Thursday, 9 November 2017

Karakteristik Anak Tunalaras



Karakteristik Anak Tunalaras
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Karakteristik Anak Tunalaras

Anak tunalaras merupakan anak yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Bower (dalam Delphie, 2006, hlm. 17) mengemukakan bahwa anak tunalaras atau emotionally handicapped atau behavioral disorder adalah “anak dengan hambatan emosional atau kelainan perilaku”. Seorang anak terindikasi tunalaras apabila menunjukkan satu atau lebih dari lima komponen berikut: (1) tidak mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, sensori, atau kesehatan; (2) tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru; (3) bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya; (4) secara umum selalu dalam keadaan tidak gembira atau depresi; dan (5) bertendensi ke arah gangguan psikis, seperti merasa sakit atau ketakutan yang berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.
Udin dan Tejaningsih (1998, hlm. 11) mengemukakan bahwa anak tunalaras adalah “anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan sosial atau emosinya sehingga dimanifestasikan lewat tingkah laku melanggar norma hukum, sosial, agama yang berlaku di lingkungan dengan frekuensi yang cukup tinggi”. Sedangkan Somantri (2007, hlm. 139) menjelaskan bahwa anak tunalaras adalah “anak yang mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan tingkah laku, sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat”. Anak tunalaras mencerminkan tingkah laku suka menarik diri dari lingkungan, sehingga merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Anak tunalaras juga sering disebut dengan istilah tunasosial karena tingkah laku anak tunalaras menunjukkan pertentangan terhadap norma-norma sosial masyarakat yang berwujud, seperti mencuri, mengganggu, dan menyakiti orang lain.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut, disimpulkan bahwa anak tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan emosi dan penyimpangan tingkah laku serta kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Anak tunalaras memiliki kebiasaan melanggar norma dan nilai kesusilaan maupun sopan santun yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, termasuk sopan santun dalam berbicara, bertingkah laku, dan bersosialisasi dengan orang lain.
Ibrahim (2005, hlm. 48) mengelompokkan secara garis besar sebab-sebab anak menjadi tunalaras, sebagai berikut:
1. Faktor psychologis, yakni gangguan tingkah laku yang disebabkan terganggunya faktor psikologis. Terganggunya faktor psikologis biasanya diwujudkan dalam bentuk tingkah laku yang menyimpang, seperti abnormal fixation, agresif, regresif, resignation, dan concept of discrepancy.
2. Faktor psychososial, yakni gangguan tingkah laku yang tidak hanya disebabkan oleh adanya frustasi, melainkan juga ada pengaruh dari faktor lain, seperti pengalaman masa kecil yang tidak atau kurang baik bagi perkembangan anak.
3. Faktor psysiologis, yakni gangguan tingkah laku yang disebabkan terganggunya proses aktivitas organ-organ tubuh, sehingga tidak atau kurang berfungsi sebagaimana mestinya, seperti terganggu atau adanya kelainan pada otak, hyperthyroid, dan kelainan saraf motoris.
Dilihat dari gejala gangguan tingkah laku anak tunalaras menurut Ibrahim (2005, hlm. 48) dapat dikelompokkan, sebagai berikut:
1. Socially maladjusted children
Socially maladjusted children adalah anak yang terganggu aspek sosialnya. Kelompok ini menunujukkan tingkah laku yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik menurut ukuran norma-norma masyarakat dan budaya setempat, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Kelompok ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yakni:
a. Semi socialized children, yaitu kelompok anak yang masih dapat melakukan hubungan sosial yang terbatas pada kelompok tertentu.
b. Socialized primitive children, yaitu anak yang dalam perkembangan sikap-sikap sosialnya sangat rendah yang disebabkan tidak adanya bimbingan dari orangtua pada masa kecil.
c. Unsocialized children, yaitu kelompok anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan dan penyesuaian sosial yang sangat berat.
2. Emotionally disturbed children
Emotionally disturbed children yaitu kelompok anak yang terganggu perkembangan emosinya. Kelompok ini menunjukkan adanya ketegangan batin, kecemasan, penderita neorotis atau bertingkah laku psikotis. Kelompok ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Gangguan jiwa psikotik, yaitu tipe yang terberat sakit jiwanya.
b. Gangguan psikoneurotik, yaitu kelompok yang terganggu jiwanya lebih ringan dari psikotik.
c. Gangguan psikosomatis, yaitu kelompok anak yang terganggu emosi sebagai akibat adanya tekanan mental, gangguan fungsi reinforcement, dan faktor lainnya.
Karakteristik anak tunalaras menurut Moh. Amin (1991, hlm. 52-53), sebagai berikut:
1. Karakteristik akademik
Kelainan perilaku anak tunalaras mengakibatkan penyesuaian sosial dan sekolah yang buruk. Akibatnya, dalam belajar memperlihatkan ciri-ciri, sebagai berikut:
a. Hasil belajar di bawah rata-rata;
b. Sering berurusan dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK);
c. Tidak naik kelas;
d. Sering membolos; dan
e. Sering melakukan pelanggaran, baik di sekolah maupun di masyarakat.
2. Karakteristik sosial
Karakteristik sosial anak tunalaras memperlihatkan ciri-ciri, sebagai berikut:
a. Berperilaku melanggar norma budaya;
b. Berperilaku bersifat mengganggu dan dapat dikenai sanksi oleh kelompok sosial;
c. Berperilaku agresif, seperti tidak mengikuti aturan, bersifat menganggu, bersifat membangkang, menentang, dan tidak dapat bekerjasama; dan
d. Melakukan tindakan yang melanggar hukum dan kejahatan remaja.
3. Karakteristik emosional
Karakteristik emosional anak tunalaras memperlihatkan ciri-ciri, sebagai berikut:
a. Tekanan batin dan rasa cemas; serta
b. Gelisah, rasa malu, rendah diri, ketakutan, dan perasa/sensitif.
4. Karakteristik fisik/kesehatan
Pada anak tunalaras umumnya masalah fisik/kesehatan yang dialami berupa gangguan makan, gangguan tidur atau gangguan gerakan. Umumnya mereka merasa ada yang tidak beres dengan jasmaninya, mudah mengalami kecelakaan, merasa cemas terhadap kesehatan, seolah merasa selalu sakit, dan sebagainya. Kelainan lain juga yang dapat terjadi, seperti gagap, buang air tidak terkontrol, sering mengompol, dan lain-lain.

Referensi
Amin, M. (1991). Ortopedagogik Tunagrahita. Jarakta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Delphie, B. (2006). Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Universitas Terbuka.
Ibrahim, R. (2005). Psikologi Olahraga. Bandung: UPI.
Somantri, S. (2007). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.
Udin, T., & Tejaningsih (1998). Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka.


EmoticonEmoticon