Saturday, 30 September 2017

Refleksi Pembelajaran



Refleksi Pembelajaran
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Refleksi Pembelajaran

Kegiatan refleksi pembelajaran merupakan kegiatan yang penting dilakukan untuk mengontrol tindakan guru. Guru dapat melihat apa yang masih perlu diperbaiki, ditingkatkan, atau diperhatikan dalam pembelajaran. Refleksi pembelajaran merupakan kegiatan yang perlu dilakukan ketika guru sebagai praktisi lapangan telah selesai melakukan tindakan. Hal ini merupakan bentuk evaluasi terhadap diri sendiri. “Guru menyampaikan segala kegiatan atau pengalaman yang telah dilakukan untuk didiskusikan, guru menyampaikan segala apa yang telah dirasakan dan menyampaikan sejauh mana progress atau kemajuan dari tindakan yang dilakukannya” (Arikunto, Suhardjono, dan Supardi, 2009, hlm. 19-20).
Menurut Tahir (2011, hlm. 93) “refleksi adalah suatu tindakan atau kegiatan untuk mengetahui serta memahami apa yang terjadi sebelumnya, belum terjadi, dihasilkan apa yang belum dihasilkan, atau apa yang belum tuntas dari suatu upaya atau tindakan yang telah dilakukan”.
Refleksi berarti kegiatan yang dilakukan untuk mengingat kembali suatu tindakan yang telah dilakukan dalam observasi. Refleksi pembelajaran mengkaji ulang apa yang telah terjadi atau mempertimbangkan proses, permasalahan, isu, dan kekurangan yang ada atau yang belum tuntas dari pembelajaran yang telah dilakukan. Refleksi menjadi dasar untuk mengetahui kembali rencana tindakan dengan memperhatikan variasi perspektif yang memiliki aspek evaluatif untuk mempertimbangkan atau menilai apakah dampak tindakan yang timbul sudah sesuai dengan yang diinginkan dan membuat perencanaan kembali. “Melalui refleksi maka dapat diketahui atau dipahami kelebihan dan kekurangan yang terjadi (dalam pembelajaran)” (Uno, Nina, dan Satria, 2012, hlm. 69).
“Kegiatan mengingat, merenungkan, mencermati, dan menganalisis kembali suatu tindakan yang telah dilakukan merupakan refleksi untuk memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala yang nyata selama proses pembelajaran” (Asrori, 2009, hlm. 54). Di dalam melakukan kegiatan refleksi, guru selain berperan sebagai peneliti itu sendiri juga perlu berkerjasama dengan rekan sejawat agar refleksi dapat dilakukan sampai pada tahap pemaknaan tindakan dan situasi dalam pembelajaran yang ada sehingga dapat memberikan dasar untuk memperbaiki rencana tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
Adapun jenis-jenis refleksi terbagi atas:
1. Refleksi atas tindakan (reflection on action)
Refleksi terhadap praktis, tindakan, dan pemikiran seseorang setelah melakukan sesi praktis.
2. Refleksi semasa tindakan (reflection in action)
Refleksi terhadap fenomena, pemikiran, dan tindakan semasa praktis.
3. Refleksi untuk tindakan (reflection for action)
Hasil yang diperlukan bertujuan memandu ke arah tindakan masa depan.
Tujuan dilaksanakan refleksi pembelajaran, di antaranya:
1. Menafsirkan kemahiran mengajar guru;
2. Menilai suatu strategi pembelajaran dan bahan-bahan pengajaran yang digunakan;
3. Menganalisis nilai-nilai pendidikan yang menjadi asas pembelajaran; dan
4. Mengkaji dan menjelaskan pegangan dan nilai pribadi dalam pembelajaran.
Refleksi pembelajaran memerlukan keterbukaan untuk melihat masalah dari semua aspek. Guru juga harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap pembelajaran yang telah ia laksanakan. Di dalam proses refleksi, guru harus memiliki komitmen untuk mensukseskan kegiatan pembelajaran.
Adapun ciri-ciri guru reflektif, yakni:
1. Senantiasa mempelajari dan memahami sesuatu yang baru berdasar pada pengalaman yang telah dilalui;
2. Dapat menghubungkan apa yang dipelajari atau dialami dengan tugas dan kehidupan sehari-hari;
3. Senantiasa melihat isu, situasi, atau masalah dari berbagai perspektif agar penyelesaian terbaik dapat dibuat secara sistematik;
4. Berupaya memperbaiki kesalahan dan perilaku semasa merencanakan dan melaksanakan pembelajaran;
5. Senantiasa mempelajari apa yang dibuat agar memberi makna kepadanya dalam konteks pribadi, profesi, masyarakat, dan negara; dan
6. Senantiasa berpikir tentang tujuan, isi kandungan, dan tindakan dalam konteks pembelajaran.

Referensi
Arikunto, S., Suhardjono, & Supardi (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Asrori, M. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV Wacana Prima.
Tahir, M. (2011). Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.
Uno, H. B., Nina, L., & Satria, K. (2012). Menjadi Peneliti PTK yang Profesional. Jakarta: Bumi Aksara.


EmoticonEmoticon