Thursday, 12 October 2017

Metode Peer Teaching (Tutor Sebaya)



Metode Peer Teaching (Tutor Sebaya)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Metode Peer Teaching (Tutor Sebaya)

Metode pembelajaran peer teaching dikenal juga dengan istilah tutor sebaya. Peer teaching merupakan salah satu metode pembelajaran yang berbasis active learning. Sejumlah ahli percaya bahwa satu pelajaran benar-benar dikuasai hanya apabila peserta didik mampu mengajarkan pada peserta didik lainnya. Pembelajaran peer teaching merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan kemampuan mengajar teman sebaya. “Mengajar teman sebaya memberikan kesempatan dan mendorong pada peserta didik mempelajari sesuatu dengan baik, dan pada waktu yang sama ia menjadi narasumber bagi yang lain” (Sibermen, 2001, hlm. 157). Selanjutnya menurut Harsanto (2007, hlm. 43) apabila “dipandang dari tingkat partisipasi aktif siswa, keuntungan belajar secara berkelompok dengan tutor sebaya mempunyai tingkat partisipasi aktif siswa lebih tinggi”.
Hidayati (2004, hlm. 7) menyatakan bahwa “pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif dari pada pengajaran oleh guru”. Hal ini disebabkan latar belakang, pengalaman para siswa mirip satu dengan lainnya dibanding dengan skemata guru. Menurut Arikunto (1992, hlm. 62) “adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawan sebangku atau kawan yang lain karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya”.
Semiawan (2000, hlm. 69-70) mengemukakan dua macam bentuk peer teaching, yakni untuk aktivitas di sekolah dan di luar sekolah. Jika bantuan diberikan kepada teman sekelasnya di sekolah, maka:
1. Sejumlah siswa yang padai disuruh mempelajari suatu topik;
2. Guru memberi penjelasan umum tentang topik yang akan dibahas;
3. Kelas dibagi dalam kelompok dan siswa yang padai disebar ke setiap kelompok untuk memberikan bantuan;
4. Guru membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus;
5. Jika ada masalah yang tidak terpecahkan, siswa yang pandai meminta bantuan kepada guru; dan
6. Guru mengadakan evaluasi.
Jika bantuan diberikan kepada teman sekelasnya di luar kelas, maka:
1. Guru menunjuk siswa yang pandai untuk memimpin kelompok belajar di luar kelas;
2. Setiap siswa disuruh bergabung dengan siswa yang pandai tersebut, sesuai dengan minat, jenis kelamin, jarak tempat tinggal, dan pemerataan jumlah anggota;
3. Guru memberi tugas yang harus dikerjakan siswa di rumah;
4. Pada waktu yang telah ditentukan hasil kerja kelompok dibahas di kelas;
5. Kelompok yang baik diberi penghargaan;
6. Sewaktu-waktu guru berkunjung ke masing-masing kelompok untuk berdiskusi; dan
7. Tempat diskusi dapat berpindah-pindah atau bergiliran.
Peer teaching atau tutor sebaya harus dipilih dari siswa atau sekelompok siswa yang lebih pandai dibandingkan teman lainnya, sehingga dalam proses pembelajaran seorang tutor dapat memberikan pengayaan atau membimbing teman-temannya dan sudah menguasai bahan yang akan disampaikan kepada teman lainnya.
Guru dapat menunjuk dan menugaskan siswa yang pandai untuk memberikan penjelasan juga berbagi pengetahuan kepada temannya. Karena hanya guru yang mengetahui jenis kelemahan siswa, sedangkan tutor hanya membantu melaksanakan perbaikan bukan mendiagnosis. Demikian juga siswa yang merasa kurang dalam pelajaran dianjurkan untuk bertanya kepada teman sebayanya yang lebih pandai. Peer teaching melibatkan siswa belajar satu sama lain dengan cara berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman antar peserta didik. Hal ini menanamkan bahwa belajar tidak harus dengan guru di sekolah yang mengakibatkan siswa menjadi tergantung kepada guru.
Di dalam pemilihan tutor perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Tutor dapat diterima oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya;
2. Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan;
3. Tutor tidak tinggi hati, kejam, atau keras hati terhadap sesama kawan; dan
4. Tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada temannya.
Siswa yang ditunjuk sebagai tutor akan ditugaskan membantu siswa yang akan mendapat program perbaikan, sehingga setiap tutor harus diberikan petunjuk yang sejelas-jelasnya tentang apa yang harus dilakukan. Petunjuk ini memang mutlak diperlukan bagi setiap tutor karena hanya gurulah yang mengetahui kelemahan siswa, sedangkan tutor hanya membantu melaksanakan perbaikan, bukan mendiagnosa. Para tutor dilatih untuk mengajar berdasarkan materi yang telah ditentukan oleh guru. Hubungan tutor dengan siswa adalah hubungan antara kakak-adik atau antar kawan, kekakuan yang ada pada guru agar dihilangkan.
Tahap-tahap kegiatan pembelajaran menggunakan metode peer teaching, sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
a. Guru merancang setiap pengajaran satu pokok bahasan yang dirancang dalam bentuk penggalan-penggalan sub pokok bahasan. Setiap penggalan satu pertemuan yang di dalamnya mencakup judul penggalan, tujuan pembelajaran, khususnya petunjuk pelaksanaan tugas-tugas yang harus diselesaikan.
b. Menentukan sejumlah orang siswa yang memenuhi kriteria sebagai tutor sebaya. Jumlah tutor sebaya yang ditunjuk disesuaikan dengan jumlah kelompok yang dibentuk.
c. Mengadakan latihan bagi para tutor. Di dalam pelaksanaan tutor atau bimbingan, siswa yang menjadi tutor bertindak sebagai guru. Sehingga latihan yang diadakan oleh guru merupakan semacam pendidikan dasar dalam mengajar. Latihan diadakan dengan dua (2) cara, yaitu melalui latihan kelompok kecil di mana dalam hal ini yang mendapat latihan hanya siswa yang akan menjadi tutor, dan melalui latihan klasikal, di mana siswa seluruh kelas dilatih bagaimana proses pembimbingan berlangsung.
d. Pengelompokkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas empat (4) sampai lima (5) orang. Kelompok ini disusun berdasarkan variasi tingkat kecerdasan siswa.
2. Tahap pelaksanaan
a. Setiap pertemuan pada pembelajaran peer teaching, guru memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang materi yang akan diajarkan.
b. Siswa belajar dalam kelompoknya sendiri. Siswa yang telah ditunjuk menjadi tutor menanyai anggota kelompoknya secara bergantian tentang hal-hal yang belum dimengerti, demikian halnya dengan penyelesaian tugas. Apabila ada masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh tutor barulah meminta bantuan kepada guru.
c. Guru mengawasi proses pembelajaran peer teaching, guru berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok lain untuk memberikan bantuan jika ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kelompoknya.
3. Tahap evaluasi
a. Sebelum kegiatan pembelajaran dengan metode peer teaching diakhiri, guru memberikan soal-soal latihan kepada anggota kelompok (selain tutor) untuk mengetahui sejauh mana tutor menjelaskan materi.
b. Guru juga perlu mengingatkan siswa untuk mempelajari sub bahasan sebelumnya.
Peran guru dalam pembelajaran peer teaching ini hanya sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan intervensi ketika benar-benar diperlukan oleh siswa. Guru mengawasi kelancaran pelaksanaan pembelajaran peer teaching dengan memberikan pengarahan dan bantuan jika siswa mengalami kesulitan dalam belajar.
Metode pembelajaran peer teaching memiliki kelebihan menurut Arikunto (1992, hlm. 64-65), adapun kelebihan tersebut, di antaranya:
1. Adakala hasilnya lebih baik bagi beberapa siswa yang mempunyai perasaan takut atau enggan kepada gurunya;
2. Bagi tutor, pembelajaran ini akan memiliki akibat memperkuat konsep yang akan dibahas;
3. Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatih kesabaran; dan
4. Mempererat hubungan antar sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.
Adapun kelemahan dari penggunaan metode peer teaching, yakni:
1. Perlunya persiapan yang matang;
2. Kesiapan tutor menjadi penentu keberhasilan dari penggunaan metode ini; dan
3. Guru harus kreatif dalam menyajikan materi secara sederhana serta dapat dikuasai oleh tutor agar dapat disampaikan kembali kepada teman-teman lainnya.

Referensi
Arikunto, S. (1992). Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: Rajawali.
Harsanto, R. (2007). Pengelolaan Kelas yang Dinamis. Yogyakarta: Kasinius.
Hidayati, A. L. (2004). Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.
Semiawan, C. (2000). Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia.
Sibermen, M. L. (2001). 101 Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning). Jakarta: Yakpendis.


EmoticonEmoticon