Friday, 27 October 2017

Anak Hiperaktif



Anak Hiperaktif
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Anak Hiperaktif

Istilah hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi, dan bertindak sekehendak hatinya atau atau implusif. Lebih lanjut, jika ditinjau secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian.
Terdapat dua (2) tipe anak hiperaktif, yakni:
1. Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian
Tipe ini merupakan tipe anak hiperaktif yang sangat mudah terganggu perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau implusif. Tipe ini tidak menunjukkan gejala hiperaktif. Tipe ini kebanyakan ada pada anak perempuan yang suka melamun serta dapat digambarkan seperti sedang berada di awang-awang.
2. Tipe anak yang hiperaktif dan implusif
Tipe hiperaktif ini menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif dan implusif, tetapi bisa memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan pada anak laki-laki.
Menurut Gillberg (dalam Lumbantobing, 1997, hlm. 22) “anak dengan kebutuhan khusus jauh lebih banyak yang menunjukkan abnormalitas psikiatrik yang sedang dan berat dibanding dengan anak intelegensi normal”. “Anak dengan gangguan sosial berat lainnya lebih dari seratus kali lebih sering dijumpai pada anak dengan retardasi mental dibanding anak dengan intelegensi normal. Anak hiperaktif yang klasik mengenai 5% anak dengan berkebutuhan khusus, namun kurang dari 0,05% anak dengan intelegensi normal” (Lumbantobing, 1997, hlm. 23). Tingkah laku lain yang sering dijumpai pada anak berkebutuhan khusus termasuk gerak motorik stereotip, dan hiperaktifitas yang berat. Kebiasaan memasukkan benda ke dalam mulut dapat menimbulkan bahaya, seperti memasukkan bunga, kertas, atau tanah ke dalam mulut dan kemudian menelannya. Hal yang tertelan tersebut dapat mengakibatkan diare, nyeri lambung, dan kadang-kadang membutuhkan intervensi bedah. Gejala tersebut lebih sering dijumpai pada retardasi mental yang berat.
Perbedaan jenis kelamin dapat menentukan peluang seorang anak untuk berperilaku hiperaktif. Anak laki-laki memiliki kemungkinan tiga (3) sampai empat (4) kali lebih besar untuk menjadi hiperaktif dibandingkan dengan anak perempuan, karena hiperaktifitas pada anak perempuan tidak begitu berkembang. Perilaku aktif yang berlebihan ini dibagi menjadi tiga (3), yakni:
1. Overaktifitas
Overaktifitas yakni perilaku anak tidak mau diam yang disebabkan kelebihan energi. Hal ini menandakan bahwa anak tersebut sehat, cerdas, dan penuh semangat. Tetapi overaktifitas sesaat dapat terjadi pada anak yang keaktifannya normal.
2. Hiperaktifitas
Hiperaktifitas yaitu pola perilaku overaktif yang cenderung tidak pada tempatnya. Ciri-ciri hiperaktifitas, sebagai berikut:
a. Sering meninggalkan tempat duduk saat mengikuti kegiatan di kelas atau kegiatan lain yang mengharuskannya tetap duduk;
b. Tangan dan kakinya sering tidak bisa diam atau banyak bergerak di tempat duduk;
c. Sering berlari-lari;
d. Tidak banyak mengikuti aktivitas atau bermain dengan tenang dan santai; serta
e. Sering banyak bicara.
3. Sindrom hiperkinetik
Sindrom hiperkinetik adalah bentuk semua hiperaktif berat, yang menyertai jenis kelambatan lain dalam perkembangan psikologi, misalnya sikap kikuk dan kesulitan bicara. Anak yang berperilaku sangat aktif pada usia dua (2) sampai tiga (3) tahun belum dapat dikategorikan hiperaktif, karena rentang aktifitas yang dianggap normal masih besar.
Karakteristik khusus anak hiperaktif menurut Lumbantobing (1997, hlm. 24) di antaranya:
1. Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat;
2. Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya anak duduk manis;
3. Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak selayaknya;
4. Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang;
5. Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh sesuatu dan tenaganya tidak pernah habis;
6. Sering terlalu banyak bicara;
7. Sering sulit menunggu giliran;
8. Sering memotong atau menyela pembicaraan;
9. Jika diajak bicara tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya.
Melihat penyebab hiperaktif belum pasti, maka tentunya terdapat sejumlah terapi atau cara dalam penanganannya. Menurut Prasetyono (2008, hlm. 117) ada lima terapi atau cara penanganan anak hiperaktif, yaitu “terapi medikasi atau farmakologi, terapi nutrisi atau diet, terapi biomedik, terapi modifikasi perilaku, dan terapi bermain”. Adapun penjabaran secara rincinya, sebagai berikut:
1. Terapi medikasi atau farmakologi
Terapi medikasi atau farmakologi adalah penanganan dengan obat-obatan. Terapi hendaknya hanya sebagai penunjang dan sebagai kontrol terhadap kemungkinan timbulnya impuls-impuls hiperaktif yang tidak terkendali.
2. Terapi nutrisi atau diet
Terapi ini banyak dilakukan dalam penanganan penderita hiperaktif, di antaranya adalah dengan keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan pencernaan (intenstinal permeability or leaky gut syndrome), penanganan alergi makan, atau reaksi simpang makanan lainnya.
3. Terapi biomedik
Terapi ini dilakukan dengan pemberian suplemen nutrisi, defisiensi mineral, asam lemak, gangguan metabolisme asam amino, dan toksisitas logam berat. Terapi inovatif yang pernah diberikan terhadap penderita hiperaktif adalah dengan terapi EEG biofeed back, terapi herbal, pengobatan homeopatik dan pengobatan tradisional Cina, seperti akupuntur.
4. Terapi modifikasi perilaku
Terapi modifikasi perilaku harus melalui pendekatan secara langsung dan lebih memfokuskan pada perubahan secara spesifik. Pendekatan ini cukup berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan, seperti interaksi sosial dan bahasa serta perawatan diri sendiri. Selain itu, hal ini juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agresif, emosi labil, dan melukai diri sendiri. Modifikasi perilaku merupakan pola penanganan yang paling efektif dengan pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustasi, marah serta berkecil hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri.
5. Terapi bermain
Terapi ini sangat penting untuk mengembangkan keterampilan, kemampuan gerak dan minat, serta terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan beraktivitas. Tetapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan.
Menurut Setiawan (2000, hlm. 137-141) terdapat empat langkah penanganan hiperaktif yang berdasarkan permasalahan, sebagai berikut:
1. Masalah intelek
Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. Mereka sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu, selain sulit menyelesaikan pelajaran, sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa. Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum, apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-langkah atau tahapan-tahapan. Anak sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya, kurang kendali diri, tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya, susah bergaul, dan kemampuan belajar lemah.
2. Masalah biologis
Anak suka berlari-lari dan sulit menyuruh anak diam. Anak suka meraba dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitar, suka berteriak, dan semangat berebut. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia, obat, bulu, debu, dan barang kosmetik. Anak juga sensitif terhadap makanan, sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun, serta kebiasaan tidur mereka bermacam-macam. Ada yang mimpi sambil berjalan, mengigau, atau mengompol. Anak tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga, seperti bersepeda atau lompat tali. Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah, misalnya bila disuruh menulis, mewarnai, atau menggambar anak tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik.
3. Masalah emosi
Anak hiperaktif umumnya bersifat egois, kurang sabar, dan emosional. Bila berbaris selalu berebutan, tidak sabar menunggu, bermain kasar, suka merusak, tidak takut bahaya, dan sembrono, sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. Pernyataan emosi sangat ekstrim dan kurang kendali diri. Emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga, kadang begitu senang dan ceria, tetapi sebentar kemudian marah dan sedih.
4. Masalah moral
Karena mengalami berbagai masalah seperti dikemukakan di atas, maka anak tidak memiliki kepekaan dalam hati. Anak dapat mencuri uang orangtua atau permen di toko, tidak mengembalikan barang yang dipinjam, masuk ke kamar orang lain, mencela pembicaraan orang, mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain, sehingga kesan orang banyak adalah anak tersebut bermasalah dan bermoral rendah.

Referensi
Lumbantobing, S. M. (1997). Anak dengan Mental Terbelakang. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Prasetyono, D. S. (2008). Rahasia Mengajarkan Gemar Membaca pada Anak Sejak Dini. Yogyakarta: Think Jogyakarta.
Setiawan, M. G. (2000). Menerobos Dunia Anak. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.


EmoticonEmoticon