Friday, 8 December 2017

Model Pembelajaran Learning Cycle-5E



Model Pembelajaran Learning Cycle-5E
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Model pembelajaran learning cycle-5E adalah model pembelajaran yang terdiri atas fase-fase atau tahap-tahap kegiatan yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. Model pembelajaran learning cycle-5E merupakan salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan paradigma konstruktivisme. Pendekatan teori konstruktivistik pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih berpusat pada siswa (student centered). Dengan kata lain, pembelajaran menggunakan model pembelajaran learning cycle-5E “berpusat pada siswa dan guru berperan sebagai fasilitator” (Trianto, 2007, hlm. 22).
Model pembelajaran learning cycle-5E memiliki tujuan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkontruksi pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri dengan terlibat secara aktif mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir baik secara individu maupun kelompok, sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran learning cycle-5E, sebagai berikut:
1. Engegament (fase pendahuluan)
Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dengan keingintahuan (curiocity) siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, siswa akan memberikan respons/jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dijadikan patokan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan yang akan dibahas.
2. Exploration (fase eksplorasi)
Pada fase ini, siswa diberi kegiatan yang akan melibatkan keaktifan siswa untuk menguji prediksi dan hipotesis melalui alternatif yang diambil, mencatat hasil pengamatan dan mendiskusikan dengan siswa yang lain. Sehingga siswa memiliki kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru.
3. Explanation (fase penjelasan)
Kegiatan pada fase ini bertujuan untuk melengkapi, menyempurnakan, dan mengembangkan konsep yang diperoleh siswa. Siswa dituntut untuk menjelaskan konsep yang sedang dipelajari dalam kalimat mereka sendiri. Pada fase ini siswa menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.
4. Elaboration (fase elaborasi)
Kegiatan belajar ini mengarahkan siswa menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari, membuat hubungan antar konsep dan menerapkannya pada situasi yang baru melalui kegiatan-kegiatan praktikum lanjutan yang dapat memperkuat dan memperluas konsep yang telah dipelajari.
5. Evaluation (fase evaluasi)
Siswa diberi pernyataan untuk mendiagnosa pelaksanaan kegiatan belajar dan mengetahui pemahaman siswa mengenai konsep yang diperoleh.
Kelima tahap tersebut dapat digunakan dalam bentuk siklus berikut:

Model Pembelajaran Learning Cycle-5E
Siklus pembelajaran learning cycle-5E (Wena, 2011, hlm. 176)

Learning cycle-5E melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi siswa untuk aktif membangun konsep-konsep sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. Implementasi learning cycle-5E dalam pembelajaran sesuai pandangan konstruktivistik, yaitu:
1. Siswa belajar aktif.
2. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir.
3. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman sendiri.
4. Informasi dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa.
5. Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu.
Dengan demikian, proses belajar bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran akan lebih bermakna dan menjadikan skema dalam diri siswa menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat dapat diorganisasikan oleh siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.
Dilihat dari dimensi guru, implementasi model pembelajaran ini dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kreativitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Sedangkan dilihat dari dimensi siswa, penerapan model pembelajaran learning cycle-5E memberikan kelebihan, sebagai berikut:
1. Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.
2. Lebih berpeluang untuk menyampaikan pendapat dan gagasan.
3. Dapat menumbuhkan kegiatan belajar.
4. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Adapun kekuarangan penerapan model pembelajaran learning cycle-5E menurut Rahmawati (2008, hlm. 18-19), sebagai berikut:
1. Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran.
2. Menuntut kesungguhan dan kreatifitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
3. Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.

Referensi
Rahmawati, N. F. (2009). Implementasi Model Learning Cycle untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa pada Materi Pythagoras di Kelas IX Mts N Sidoarjo. (Skripsi). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Trianto (2007). Model-Model Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pusat.
Wena, M. (2011). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.


EmoticonEmoticon