkai huruf-huruf menjadi kata. Oleh karena itu, pembelajaran baca, tulis, dan hitung di kelas seperti ini lebih menekankan pada pemahaman konsep.

3. Pembelajaran calistung bagi siswa SD kelas rendah yang siswanya ada yang sudah mengenyam pendidikan PAUD dan ada yang tidak pernah mengeyam pendidikan PAUD
Guru dapat mengelompokkan siswa atas kelompok-kelompok dengan setiap kelompok beranggotan siswa yang pernah mengenyam pendidikan PAUD saja atau yang semuanya belum pernah mengenyam pendidikan PAUD. Masing-masing kelompok tersebut diberi kegiatan pembelajaran yang sesuai. Alternatif lain setiap kelompok merupakan gabungan dan siswa saling berbagi. Kelompok juga dapat dibagi secara berpasangan, antara yang pernah mengenyam pendidikan PAUD dan yang tidak pernah mengenyam pendidikan PAUD.


EmoticonEmoticon