Saturday, 4 November 2017

Media Pembelajaran Video



Media Pembelajaran Video
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Media Pembelajaran Video

Media pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. “Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar” (Murafokah, 2009, hlm. 104).
Media pembelajaran video dapat digolongkan ke dalam jenis media audio visual aids (AVA) atau media yang dapat dilihat dan didengar. Video berasal dari bahasa Latin, video, vidi, dan visum, yang berarti melihat, mempunyai daya penglihatan, dan dapat melihat. Secara bahasa, video berarti rekaman, gambar hidup, atau program televisi untuk ditayangkan lewat televisi atau tayangan gambar gerak yang disertai dengan suara. Arsyad (2011, hlm. 49) menyatakan bahwa “video merupakan gambar-gambar dalam frame, di mana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar hidup”.
Berdasar sejumlah pengertian tersebut, disimpulkan bahwa video merupakan jenis media audio-visual yang dapat menggambarkan suatu objek bergerak dan suara. Video dapat melukiskan gambar hidup dan suara yang menjadi daya tarik tersendiri.
Anderson (1987, hlm. 104) mengemukakan sejumlah tujuan dari pembelajaran menggunakan media pembelajaran video, sebagai berikut:
1. Tujuan kognitif
a. Dapat mengembangkan kemampuan kognitif terkait kemampuan mengenal kembali dan kemampuan memberikan rangsangan berupa gerak dan sensasi.
b. Dapat menunjukkan rangkaian gambar diam tanpa suara sebagaimana media foto atau film bingkai.
c. Dapat digunakan untuk menunjukkan contoh cara bersikap atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya menyangkut suatu proses.
2. Tujuan afektif
Video dapat menjadi media yang baik dalam mempengaruhi sikap dan emosi.
3. Tujuan psikomotorik
a. Video tepat untuk memperlihatkan contoh keterampilan terkait gerak. Video dapat memperjelas gerak, baik dengan cara memperlambat ataupun mempercepat gerakan yang ditampilkan.
b. Melalui video, siswa langsung mendapat umpan balik secara audio-visual terhadap kemampuan mereka sehingga mampu mencoba keterampilan, khususnya terkait gerak.
Meninjau sejumlah tujuan yang dipaparkan tersebut, jelas bahwa peran video dapat dimanfaatkan untuk hampir semua topik, setiap model pembelajaran, dan setiap ranah. Pada ranah kognitif, siswa dapat mengobservasi rekreasi dramatis dari kejadian sejarah masa lalu, rekaman aktual dari peristiwa terkini, dan sebagainya. Di sisi lain, unsur warna, suara, dan gerak mampu membuat karakter pada video berasa hidup. Melihat video setelah atau sebelum membaca teks, dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap materi ajar. Pada ranah afektif,  video dapat memperkuat siswa dalam merasakan unsur emosi dan penyikapan dari pembelajaran yang efektif. Pada ranah psikomotorik, video memiliki keunggulan dalam memperlihatkan bagaimana sesuatu bekerja, video yang merekam kegiatan motorik/gerak dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengamati dan mengevaluasi kembali kegiatan tersebut.
Sebagai media non cetak, video kaya akan informasi untuk digunakan dalam proses pembelajaran, karena pembelajaran dapat sampai ke peserta didik secara langsung. Selain itu, video menambah dimensi baru dalam pembelajaran, peserta didik tidak hanya melihat gambar dari media cetak dan suaru dari program audio, melainkan dalam video, peserta didik dapat memperoleh keduanya, yakni gambar bergerak disertai suara.
Adapun manfaat media pembelajaran video menurut Prastowo (2012, hlm. 302), antara lain:
1. Memberikan pengalaman yang tidak terduga kepada peserta didik;
2. Memperlihatkan secara nyata sesuatu yang pada awalnya tidak mungkin bisa dilihat;
3. Menganalisis perubahan dalam periode waktu tertentu;
4. Memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk merasakan suatu keadaan tertentu; dan
5. Menampilkan presentasi studi kasus tentang kehidupan sebenarnya yang dapat memicu diskusi peserta didik.
Karakteristik media pembelajaran video yang baik menurut Susilana dan Riyana (2007, hlm. 8-11), sebagai berikut:
1. Clarity of message (kejelasan pesan)
Melalui media pembelajaran video, siswa dapat memahami pesan pembelajaran secara lebih bermakna dan informasi dapat diterima secara utuh sehingga dengan sendirinya informasi akan tersimpan dalam memori jangka panjang dan bersifat retensi.
2. Stand alone (berdiri sendiri)
Video yang dikembangkan tidak bergantung pada bahan ajar lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain.
3. User friendly (bersahabat/akrab dengan pemakainya)
Media pembelajaran video menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, dan menggunakan bahasa yang umum. Paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon, dan mengakses sesuai dengan keinginan.
4. Representasi isi
Materi harus benar-benar representatif, misalnya materi simulasi atau demonstrasi. Pada dasarnya materi pelajaran baik sosial maupun sains dapat dibuat menjadi media pembelajaran video.
5. Visualisasi dengan media
Materi dikemas secara multimedia berisi teks, animasi, suara, dan video sesuai tuntutan materi. Materi yang digunakan bersifat aplikatif, berproses, sulit terjangkau berbahaya apabila langsung dipraktikan, dan memiliki tingkat keakurasian tinggi.
6. Menggunakan kualitas resolusi yang tinggi
Tampilan berupa grafis media video dibuat dengan teknologi rekayasa digital dengan resolusi tinggi tetapi support untuk setiap spech sistem komputer.
7. Dapat digunakan secara klasikal atau individual
Media pembelajaran video dapat digunakan oleh para siswa secara individual, tidak hanya dalam setting sekolah, tetapi juga di rumah. Video dapat juga digunakan secara klasikal dengan jumlah siswa yang cukup banyak .
Daryanto (2011, hlm. 79) mengemukakan sejumlah  kelebihan penggunaan media pembelajaran video, antara lain:
1. Video menambah dimensi baru dalam pembelajaran, video menyajikan gambar bergerak kepada siswa disertai suara.
2. Video dapat menampilkan suatu fenomena yang sulit diamati secara nyata.
Sedangkan kekurangannya menurut Daryanto (2011, hlm. 79), di antaranya:
1. Pengambilan yang kurang tepat dapat menyebabkan timbulnya keraguan dalam menafsirkan gambar yang dilihat.
2. Video membutuhkan alat proyeksi untuk dapat menampilkan gambar.
3. Pembuatan video memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Referensi
Anderson, R. H. (1987). Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pembelajaran. Jakarta: PAU-UT.
Arsyad, A. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press.
Daryanto (2011). Media Pembelajaran. Bandung: Satu Nusa.
Murafokah, A. (2009). Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: TERAS.
Prastowo, A. (2012). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.
Susilana, R, & Riyana, C. (2007). Media Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.


EmoticonEmoticon