Tuesday, 17 October 2017

Penelitian Studi Kasus



Penelitian Studi Kasus
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Penelitian Studi Kasus

“Para peneliti yang menggunakan studi kasus dianggap melakukan ‘keanehan’ dalam disiplin akademisnya karena tingkat ketetapannya (secara kuantitatif), objektivitas, dan kekuatan penelitiannya dinilai tidak memadai” (Yin, 1989, hlm. 1). Walaupun demikian, studi kasus tetap digunakan secara luas dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, baik dalam bidang psikologi, sosiologi, ilmu politik, antropologi, sejarah, dan ekonomi maupun dalam bidang ilmu-ilmu praktis, seperti pendidikan, perencanaan wilayah perkotaan, administrasi umum, ilmu-ilmu manajemen, dan lain sebagainya. Bahkan sering juga diaplikasikan untuk penelitian evaluasi yang menurut sebagian pihak merupakan bidang metode yang sarat dengan kuantitatifnya.
Creswell (1998, hlm. 37-38) memulai pemaparan studi kasus dengan gambar tentang kedudukan studi kasus dalam lima tradisi penelitian kualitatif, sebagai berikut:
Berdasar pada gambar tersebut dapat diungkapkan bahwa fokus sebuah biografi adalah kehidupan seorang individu, fokus fenomenologi adalah memahami sebuah konsep atau fenomena, fokus suatu teori dasar adalah seseorang yang mengembangkan sebuah teori, fokus etnografi adalah sebuah potret budaya dari suatu kelompok budaya atau suatu individu, dan fokus studi kasus adalah spesifikasi kasus dalam suatu kejadian baik itu yang mencakup individu, kelompok budaya, ataupun suatu potret kehidupan. Lebih lanjut Creswell mengemukakan sejumlah karakteristik dari suatu studi kasus yaitu: (1) mengidentifikasi kasus untuk suatu studi; (2) kasus tersebut merupakan sebuah sistem yang terikat oleh waktu dan tempat; (3) studi kasus menggunakan berbagai sumber informasi dalam pengumpulan data untuk memberikan gambaran secara rinci dan mendalam tentang respons dari suatu peristiwa; dan (4) menggunakan pendekatan studi kasus, peneliti akan menghabiskan waktu dalam menggambarkan konteks atau setting untuk suatu kasus. Hal ini mengisyaratkan bahwa suatu kasus dapat dikaji menjadi sebuah objek studi maupun mempertimbangkannya menjadi sebuah metodologi.
Dari paparan tersebut, dapat diungkapkan bahwa studi kasus adalah sebuah eksplorasi dari suatu sistem yang terikat atau suatu kasus/beragam kasus yang dari waktu ke waktu melalui pengumpulan data yang mendalam serta melibatkan berbagai sumber informasi yang kaya dalam suatu konteks. Sistem terikat ini diikat oleh waktu dan tempat sedangkan kasus dapat dikaji dari suatu program, peristiwa, aktivitas, atau suatu individu. Dengan kalimat lain, studi kasus merupakan penelitian di mana peneliti menggali suatu fenomena tertentu (kasus) dalam suatu waktu dan kegiatan (program, event, proses, institusi, atau kelompok sosial) serta mengumpulkan informasi secara rinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama periode tertentu.
Apabila kita akan memilih studi untuk suatu kasus, dapat dipilih dari beberapa program studi atau sebuah program studi dengan menggunakan berbagai sumber informasi meliputi: observasi, wawancara, materi audio-visual, dokumentasi, dan laporan. Konteks kasus dapat mensituasikan kasus di dalam setting-nya yang terdiri dari setting fisik maupun setting sosial, sejarah atau setting ekonomi. Sedangkan fokus di dalam suatu kasus dapat dilihat dari keunikannya, memerlukan suatu studi (studi kasus intrinsik) atau dapat pula menjadi suatu isu dengan menggunakan kasus sebagai instrumen untuk menggambarkan isu tersebut (studi kasus instrumental). Ketika suatu kasus diteliti lebih dari satu kasus hendaknya mengacu pada studi kasus kolektif. Untuk itu, struktur studi kasus terdiri atas masalah, konteks, isu, dan pelajaran yang dipelajari.
Pendekatan studi kasus lebih disukai untuk penelitian kualitatif. Hal tersebut seperti yang diungkap oleh Patton (1991, hlm. 23) bahwa “kedalaman dan detail suatu metode kualitatif berasal dari sejumlah kecil studi kasus”. Oleh karena itu, penelitian studi kasus membutuhkan waktu lama yang berbeda-beda. Namun pada saat ini, penulis studi kasus dapat memilih pendekatan kualitatif atau kuantitatif dalam mengembangkan studi kasusnya. Seperti yang dilakukan oleh Yin (1989) mengembangkan studi kasus kualitatif deskriptif dengan bukti kuantitatif. Merriam (1988) mendukung suatu pendekatan studi kasus kualitatif dalam bidang pendidikan. Hamel (1993)  seorang sosiolog menunjukkan pendekatan studi kasus kualitatif untuk sejarah. Stakes (1995) menggunakan pendekatan ekstensif dan sistematis untuk penelitian studi kasus. Untuk itu, disarankan bagi peneliti yang akan mengembangkan penelitian studi kasus hendaknya, pertama mempertimbangkan tipe kasus yang paling tepat. Kasus tersebut dapat merupakan suatu kasus tunggal atau kolektif, banyak tempat atau di dalam tempat, berfokus pada suatu kasus atau suatu isu. Kedua, dalam memilih kasus yang akan diteliti dapat dikaji dari berbagai aspek seperti beragam perspektif dalam permasalahan, proses, atau, peristiwa.
Lebih lanjut Cresswell (dalam Paton, 1991, hlm. 63) mengemukakan sejumlah tantangan dalam perkembangan studi kasus kualitatif, sebagai berikut:
1. Peneliti hendaknya dapat mengidentifikasi kasusnya dengan baik;
2. Peneliti hendaknya mempertimbangkan apakah akan mempelajari sebuah kasus tunggal atau multikasus;
3. Di dalam memilih suatu kasus diperlukan dasar pemikiran dari peneliti untuk melakukan strategi sampling yang baik sehingga dapat mengumpulkan informasi tentang kasus tersebut dengan baik;
4. Memiliki banyak informasi untuk menggambarkan secara mendalam suatu kasus tertentu. Di dalam merancang sebuah studi kasus, peneliti dapat mengembangkan sebuah matriks pengumpulan data dengan berbagai informasi yang dikumpulkan mengenai suatu kasus;
5. Memutuskan batasan sebuah kasus. Batasan-batasan tersebut dapat dilihat dari aspek waktu, peristiwa, dan proses.
Pada studi kasus kualitatif, seseorang dapat menyusun pertanyaan maupun sub pertanyaan melalui isu dalam tema yang dieksplorasi, juga sub pertanyaan tersebut dapat mencakup langkah-langkah dalam prosedur pengumpulan data, analisis, dan konstruksi format naratif. Sub pertanyaan yang dapat memandu peneliti dalam melakukan penelitian studi kasus, misalnya:
1. Apa yang terjadi?
2. Siapa yang terlibat dalam respons terhadap suatu peristiwa tersebut?
3. Tema respons apa yang muncul selama delapan (8) bulan mengikuti peristiwa tersebut?
4. Konstruksi teori apa yang dapat membantu kita memahami respons?
5. Konstruksi apa yang unik dalam kasus tersebut?
Sedangkan pertanyaan-pertanyaan prosedural, misalnya:
1. Bagaimana suatu kasus dan peristiwa tersebut digambarkan? (deskripsi kasus).
2. Tema apa yang muncul dari pengumpulan informasi tentang kasus? (analisis materi kasus).
3. Bagaimana peneliti menginterpretasikan tema-tema dalam teori sosial dan psikologi yang lebih luas? (pelajaran yang dipelajari dari kasus berdasarkan literatur).
Pengumpulan data dalam studi kasus dapat diambil dari berbagai sumber informasi, karena studi kasus melibatkan pengumpulan data yang kaya untuk membangun gambaran yang mendalam dari suatu kasus. Yin (1989, hlm. 103) mengungkapkan bahwa terdapat enam bentuk pengumpulan data dalam studi kasus yaitu:
“(1) dokumentasi yang terdiri dari surat, memorandum, agenda, laporan-laporan suatu peristiwa, proposal, hasil penelitian, hasil evaluasi, kliping, artikel; (2) rekaman arsip yang terdiri dari rekaman layanan, peta, data survei, daftar nama, rekaman-rekaman pribadi seperti buku harian, kalender, dan sebagainya; (3) wawancara biasanya bertipe open-ended; (4) observasi langsung; (5) observasi partisipan; dan (6) perangkat fisik atau kultural yaitu peralatan teknologi, alat atau instrumen, pekerjaan seni, dan lain-lain”.
Lebih lanjut Yin (1989, hlm. 119) mengemukakan bahwa keuntungan dari keenam sumber bukti tersebut dapat dimaksimalkan bila tiga prinsip berikut diikuti, yaitu: “(1) menggunakan bukti multisumber; (2) menciptakan data dasar studi kasus, seperti catatan-catatan studi kasus, dokumen studi kasus, bahan-bahan tabulasi, narasi; dan (3) memelihara rangkaian bukti.
Menganalisis data studi kasus adalah suatu hal yang sulit karena strategi dan tekniknya belum teridentifikasi secara baik. Tetapi setiap penelitian hendaknya dimulai dengan strategi analisis umum yang mengandung prioritas tentang apa yang akan dianalisis dan mengapa. Demikian pula dengan studi kasus, untuk studi kasus seperti halnya etonografi analisisnya terdiri atas deskripsi terinci tentang kasus beserta setting-nya. Apabila suatu kasus menampilkan kronologis suatu peristiwa maka menganalisisnya memerlukan banyak sumber data untuk menentukan bukti pada setiap fase dalam evolusi kasusnya. Terlebih lagi untuk setting kasus yang unik, kita hendaknya menganalisa informasi untuk menentukan bagaimana peristiwa tersebut terjadi sesuai dengan setting-nya.
Persiapan terbaik untuk melakukan analisis studi kasus adalah memiliki suatu strategi analisis. Tanpa strategi yang baik, analisis studi kasus akan berlangsung sulit karena peneliti bermain dengan data yang banyak dan alat pengumpul data yang banyak pula. Yin merekomendasikan enam tipe sumber informasi seperti yang telah dikemukakan. Tipe analisis data ini berupa analisis holistik, yaitu analisis keseluruhan kasus atau berupa analisis terjalin, yaitu suatu analisis untuk kasus yang spesifik, unik, atau ekstrim. Lebih lanjut Yin (1989, hlm. 140) membagi tiga teknik analisis untuk studi kasus, yaitu:
“(1) penjodohan pola, yaitu dengan menggunakan logika pendodohan pola. Logika seperti ini membandingkan pola yang didasarkan atas data empirik dengan pola yang diprediksikan (atau dengan beberapa prediksi alternatif). Jika kedua pola ini ada persamaan, hasilnya dapat menguatkan validitas internal studi kasus yang bersangkutan; (2) pembuatan eksplanasi, yang bertujuan untuk menganalisis data studi kasus dengan cara membuat suatu eksplanasi tentang kasus yang bersangkutan; dan (3) analisis deret waktu, yang banyak digunakan untuk studi kasus yang menggunakan pendekatan eksperimen dan kuasi eksperimen”.
Pada studi kasus melibatkan pengumpulan data yang banyak karena peneliti mencoba untuk membangun gambaran yang mendalam dari suatu kasus. Untuk itu, diperlukan suatu analisis yang baik agar dapat menyusun suatu deskripsi rinci dari kasus yang muncul. Misalnya, analisis tema atau isu, yakni analisis suatu konteks kasus atau setting di mana kasus tersebut dapat menggambarkan dirinya sendiri. Peneliti mencoba untuk menggambarkan studi ini melalui teknik seperti sebuah kronologi peristiwa-peristiwa utama yang kemudian diikuti oleh suatu perspektif rinci tentang beberapa peristiwa. Ketika banyak kasus yang akan dipilih, peneliti sebaiknya menggunakan analisis dalam kasus yang kemudian diikuti oleh sebuah analisis tematis di sepanjang kasus tersebut yang acapkali disebut analisis silang kasus untuk menginterpretasikan makna dalam kasus.
Tidak ada format standar untuk melaporkan penelitian studi kasus. Lebih lanjut Yin (1989, hlm. 169) menyatakan bahwa “tahap pelaporan merupakan salah satu tahap yang sebenarnya paling sulit dalam menyelenggarakan studi kasus”. Studi kasus membentuk struktur yang lebih besar dalam bentuk naratif tertulis. Hal ini disebabkan suatu studi kasus menggunakan teori dalam dideskripsikan kasus atau beberapa analisis untuk menampilkan perbandingan kasus silang atau antar tempat. Disarankan bahwa untuk menyusun laporan studi kasus seorang peneliti hendaknya menyusun rancangan beberapa bagian laporan daripada menunggu sampai akhir proses analisis data. Pada menyusun laporan studi kasus, Yin (1989, hlm. 169) menyarankan enam bentuk alternatif yaitu: “komparatif, kronologis, pembangunan teori, ketegangan, dan tak berurutan”.
Peneliti dapat membuka dan menutup dengan suatu gambaran untuk menarik pembaca ke dalam suatu kasus. Gambaran umum bagi penyerapan ide-ide dalam suatu studi kasus, sebagai berikut:
1. Peneliti hendaknya membuka dengan sebuah gambaran umum sehingga pembaca dapat mengembangkan sebuah pengalaman yang mewakilinya untuk mendapatkan suatu feeling dari waktu dan tempat yang diteliti.
2. Kemudian, peneliti mengidentifikasi isu-isu, tujuan, dan metode studi sehingga pembaca dapat mempelajari mengenai bagaimana studi tersebut, latar belakang, dan isu-isu seputar kasus.
3. Hal ini kemudian diikuti oleh deskripsi ekstensif tentang kasus dan konteksnya.
4. Agar pembaca dapat memahami kompleksitas dari suatu kasus, peneliti agar menampilkan beberapa isu-isu kunci. Kekompleksan ini dibangun melalui referensi hasil penelitian maupun pemahaman pembaca terhadap suatu kasus.
5. Kemudian beberapa isu diteliti lebih jauh. Pada poin ini peneliti hendaknya memilah dengan baik data yang terkumpul.
6. Peneliti menyusun suatu ringaksan tentang apakah peneliti memahami kasus tersebut, apakah melakukan generalisasi naturalistik awal, kesimpulan yang diambil apakah merupakan pengalaman pribadi atau pengalaman yang mewakili bagi pembacanya yang kemudian membentuk persepsi pembaca.
7. Pada akhirnya peneliti mengakhiri paparannya dengan sebuah gambaran penutup, sebuah catatan pengalaman yang mengingatkan pembaca bahwa laporan ini adalah pengalaman seseorang yang mengalami suatu kasus kompleks.

Referensi
Creswell, J. W. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Tradition. London: SAGE Publications.
Paton, M. Q. (1991). How to Use Qualitative Methods in Evaluation. London: SAGE Publications.
Yin, R. K. (1989). Case Study Research Design and Methods. Washington: COSMOS Corporation.


EmoticonEmoticon