Saturday, 11 November 2017

Motorik Kasar



Motorik Kasar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Motorik Kasar

Motorik atau gerak dimiliki oleh setiap orang sejak masih bayi dan sudah nampak, terutama pada gerak refleks. Melalui gerak, maka seseorang bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari. “Aktivitas gerak diciptakan melalui proses dari integrasi panca indera, motorik dapat dilakukan adanya koordinasi mata dengan tangan atau mata dengan kaki” (Saputra dan Rudyanto, 2005, hlm. 18). Melalui gerak dapat meningkatan fungsi kognitif anak, seperti gerak koordinasi mata dengan tangan (gerakan melempar, menangkap, mendorong, memukul, mengangkat, dan sebagainya), dan gerak koordinasi antara mata dengan kaki (gerakan berjalan, berlari, melompat, menendang, menggiring, dan sebagainya).
Motorik atau gerak kasar adalah keterampilan anak beraktivitas menggunakan otot-otot besar. Keterampilan yang menggunakan otot besar merupakan keterampilan gerak dasar. Motorik kasar sangat penting dikuasai oleh seseorang karena dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Tanpa memiliki gerak yang bagus akan menjadi hambatan, tidak dapat bermain bersama teman-teman, seperti berlari, melompat, mendorong, melempar, menangkap, menendang, dan sebagainya. “Kegiatan tersebut memerlukan dan menggunakan otot-otot besar pada tubuh seseorang” (Moeslichatoen, 2004, hlm. 13).
Berdasar sejumlah pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa motorik kasar adalah aktivitas yang dilakukan oleh siswa atau seseorang yang melibatkan otot-otot besar pada tangan dan kaki. Aktivitas pada tangan dan kaki juga melibatkan anggota badan yang lain, seperti mata, mata dapat bekerjasama dengan kaki, misalnya berjalan, berlari, menendang, menginjak, dan sebagainya. Koordinasi tangan dengan mata, seperti mendorong, melempar, menangkap, mengangkat, dan sebagainya.
Harianti (2005, hlm. 7) mengemukakan tujuan pengembangan motorik kasar, di antaranya:
1. Mampu meningkatkan gerak kasar;
2. Mampu memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani;
3. Mampu menanamkan sikap percaya diri;
4. Mampu bekerjasama; dan
5. Mampu berperilaku jujur dan sportif.
Tujuan dan fungsi perkembangan motorik kasar menurut Saputra dan Rudyanto (2005, hlm. 12) adalah “penguasaan keterampilan yang tergambar dalam kemampuan menyelesaikan tugas gerak tertentu, kualitas gerak terlihat dari seberapa jauh anak tersebut mampu menampilkan tugas gerak yang diberikan dengan tingkat keberhasilan tertentu”. Jika tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas gerak tinggi, berarti gerak yang dilakukannya efektif dan efisien.
Berdasar pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pengembangan motorik kasar adalah untuk meningkatkan keterampilan gerak, memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani, meningkatkan sikap percaya diri, mau bekerjasama, dan mempunyai sikap disiplin, jujur, dan sportif. Selain itu, memiliki keterampilan yang dikuasai untuk menyelesaikan tugas gerak tertentu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
Perkembangan motorik kasar tergantung pada unsur-unsur kebugaran jasmani yang dimiliki anak. Perkembangan kebugaran jasmani sangat penting bagi anak. Kemampuan gerak anak dapat berkembang dan meningkat dengan baik apabila unsur-unsur gerak dasar anak dikembangkan sejak awal. Unsur-unsur yang berhubungan dengan kesehatan dan kebugaran jasmani yang dapat diberikan pada anak menurut Depdiknas (2008, hlm. 16-18), di antaranya:
1. Kekuatan, yaitu kemampuan seseorang dalam menggunakan kelompok otot untuk menahan, memindahkan, atau mengangkat beban. Misalnya, mendorong meja, menarik meja, dan sebagainya.
2. Daya tahan kardiovaskuler, yaitu kemampuan seseorang untuk bekerja dalam waktu yang relatif lama tanpa mengalami kelelahan. Misalnya, jalan cepat, berlari, dan sebagainya.
3. Power, yaitu kemampuan seseorang dalam mengunakan kekuatan maksimal dengan waktu yang secepat-cepatnya. Misalnya, menarik benda, melompat, dan sebagainya.
4. Kecepatan, yaitu kemampuan seseorang untuk bergerak atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan waktu yang singkat. Misalnya, berlari menuju tempat tertentu dengan cepat, dan sebagainya.
5. Keseimbangan, yaitu kemampuan mempertahankan posisi tubuh secara bersama selama bergerak dan dalam keadaan tetap. Misalnya, berdiri pada titik tertentu, dan sebagainya.
6. Kelincahan, yaitu kemampuan seseorang untuk mengubah posisi dan arah dalam waktu yang singkat. Misalnya, bermain kucing-kucingan, dan sebagainya.
7. Koordinasi, yaitu kemampuan seseorang untuk mengintegrasikan bermacam-macam gerakan yang berbeda ke dalam pola gerakan tunggal secara efektif. Misalnya, melempar bola, memantul bola, dan sebagainya.
8. Waktu reaksi, yaitu kemampuan seseorang untuk melakukan gerak secepat-cepatnya sebagai tanggapan terhadap rangsangan yang timbul melalui indera, syaraf, atau feeling lain sejak awal gerakan sampai akhir gerakan.
9. Ketepatan, yaitu kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan bebas terhadap suatu objek atau sasaran. Misalnya, melempar bola ke dalam keranjang, dan sebagainya.
Masa anak-anak adalah masa yang sering disebut sebagai masa ideal untuk mempelajari keterampilan motorik kasar. Aisyah, dkk. (2008, hlm. 43-44) mengemukakan alasan yang mendasari hal tersebut, antara lain:
1. Tubuh anak-anak lebih lentur dari pada tubuh remaja atau dewasa sehingga anak-anak lebih mudah untuk menerima pelajaran untuk mengembangkan motorik kasar.
2. Anak belum banyak memiliki keterampilan yang akan berbenturan dengan keterampilan yang baru dipelajari, maka bagi anak mempelajari keterampilan baru lebih mudah.
3. Secara keseluruhan anak lebih berani. Oleh karena itu, anak lebih berani mencoba sesuatu yang baru. Keberanian akan menimbulkan motivasi yang diperlukan anak untuk belajar.
4. Anak sangat menyenangi kegiatan yang bersifat pengulangan. Oleh karena itu, anak bersedia mengulangi suatu pelajaran hingga otot-ototnya terlatih untuk melakukan suatu keterampilan secara efektif.
5. Tanggung jawab dan kewajiban anak lebih kecil daripada tanggung jawab ketika mereka sudah dewasa, sehingga anak memiliki waktu yang lebih banyak untuk mempelajari keterampilan motorik kasar dan tidak pernah bosan mengulangi pembelajaran berkali-kali.

Referensi
Aisyah, S., dkk. (2008). Perkembangan dan Konsep Dasar Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.
Depdiknas (2008). Kurikulum Tingkah Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Harianti, D. (2005). Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum PAUD. Jakarta: Depdiknas Balitbang Pusat Kurikulum.
Moeslichatoen, R. (2004). Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Saputra, Y. M., & Rudyanto (2005). Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Keterampilan Anak TK. Jakarta: Depdiknas.


EmoticonEmoticon