Sunday, 8 October 2017

Media Pembelajaran Wall Chart



Media Pembelajaran Wall Chart
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Media wall chart merupakan media yang berupa gambar, denah, bagan, atau skema, yang biasanya dapat digantungkan pada dinding di ruang kelas. Menurut Majid (2005, hlm. 178) “wall chart adalah bahan cetak, berupa bagan siklus/proses atau grafik yang bermakna menunjukkan proporsi tertentu”.
Media wall chart berupa gambar disebut juga carta gambar. Menurut Soeparno (1988, hlm. 19) “carta gambar merupakan gambar semantik yang hampir mirip dengan gambar berseri, namun tentu saja perbedaannya sangat terlihat jelas dengan gambar berseri”. Perbedaan carta gambar dengan gambar seri, antara lain: (1) gambar-gambar pada gambar seri merupakan rangkaian cerita, sedangkan gambar-gambar pada carta gambar bukan merupakan rangkaian cerita, hanya saja dikelompokkan menurut jenisnya, misalnya kelompok gambar benda tak hidup, kelompok benda hidup, dan sebagainya, (2) gambar-gambar pada gambar seri merupakan gambar memoris, sedangkan gambar-gambar pada carta gambar merupakan gambar semantik.
Wall chart termasuk media visual yang memiliki fungsi pokok sebagai penyaji ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan. Pesan yang disampaikan dalam wall chart berupa ringkasan visual suatu proses, perkembangan, atau hubungan-hubungan penting. Wall chart sering menampilkan jenis media lain, seperti gambar, diagram, kartun, atau lambang-lambang verbal. Media wall chart yang baik menurut Sadiman, Rahardjo, dkk., 2008, hlm. 35) yaitu “(1) dapat dimengerti anak, (2) sederhana dan lugas, tidak rumit atau berbelit-belit, (3) diganti pada waktu-waktu tertentu agar selain tetap termasa (up to date) juga tidak kehilangan daya tarik”.
Menurut Sudjana dan Rivai (2011, hlm. 37) prosedur yang disarankan untuk membuat wall chart di antaranya:
“(1) letakkan rencana suatu wall chart pada kertas dengan ukuran 21 x 27 cm/lebih, (2) usahakan wall chart dibuat sederhana, (3) buatlah wall chart yang cukup besar agar mudah dilihat, (4) buatlah wall chart semenarik mungkin, gunakan warna kontras dan isilah ruangan kosong, (5) utamakan kontras dengan cara memakai huruf dan gambar yang gelap pada latar belakang terang atau sebaliknya dan perhatikan bagian-bagian penting yang perlu ditonjolkan, (6) gunakan warna jika perlu, jangan gunakan warna secara berlebihan, (7) ingat peranan ruang yang penting, dan (8) bila rencana tersebut sudah lengkap, buatlah sket menggunakan pensil pada wall chart, kemudian dilengkapi.
Menurut Arsyad (2002, hlm. 11) “semakin tinggi tingkat keabstrakan pesan yang disampaikan dengan menggunakan lambang-lambang seperti chart, grafik, dan kata membuat indera yang dilibatkan untuk menafsirkan semakin terbatas, yaitu hanya indera penglihatan dan pendengaran”. Meskipun tingkat partisipasi fisik kurang, keterlibatan imajinatif semakin bertambah dan berkembang. Kemampuan interpretasi lambang kata membantu seseorang untuk memahami pengalaman yang di dalamnya ia terlibat langsung. Media wall chart menyajikan gambar, kata, dan bagan sebagai inti dari penyampaian pesan. Media wall chart memiliki tingkat keabstrakan tinggi karena hanya mengandung sedikit informasi dan pesan berupa lambang-lambang. Hal ini yang menjadi keunggulan media wall chart sebagai media visual.
Ismawati (2012, hlm. 114) memaparkan bahwa “penggunaan media wall chart sangat bergantung pada kreativitas guru”. Guru yang kreatif dapat memanfaatkan media tersebut untuk melatih berbagai keterampilan yang bervariasi. Peran media wall chart dalam keseluruhan pembelajaran menuntut persiapan yang matang karena membutuhkan keterampilan guru untuk berkreasi membuat media wall chart yang menarik agar pesan yang akan disampaikan guru mampu merangsang siswa. Salah satu alternatif bahan untuk membuat wall chart adalah banner. Pemilihan banner sebagai bahan dasar membuat wall chart  yaitu agar media tidak mudah robek dan rusak. Selain itu, penggunaan bahan dasar banner bertujuan agar wall chart dapat dipasang bongkar sesuai dengan kebutuhan.
Melalui media yang baik, pesan yang akan disampaikan oleh guru dalam proses pembelajaran tentunya akan mudah diterima oleh siswa. Siswa lebih antusias jika media yang digunakan oleh guru tidak monoton. Oleh karena itu, penggunaan media pembelajaran harus benar agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lancar dan terhindar dari resiko kerusakan media.
Berikut ini sejumlah contoh wall chart yang digunakan di Sekolah Dasar (SD):

Media Pembelajaran Wall Chart

Media Pembelajaran Wall Chart

Media Pembelajaran Wall Chart

Referensi
Arsyad, A. (2002). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Ismawati, E. (2012). Perencanaan Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Ombak.
Majid, A. (2005). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sadiman, A. S., Rahardjo, R., & dkk. (2008). Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Soeparno (1988). Media Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: PT Intan Pariwara.
Sudjana, N., & Rivai, A. (2011). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

2 comments

terima kasih kembali telah berkunjung ^-^


EmoticonEmoticon