Friday, 6 October 2017

Menggali, Merumuskan, dan Cara Menguji Hipotesis Penelitian



Menggali, Merumuskan, dan Cara Menguji Hipotesis Penelitian
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Menggali, Merumuskan, dan Cara Menguji Hipotesis Penelitian

Nazir (2005, hlm. 154) menyatakan bahwa “menemukan suatu hipotesis merupakan kemampuan peneliti dalam mengaitkan masalah-masalah dengan variabel-variabel yang dapat diukur dengan menggunakan suatu kerangka analisis yang dibentuknya”. Menggali dan merumuskan hipotesis memiliki seni tersendiri. Peneliti harus sanggup memfokuskan permasalahan sehingga hubungan-hubungan yang terjadi dapat diterka.
Menurut Nazir (2005, hlm. 154) dalam menggali hipotesis, peneliti harus:
1. Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan;
2. Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki;
3. Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.
Pada penelitian ilmu-ilmu sosial yang cukup berkembang, perumusan hipotesis dimulai dengan pembentukan kerangka analisis. Kerangka analisis ini biasanya dinyatakan dalam model matematika. Hipotesis-hipotesis dikaitkan dengan model matematika tersebut, yang kemudian diuji dengan menggunakan data empiris.
Goode dan Hatt (dalam Nazir, 2005, hlm. 155) memberikan empat sumber untuk menggali hipotesis, sebagai berikut:
1. Kebudayaan di mana ilmu tersebut dibentuk.
2. Ilmu itu sendiri yang menghasilkan teori, dan teori memberikan arah kepada penelitian.
3. Analogi juga merupakan hipotesis. Pengamatan terhadap jagad raya yang serupa atau pengamatan yang serupa pada ilmu lain merupakan sumber hipotesis yang baik. Mengamati respons berat hewan terhadap makanan, memberikan analogi tentang adanya respons tanaman terhadap zat hara. Berdasar hal tersebut dapat dirumuskan hubungan antara tumbuhan dengan zat hara dalam tanah.
4. Reaksi individu dan pengalaman. Reaksi individu terhadap sesuatu, ataupun pengalaman-pengalaman sebagai suatu konsekuensi dari suatu fenomena dapat menjadi sumber hipotesis. Reaksi tanaman terhadap pestisida, reaksi ayam terhadap suntikan suatu obat dapat menjadi sumber hipotesis.
Pendapat lain mengenai sumber hipotesis dikemukakan oleh Good dan Scates (dalam Nazir, 2005, hlm. 155). Ia memberikan sejumlah sumber yang dapat digunakan untuk menggali hipotesis, yakni:
1. Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam tentang ilmu.
2. Wawasan serta pengertian yang mendalam tentang suatu wawasan.
3. Imajinasi atau angan-angan.
4. Materi bacaan dan literatur.
5. Pengetahuan tentang kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang diselidiki.
6. Data yang tersedia.
7. Analogi atau kesamaan.
Nazir (2005, hlm. 156) menyatakan bahwa “merumuskan hipotesis bukanlah hal yang mudah”. Sekurang-kurangnya terdapat tiga (3) penyebab kesukaran dalam memformulasikan hipotesis, yaitu:
1. Tidak adanya kerangka teori atau pengetahuan tentang kerangka teori yang terang.
2. Kurangnya kemampuan untuk menggunakan kerangka teori yang sudah ada.
3. Gagal berkenalan dengan teknik-teknik penelitian yang ada untuk dapat merangkaikan kata-kata dalam membuat hipotesis secara benar.
Hipotesis dibentuk dengan suatu pernyataan tentang frekuensi kejadian atau hubungan antarvaraibel. Dapat dinyatakan bahwa sesuatu terjadi dalam suatu bagian dari seluruh waktu, atau suatu gejala diikuti oleh gejala lain, atau sesuatu lebih besar atau lebih kecil dari yang lain. Dapat juga dinyatakan tentang korelasi satu dengan yang lain.
Hipotesis dapat juga menegaskan rekaan bahwa suatu ciri atau keadaan adalah satu faktor yang menentukan ciri lain atau keadaan lain. Hipotesis bentuk ini disebut juga hipotesis sebab akibat atau hipotesis kausal.
Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian. Oleh karena itu, peneliti dituntut kemampuannya untuk dapat merumuskan hipotesis dengan jelas. Borg dan Gall (dalam Arikunto, 2002, hlm. 66) mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis, yakni:
1. Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas.
2. Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel.
3. Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan.
Margono (2004, hlm. 68) memberikan pedoman yang dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis. Pedoman tersebut, yaitu:
1. Hipotesis dinyatakan sebagai hubungan antara ubah-ubahan.
2. Hipotesis dinyatakan dalam kalimat pernyataan.
3. Hipotesis dapat diuji kebenarannya, atau peneliti dapat mengumpulkan untuk menguji kebenarannya.
4. Hipotesis dirumuskan dengan jelas.
Setelah hipotesis dirumuskan dan dievaluasi menurut kriteria tersebut, hipotesis kemudian diuji secara empiris. Hipotesis tersebut harus lulus dari tes empiris dan tes logika. Gagasan terbaik, pendapat para ahli, dan deduksi pun kadang-kadang dapat menyesatkan. Pada akhirnya, semuanya harus diuji melalui pengumpulan data yang teliti.
Menurut Furchan (2004, hlm. 130-131) untuk menguji hipotesis peneliti harus:
1. Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar.
2. Memiliki metode-metode penelitian yang akan memungkinkan pengamatan, eksperimentasi, atau prosedur lain yang diperlukan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak.
3. Menerapkan metode serta mengumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data atau tidak.
Seperti telah diketahui bersama bahwa fungsi hipotesis adalah untuk memberikan suatu pernyataan terkaan tentang hubungan tentatif antara fenomena-fenomena dalam penelitian. Kemudian hubungan-hubungan ini akan diuji validitasnya menurut teknik-teknik yang sesuai untuk keperluan pengujian. Bagi seorang peneliti, hipotesis bukan bukan merupakan suatu hal yang menjadi vested interest, dalam artian bahwa hipotesis harus selalu diterima kebenarannya. Jika hipotesis ditolak karena tidak sesuai dengan data, misalnya, keadaan ini tidak berarti peneliti akan kehilangan muka. Bahkan harga diri peneliti akan naik jika peneliti dapat menerangkan mengapa hipotesisnya tidak valid. Penolakan hipotesis dapat merupakan penemuan yang positif, karena telah memecahkan ketidaktahuan (ignorance) universal dan memberi jalan kepada hipotesis yang lebih baik. Akan tetapi, seorang ilmuwan tidak dapat mengetahui bukti positif atau negatif kecuali ilmuwan tersebut mempunyai hipotesis dan dia telah menguji hipotesis tersebut.
Hipotesis tidak pernah dibuktikan kebenarannya, tetapi diuji validitasnya. Kecocokan hipotesis dengan fakta bukanlah membuktikan hipotesis, karena bukti tersebut memberikan alasan kepada kita untuk menerima hipotesis, dan hipotesis adalah konsekuensi logis dari bukti yang diperoleh.
Untuk menguji hipotesis diperlukan data atau fakta-fakta. Kerangka pengujian harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum peneliti mengumpulkan data. Pengujian hipotesis memerlukan pengetahuan yang luas mengenai teori, kerangka teori, penguasaan penggunaan teori secara logis, statistik, dan teknik-teknik pengujian. Cara pengujian hipotesis bergantung dari metode dan disain penelitian yang digunakan. Yang penting disadari adalah hipotesis harus diuji dan dievaluasikan. Apakah hipotesis tersebut cocok dengan fakta atau dengan logika? Ilmuwan tidak akan mengakui validitas ilmu pengetahuan jika validitas tidak diuji secara menyeluruh. Satu kesalahan besar telah dilakukan jika dipikirkan bahwa hipotesis adalah fakta, walau bagaimanapun baiknya kita memformulasikan hipotesis tersebut.
Secara umum hipotesis dapat diuji denga dua cara, yaitu mencocokkan dengan fakta, atau dengan mempelajari konsistensi logis. Dalam menguji hipotesis dengan mencocokkan fakta, maka diperlukan percobaan-percobaan untuk memperoleh data. Data tersebut kemudian kita nilai untuk mengetahui apakah hipotesis tersebut cocok dengan fakta tersebut atau tidak. Cara ini biasa dikerjakan dengan menggunakan disain percobaan.
Jika hipotesis diuji dengan konsistensi logis, maka peneliti memilih suatu desain di mana logika dapat digunakan, untuk menerima atau menolak hipotesis. Cara ini sering digunakan dalam menguji hipotesis pada penelitian yang menggunakan metode noneksperimental seperti metode deskriptif, metode sejarah, dan sebagainya.

Referensi
Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Aksara.
Furchan, A. (2004). Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Margono (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nazir, M. (2005). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.


EmoticonEmoticon