Monday, 6 November 2017

Prinsip Pengembangan Kurikulum



Prinsip Pengembangan Kurikulum
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Prinsip pengembangan kurikulum, di antaranya:

1. Relevansi

Prinsip Pengembangan Kurikulum

Relevansi atau relevan memiliki arti kedekatan hubungan dengan apa yang terjadi. Apabila dalam konteks pendidikan berarti perlunya kesesuaian antara program pendidikan dengan tuntutan kehidupan masyarakat. Adapun macam-macam relevansi menurut Idi (2011, hlm. 202), sebagai berikut:
a. Relevansi pendidikan dengan lingkungan peserta didik
Relevansi ini memiliki arti dalam pengembangan kurikulum, materi ajar hendaknya disesuaikan dengan kehidupan nyata peserta didik. Misalnya, peserta didik yang bersekolah di daerah perkotaan, ditawarkan hal yang aktual, seperti solusi polusi pabrik, arus perdagangan, kemacetan lalu lintas, dan sebagainya. Sebaliknya, peserta didik yang bersekolah di daerah pedesaan diperkenalkan dengan pertanian, perikanan, perkebunan, kerajinan, dan lain-lain.
b. Relevansi pendidikan dengan kehidupan yang akan datang
Materi yang diajarkan kepada peserta didik harus memberi manfaat untuk persiapan masa depan peserta didik. Sehingga kurikulum dapat bersifat antisipasi dan memiliki nilai prediksi secara tajam dan perhitungan.
c. Relevansi pendidikan dengan dunia kerja
Lembaga pendidikan bertugas menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja sesuai bidangnya, sehingga lulusan lembaga pendidikan dapat memasuki lapangan kerja yang sesuai. Oleh karena itu, kurikulum yang akan disajikan kepada peserta didik hendaknya berorientasi kepada dunia kerja dan program-program yang berkaitan dengan tuntutan dunia kerja yang ada agar pengetahuan teoritik dapat diaplikasikan dengan baik dalam dunia kerja.
d. Relevansi pendidikan dengan ilmu pengetahuan
Kemajuan pendidikan membuat maju ilmu pengetahuan dan teknologi. Program kurikulum pendidikan hendaknya mampu memberi peluang pada peserta didik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta selalu menjadi pelopor dalam penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

2. Efektivitas

Prinsip Pengembangan Kurikulum

Efektivitas berarti sejauh mana perencanaan kurikulum dapat dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Efektivitas menurut Idi (2011, hlm. 203) dapat ditinjau dari dua segi, sebagai berikut:
a. Efektivitas mengajar pendidik
Efektivitas mengajar pendidik berkaitan dengan sejauh mana kegiatan belajar mengajar yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik. Pada usaha pengembangan kurikulum, usaha untuk meningkatkan efektivitas mengajar perlu diperhatikan. Misalnya, melalui diskusi, workshop, pelatihan, studi lanjut, dan sebagainya.
b. Efektivitas belajar peserta didik
Efektivitas belajar peserta didik berkaitan dengan sejauh mana tujuan pelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai melalui kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Pada pengembangan kurikulum, usaha untuk meningkatkan efektivitas belajar peserta didik dilakukan dengan memilih dan menggunakan strategi dan media pembelajaran yang dipandang paling tepat dalam mencapai tujuan pembelajaran.

3. Efisiensi

Prinsip Pengembangan Kurikulum

Efisiensi proses belajar mengajar akan tercipta apabila “usaha, biaya, waktu, dan tenaga yang digunakan untuk menyelesaikan program pengajaran mendapat hasil optimal dengan pertimbangan yang rasional dan wajar” (Idi, 2011, hlm. 204).
Pada pengembangan kurikulum, prinsip efisiensi harus mendapat perhatian, termasuk efisiensi segi waktu, tenaga, peralatan, dan biaya. Efisiensi waktu perlu direncanakan kegiatan belajar mengajar peserta didik, agar tidak banyak membuang waktu pada lembaga pendidikan. Efisiensi penggunaan tenaga dan peralatan perlu ditetapkan jumlah minimal peserta didik yang harus dipenuhi oleh lembaga pendidikan dan cara menentukan jumlah pendidik yang dibutuhkan. Melalui upaya tercapainya berbagai segi efisiensi, diharapkan dapat dicapai efisiensi dalam pembiayaan pendidikan.

4. Kesinambungan

Prinsip Pengembangan Kurikulum

Prinsip kesinambungan dalam pengembangan kurikulum menunjukkan adanya keterikatan antara tingkat pendidikan, jenis program pendidikan, dan bidang pendidikan. Prinsip kesinambungan dibagi menjadi dua, yakni:
a. Kesinambungan di antara berbagai tingkat sekolah
Materi ajar pada tingkat pendidikan lebih tinggi hendaknya sudah dipelajari dasar-dasarnya pada tingkat pendidikan sebelumnya. Di sisi lain, materi ajar pada pendidikan sebelumnya tidak harus diajarkan pada jenjang pendidikan lebih tinggi, sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam pengaturan bahan ajar.
b. Kesinambungan di antara berbagai bidang studi
Kesinambungan di antara berbagai bidang studi menunjukkan bahwa dalam pengembangan kurikulum harus memperhatikan hubungan antara bidang studi. Misalnya, untuk mempelajari waktu shalat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), seorang peserta didik harus dapat menunjukkan waktu pada mata pelajaran Matematika.

5. Fleksibilitas

Prinsip Pengembangan Kurikulum

Fleksibilitas berarti tidak kaku, ruang gerak yang memberikan kebebasan dalam bertindak. Pada kurikulum, fleksibilitas menurut Idi (2011, hlm. 204) dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Fleksibilitas dalam memilih program pendidikan
Fleksibilitas dalam memilih program pendidikan dimaksudkan dengan bentuk pengadaan program-program pilihan yang dapat berbentuk jurusan, program spesialisasi, maupun program pendidikan keterampilan yang dapat dipilih peserta didik atas dasar kemampuan dan minatnya.
b. Fleksibilitas dalam pengembangan program pengajaran
Fleksibilitas dalam pengembangan program pengajaran yakni dalam bentuk memberikan kesempatan pada peserta didik dalam mengambangkan sendiri program-program pengajaran dengan berlandaskan pada tujuan dan materi ajar dalam kurikulum yang bersifat umum.

6. Berorientasi pada tujuan

Prinsip Pengembangan Kurikulum

Prinsip berorientasi pada tujuan dimaksudkan agar perumusan unsur-unsur kurikulum lainnya serta semua kegiatan pembelajaran didasarkan dan mengacu pada tujuan yang akan dicapai. “Tujuan merupakan suatu yang sangat esensial sebab sangat besar maknanya, baik dalam rangka perencanaan maupun dalam rangka penilaian” (Sukiman, 2013, hlm. 46). Pada perencanaan, tujuan memberikan petunjuk untuk memilih dan menetapkan materi atau isi pelajaran, mengalokasikan waktu, memilih strategi pembelajaran, memilih media, dan menyediakan ukuran standar untuk mengukur prestasi belajar peserta didik. Hal ini dilakukan agar semua waktu dan aktivitas pengajaran yang dilaksanakan oleh pendidik maupun peserta didik dapat terarah kepada tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. “Melalui adanya kejelasan tujuan, pendidik diharapkan dapat menentukan secara tepat metode mengajar, alat pengajaran, dan evaluasi” (Idi, 2011, hlm. 205).

7. Belajar seumur hidup

Prinsip Pengembangan Kurikulum

Konsep belajar seumur hidup (long life learning) merupakan konsep pendidikan yang mengarah kepada ide pendidikan yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memiliki kesadaran dan kemauan untuk selalu membuka diri, mengembangkan kemampuan, dan kepribadian melalui kegiatan belajar. Belajar tidak harus terikat dengan pendidikan formal, melainkan belajar secara mandiri sepanjang hidup.
Prinsip belajar seumur hidup memiliki makna bahwa masa sekolah bagi anak bukanlah satu-satunya masa untuk belajar. Masa sekolah hanya sebagian waktu saja dari proses belajar seumur hidup. Pada masa sekolah sebagai masa strategis untuk menanamkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan bagi anak untuk menghadapi masa depan. Lebih dari itu, hal terpenting adalah bagaimana membudayakan pada diri anak untuk belajar (learning how to learn). Setelah menyelesaikan sekolah, “peserta didik harus mampu mengembangkan dirinya dengan belajar sendiri untuk kepentingan hidupnya” (Hamalik, 1995, hlm. 32).

8. Sinkronisasi (keterpaduan)

Prinsip Pengembangan Kurikulum

Prinsip sinkronisasi dimaksudkan adanya sifat yang searah dan setujuan dengan semua kegiatan yang dilakukan oleh kurikulum. Kegiatan kurikuler yang diinginkan, bukan saling menghambat kegiatan kurikuler lainnya, sehingga dapat mengganggu keterpaduan. Kurikulum sebagai suatu sistem, komponen-komponen kurikulum harus padu dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Melalui keterpaduan, semua komponen yang ada dalam sistem tersebut, dan semua kegiatan yang ada tidak bertentangan. Kurikulum harus sinkron, pada gilirannya akan memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan.

Referensi
Hamalik, O. (1995). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Idi, A. (2011). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Sukiman (2013). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik pada Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga.


EmoticonEmoticon