Tuesday, 19 September 2017

Pendekatan Whole Language



Pendekatan Whole Language
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pendekatan Whole Language

Pandangan bahasa holistik atau dikenal dengan istilah whole language memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang bulat dan utuh. Pada hakikatnya “whole language merupakan falsafah pandangan atau keyakinan tentang hakikat belajar dan bagaimana anak belajar secara optimal” (Sabarti Akhadiah 1991, hlm. 4).
Whole language mengandung konsepsi bahwa bahasa merupakan gejala plural yang memiliki keutuhan. Sebab, sebagai bahan pembelajaran, bahasa tidak dapat disikapi sebagai gejala yang tersegmentasikan secara artifisial, melainkan disikapi sebagaimana gejala penggunaannya dalam berbagai peristiwa komunikasi. Sebagai wawasan yang ada dalam konteks pengajaran bahasa, penerapan whole language berimplikasi pada penyikapan bahasa sebagai bahan pembelajaran, bentuk pembelajaran, assessment, dan penilaian. Pada artian luas, “penerapan prinsip tersebut (whole language) berimplikasi pada perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program” (Aminuddin, 2007, hlm. 4).
Imam Syafi’ie (2007, hlm. 12) mengemukakan bahwa
“pendekatan integratif dalam pengajaran bahasa Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Kurikulum Bahasa Indonesia 1994 bersumber dari whole language, yaitu suatu pandangan kebenaran tentang hakikat proses belajar dan bagaimana mendorong proses tersebut agar dapat berlangsung secara efektif dan efisien sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam proses belajar mengajar di sekolah secara optimal”.
Pada pengertian ini, whole language dapat dipandang sebagai pendekatan dalam proses belajar mengajar bahasa. Sebagai suatu pendekatan, whole language berdasar pada sejumlah asumsi dari psikolinguistik, sosiolinguistik, psikologi perkembangan anak, teor belajar bahasa, dan pedagogi.
Goodman (dalam Puji Santosa, 2008, hlm. 2.3) menyatakan “whole language adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah”. Hal ini dipertegas oleh Mary Lynn Redmond (1994, hlm. 428) yang menyatakan “the whole language approach provides a learning environment in which the student participates in meaningful language experiences. Through the process of constructing language for communication purposes, the student develops the ability to listen, speak, read, and write in a natural manner”. Artinya, pendekatan whole language membutuhkan lingkungan pembelajaran yang mana siswa berpartisipasi dalam menyusun bahasa untuk berkomunikasi untuk maksud dan tujuan-tujuan tertentu. Pada pendekatan ini siswa memgembangkan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis dengan cara alami.
Froese (dalam Puji Santosa, 2008, hlm. 2) menambahkan bahwa “pemakaian pendekatan whole language menekankan pada kebebasan guru dalam pembelajaran bahasa”. Guru akan mudah menggunakan pendekatan whole language dalam pembelajaran bahasa, apabila bahasa yang diajarkan digunakan dalam aktivitas sehari-hari sehingga komponen bahasa tersebut menjadi berarti.
Eisele (dalam Puji Santosa, 2008, hlm. 3) menyatakan  bahwa prinsip-prinsip pendekatan whole language, sebagai berikut:
1. Anak tumbuh dan belajar lebih siap ketika mereka secara aktif mengajak dirinya sendiri untuk belajar;
2. Strategi dan kemahiran mereka pada proses kompleks seperti membaca dan menulis perlu difasilitasi oleh guru;
3. Untuk membangun munculnya kemampuan membaca dan menulis, siswa perlu mencoba untuk meniru strategi orangtua atau guru;
4. Pengajaran dengan whole language didasarkan pada pengamatan bahwa banyak hal yang dipelajari pada diri siswa, sehingga guru perlu memberikan kesempatan dan mendorong ke dalam proses belajar;
5. Pembelajaran dengan whole language merangsang siswa untuk belajar secara mandiri;
6. Guru dan siswa bersama-sama belajar dan mengambil resiko serta mengambil keputusan bersama dalam belajar;
7. Guru mengenalkan interaksi sosial kepada siswa, berbagi ide, berdiskusi, bekerjasama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam belajar;
8. Guru memberikan materi kepada siswa berupa tes agar mampu membedakan kemampuan mana yang belum optimal serta mendorong siswa untuk menemukan dan mengkritik kelemahan sendiri;
9. Penilaian disatukan dengan pembelajaran;
10. Guru membangun dan mengembangkan jenis tingkah laku serta sikap yang diperlukan dalam kemajuan belajar siswa.
Berdasar sejumlah uraian pendapat tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan whole language merupakan sebuah pendakatan di mana kompetensi-kompetensi berbahasa saling dihubungkan pada saat pembelajaran berlangsung, sehingga pada pembelajaran tersebut dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Teuku Alamsyah (2007, hlm. 14-17) mengemukakan bahwa ada delapan (8) komponen whole language, yakni:

1. Reading aloud (membaca bersuara)
Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswa. Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat pada buku teks atau buku cerita. Guru membacakan cerita dengan suara nyaring dan intonasi yang baik sehingga setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati cerita. Kegiatan ini akan sangat bermakna terutama jika diterapkan di kelas rendah.
Di sisi lain, pembelajaran reading aloud, guru dapat memberikan contoh membaca yang baik pada siswa. Pada kelas yang menerapkan whole language, reading aloud dapat dilakukan setiap hari saat memulai pembelajaran. Guru cukup menggunakan beberapa menit saja (misalnya 10 menit) untuk membaca cerita. Kegiatan ini juga dapat membantu guru untuk memotivasi siswa memasuki suasana belajar.

2. Journal writing (menulis jurnal)
Journal writing atau menulis jurnal merupakan sarana yang aman bagi siswa untuk mengungkapkan perasaannya, menceritakan kejadian di sekitarnya, mengutarakan hasil belajarnya, dan menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan. Pada dasarnya anak-anak dari berbagai macam latar belakang memiliki banyak cerita. Namun, umumnya mereka tidak sadar bahwa mereka memiliki cerita yang menarik untuk diungkapkan.
Tugas guru adalah mendorong siswa agar mau mengungkapkan cerita yang dimilikinya. Menulis jurnal bukanlah tugas yang harus dinilai, tetapi guru berkewajiban untuk membaca jurnal yang ditulis anak dan memberikan komentar atau respons terhadap cerita tersebut sehingga ada dialog antara guru dan siswa.

3. Sustained silent reading (membaca dalam hati)
Sustained silent reading adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan oleh siswa. Pada kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibaca. Biarkan siswa memilih bacaan yang sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka dapat menyelesaikan bacaan tersebut. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin menyediakan bahan bacaan yang menarik dari berbagai buku dan atau sumber sehingga memungkinkan siswa memilih materi bacaan. Guru dapat memberikan contoh sikap membaca dalam hati yang baik sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan membaca dalam hati untuk waktu yang cukup lama.

4. Shared reading (membaca bersama)
Shared reading merupakan kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa, di mana setiap orang memiliki buku yang sedang dibaca. Kegiatan ini dapat dilakukan baik di kelas rendah maupun kelas tinggi. Ada beberapa cara untuk melakukan hal ini, di antaranya:
a. Guru membaca dan siswa mengikutinya (untuk kelas rendah);
b. Guru membaca dan siswa menyimak sambil melihat bacaan yang tertera pada buku;
c. Siswa membaca bergiliran.

5. Guided reading (membaca terbimbing)
Pada guided reading, guru lebih berperan sebagai model dalam membaca. Di dalam guided reading atau disebut juga membaca terbimbing guru menjadi pengamat dan fasilitator. Membaca terbimbing penekanannya bukan dalam cara membaca itu sendiri, melainkan lebih pada membaca pemahaman. Pada guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama. Guru melemparkan pertanyaan yang meminta siswa menjawab dengan kritis, bukan sekedar pertanyaan pemahaman. Kegiatan ini merupakan kegiatan membaca yang penting dilakukan di kelas.

6. Guided writing (menulis terbimbing)
Guided writing atau menulis terbimbing, yaitu guru berperan sebagai fasilitator dengan membantu siswa menemukan hal yang ingin ditulisnya dengan jelas, sistematis, dan menarik. Guru bertindak sebagai pendorong bukan pengatur, sebagai pemberi saran bukan pemberi petunjuk. Pada kegiatan ini proses menulis dalam memilih topik, membuat draft, memperbaiki, dan mengedit dilakukan sendiri oleh siswa.

7. Independent reading (membaca bebas)
Independent reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. Membaca bebas merupakan bagian integral dari whole language. Pada independent reading siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru pun berubah dari pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator, dan pemberi respons.
Buku yang dibaca siswa untuk independent reading tidak selalu harus didapat dari perpustakaan sekolah, kelas, atau dipersiapkan oleh guru. Siswa dapat memperoleh buku dari berbagai sumber, seperti perpustakaan kota/kabupaten, buku di rumah, di toko buku, meminjam kepada teman, atau dari sumber lain. Inti dari independent reading adalah membantu siswa meningkatkan pemahaman, mengembangkan kosakata, melancarkan membaca, dan secara keseluruhan memfasilitasi membaca.

8. Independent writing (menulis bebas)
Independent writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam menulis. Pada menulis bebas siswa memiliki kesempatan untuk menulis tanpa ada interfensi dari guru. Siswa bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses menulis.
Adapun kelebihan dan kelemahan penerapan pendekatan whole language, sebagai berikut:
Kelebihan:
1. “Pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa, seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh, bermakna, dan dalam situasi nyata atau otentik” (Rigg dalam Puji Susanto, 2008, hlm. 2.3).
2. Pada pembelajaran whole language siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi. “Sebagai fasilitator, guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa” (Teuku Alamsyah, 2007, hlm. 23).
3. Pendekatan whole language secara spesifik mengarah pada pembelajaran bahasa Indonesia. Namun, “tidak tertutup kemungkinan dapat diterapkan dalam pembelajaran pelajaran lain” (Teuku Alamsyah, 2007, hlm. 13).
Kelemahan:
1. Pembiasaan pada penerapan pendekatan whole language memerlukan waktu yang cukup lama karena perubahan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati dan perlahan agar menghasilkan kelas whole language yang diinginkan.
2. Pada penerapan whole language “guru harus memahami dulu komponen-komponen whole language agar pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal” (Puji Santosa, 2008, hlm. 2.16).

Referensi
Akhadiah, S. (1991). Bahasa Indonesia I. Jakarta: Depdikbud.
Alamsyah, T. (2007). Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Calon Guru Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, 1 (1), hlm. 14-23.
Aminuddin (2007). Pembelajaran Terpadu Kurikulum 2013. Malang: Makalah Seminar JPBSI.
Redmond, M. L. (1994). Action Research in the World Language Classroom. Charlote: Information Age Publishing.
Santosa, P. (2008). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Syafi’ie, I. (2007). Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa. [Online]. Diakses dari: http://journal.um.ac.id/index.php/bahasa-seni/articel/view/2445.


EmoticonEmoticon