Saturday, 21 October 2017

Balap Karung



Balap Karung
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Balap Karung

Terdapat banyak versi mengenai sejarah lomba balap karung. Sejumlah sumber menyatakan bahwa balap karung adalah untuk memperingati bagaimana kerja keras dan ekonomi lemah ketika masa penjajahan Belajaran dahulu. Karung merupakan satu-satunya barang yang bisa dimanfaatkan bagi sebagian besar warga Indonesia yang kurang mampu untuk dijadikan pakaian penutup badan. Setelah beberapa waktu berselang (sekitar setelah kemerdekaan) untuk memperingati masa-masa sulit dalam perjuangan diadakanlah lomba balapan menggunakan karung. Karung yang biasa digunakan zaman dahulu yakni karung goni yang terbuat dari rajutan  alami (bukan karung beras anyaman plastik yang banyak beredar sekarang).
Di sisi lain, sejumlah sumber berpendapat bahwa lomba balap karung dibawa oleh Belanda masuk ke Indonesia pada saat masa penjajahan dan mulai diperkenalkan ke berbagai tempat, baik di sekolah, instansi pemerintahan, desa, dan lain-lain. Di sekolah-sekolah yang didirikan oleh misionaris Belanda, biasanya mereka menggelar lomba balap karung ini pada setiap perayaan-perayaan Belanda. Anak sekolah usia 6-12 tahun paling sering terlihat memainkan permainan ini pada awalnya. Kemudian popularitasnya menyebar ke kampung-kampung.
Akhirnya, permainan ini dikenal masyarakat secara luas, tidak hanya anak-anak saja, orang dewasa pun menyukai permainan tradisional balap karung. Berkat antusiasme masyarakat, permainan ini tidak pernah lekang oleh waktu dan tetap ada hingga saat ini, terutama pada perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Untuk dapat memainkan permainan balap karung terdapat beberapa perlengkapan yang perlu disiapkan, di antaranya:
1. Karung yang digunakan untuk lomba. Dapat menggunakan karung beras atau karung terigu yang berkapasitas 50 kg.
2. Pekarangan untuk tempat bermain dengan panjang sekitar 15-20 meter dan lebar sekitar 3-4 meter.
3. Arena permainan diberi garis-garis batas sebanyak empat (4) hingga lima (5) jalur.
4. Peserta sebanyak 4-5 orang dalam satu kali perlombaan. Apabila terdapat peserta 20 orang atau lebih, maka perlombaan dapat dibagi menjadi beberapa babak penyisihan, kemudian dapat dibuat diagram pertandingan hingga pertandingan final.
Permainan balap karung dapat dilakukan secara individu ataupun estafet. Permainan dilakukan secara estafet apabila peserta berupa tim. Tantangannya semakin besar, sebab persaingan sengit antar tim akan terjadi. Adapun aturan permainan balap karung, sebagai berikut:
1. Apabila permainan dilakukan secara individu, maka setiap peserta akan berlomba meloncat di dalam karung mulai dari garis start hingga garis finish. Peserta yang mencapai garis finish paling cepat ialah pemenangnya.
2. Apabila permainan dilakukan oleh tim, maka permainan balap karung dilakukan secara estafet. Artinya, ketika satu pemain telah mencapai garis finish, ia harus berbalik kembali ke garis start, kemudian setelah mencapai garis start akan dilanjutkan oleh pemain kedua begitu seterusnya hingga pemain terakhir. Tim yang paling cepat selesai ialah pemenangnya.
Di dalam permainan tradisional balap karung terdapat banyak nilai yang terkandung. Permainan ini bukan sekedar untuk bersenang-senang, namun lebih dari itu ada banyak manfaat yang dapat kita peroleh, antara lain:
1. Nilai kerja keras
Kerja keras diperlukan setiap peserta untuk berjuang meloncat di dalam karung mulai dari garis start hingga garis finish.
2. Nilai sportivitas
Nilai sportivitas terbentuk ketika setiap orang dan setiap tim harus dengan lapang dada menerima apapun hasil pertandingan. Karena pada dasarnya ini merupakan permainan untuk menambah keakraban, bukan benar-benar kompetisi yang serius.
3. Nilai kerjasama
Nilai kerjasama sangat kental terasa pada permainan balap karung yang dilakukan secara estafet. Setiap anggota tim harus kompak dan berusaha sekuat tenaga agar dapat memenangkan pertandingan.
4. Nilai kekeluargaan
Kekeluargaan akan terjalin lebih kuat di antara peserta sebab permainan ini meskipun penuh perjuangan dan keringat, namun sangat menghibur dan membuat interaksi sosial antar peserta dan bahkan penonton menjadi semakin kuat.
5. Nilai kebersamaan
Nilai kebersamaan tercipta sebab permainan ini ialah permainan lintas batas gender, usia, ras, dan latar belakang. Semua orang dapat ikut serta bergembira dalam permainan ini.


EmoticonEmoticon