Saturday, 9 September 2017

Model Pembelajaran Talking Stick



Model Pembelajaran Talking Stick
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Model Pembelajaran Talking Stick

Talking stick atau tongkat berbicara merupakan model pembelajaran yang pada mulanya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum (pertemuan antar suku). Talking stick telah digunakan selama berabad-abad oleh suku-suku Indian sebagai alat menyimak secara adil dan tidak memihak. Talking stick sering digunakan kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang memiliki hak bicara. Pada saat pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat berbicara.
Tongkat akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila semua mendapatkan giliran berbicara, tongkat tersebut lalu dikembalikan lagi ke pimpinan rapat. Berdasar hal tersebut dapat disimpulkan bahwa talking stick dipakai sebagai tanda seseorang mempunyai hak suara (bicara) yang diberikan secara bergiliran.
Isjoni (2010, hlm. 18) mengemukakan bahwa “talking stick termasuk salah satu metode pembelajaran kooperatif”. Pembelajaran kooperatif ini merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekeja secara kolaboratif dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Model pembelajaran talking stick termasuk dalam pembelajaran kooperatif karena memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan pembelajaran kooperatif, yakni:
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, atau jenis kelamin yang berbeda.
4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

Model pembelajaran talking stick dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Pembelajaran talking stick cocok digunakan pada seluruh jenjang pendidikan. Selain untuk melatih kemampuan berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat siswa aktif.
Pada setiap kegiatan belajar, tidak terlepas dari suatu tujuan yang hendap dicapai. Pada dasarnya, pencapaian tujuan pendidikan ditentukan oleh kemampuan guru, karena faktor pendidik sangat besar peranannya. “Sekiranya pendidik tersebut baik, maka hasil pendidikannya akan lebih baik pula. Sebaliknya, pendidik yang belum siap mengajar tidak akan berhasil di dalam pelaksanaan pengajaran dan pendidikan” (Mansyur, 1998, hlm. 48).
Menurut Isjoni (2010, hlm. 21)
cooperative learning dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik, sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial. Tujuan utama dalam penerapan model cooperative learning adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara kelompok”
Sedangkan menurut Eggen dan Kauchak (dalam Trianto, 2007, hlm. 42) “pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya”.
Adapun tujuan dari model talking stick dapat dilihat dari rumusan konsep model tersebut, yang di dalamnya memperhatikan partisipasi siswa dalam memperoleh dan memahami pengetahuan serta mengembangkannya.
Langkah-langkah penerapan model talking stick, sebagai berikut:
1. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5-6 orang.
2. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya kurang lebih 20 cm.
3. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan pada kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
4. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat pada materi pelajaran.
5. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan.
6. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawab, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan.
7. Siswa lain boleh membantu melengkapi jawaban, jika anggota kelompoknya tidak dapat menjawab pertanyaan.
8. Siswa bersama guru menarik kesimpulan.
9. Guru melakukan evaluasi, baik secara kelompok maupun individu.
10. Guru menutup pembelajaran.
Setiap model pembelajaran tentunya memiliki sejumlah kelebihan maupun kekurangan dalam penerapannya. Adapun kelebihan dari model pembelajaran talking stick menurut Sugiyanto (2008, hlm. 43), antara lain:
1. Meningkatkan kepekaan sosial.
2. Memungkinkan siswa saling belajar mengenal sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan.
3. Memudahkan siswa untuk melakukan penyesuaian sosial.
4. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
5. Menghilangkan sifat egoistik.
6. Meningkatkan rasa percaya diri siswa.
7. Belajar menghargai pendapat orang lain.
Sedangkan menurut Wina Sanjaya (2007, hlm. 33) kelemahan model talking stick, di antaranya:
1. Tidak rasional jika mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami perannya dalam penerapan model talking stick.
2. Memungkinkan adanya dominasi dari sejumlah siswa yang pintar.
3. Membutuhkan interaksi yang optimal baik antara guru dengan siswa, maupun antar siswa.
4. Keberhasilan pembelajaran dalam upaya mengembangkan kesadaran kelompok memerlukan periode waktu yang relatif panjang.
5. Membuat tegang sebagian siswa yang tidak terbiasa mengemukakan pendapat.

Referensi
Isjoni (2010). Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.
Mansyur (1998). Strategi Belajar Mengajar Modul. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Sanjaya, W. (2007). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Sugiyanto (2008). Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.
Trianto (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.


EmoticonEmoticon