Saturday, 30 December 2017

Tari Kuda Lumping



Tari Kuda Lumping
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Tari Kuda Lumping

Kuda lumping adalah tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang dianyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dan dicat dengan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa pertunjukan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan aksi kekebalan tubuh terhadap deraan pecut.
Kuda lumping merupakan sebuah pertunjukan kesenian tradisional yang menggunakan kekuatan magis dengan instrumen utamanya berupa kuda-kudaan yang terbuat dari kulit kerbau yang telah dikeringkan atau terbuat dari anyaman bambu. Kepangan bambu diberi motif atau hiasaan dan direka seperti kuda. Kuda-kudaan itu berupa guntingan dari sebuah gambar kuda yang diberi tali melingkar dari kepala hingga ekornya seolah-olah ditunggangi para penari dengan cara mengikatkan talinya di bahu mereka. Puncak kesenian kuda lumping adalah ketika para penari itu mau makan apa saja termasuk yang berbahaya dan tidak biasa dimakan manusia (misalnya beling/pecahan kaca dan rumput) serta berperilaku seperti binatang (misalnya ular dan monyet).
Fungsi pertunjukan kuda lumping, di antaranya:
1. Fungsi rekreatif, yaitu sebagai hiburan masyarakat dalam acara-acara tertentu. Seperti acara perayaan hari kemerdekaan, hajatan (pernikahan), dan lain-lain.
2. Fungsi religius atau magis, yaitu sebagai pelestarian adanya kekuatan magis. Kesenian kuda lumping tersebar di daerah-daerah yang masyarakatnya dipandang masih berpegang pada tradisi kejawenan, dalam arti masyarakat yang masih kuat mempercayai kekuatan-kekuatan magis.
Kesenian rakyat merupakan salah satu aset kebudayaan bangsa Indonesia yang berharga dan memiliki nilai-nilai yang sangat luhur. Nilai-nilai tersebut tentunya mengandung makna, sehingga kesenian tradisional mampu bertahan sampai saat ini, tetapi perkembangan kesenian rakyat tradisional ini semakin memudar di tengah kemajuan teknologi masyarakat modern. Secara filosofis unsur-unsur yang terdapat dalam pertunjukan kuda lumping memiliki makna-makna yang terkandung di dalamnya. Terdapat dua makna dalam pertunjukan kuda lumping, yaitu makna simbolis dan makna estetis.
Makna simbolis terdapat dalam penyajian gerak, antara lain: gerak sadar yang menyimbolkan kehidupan manusia yang selalu berpandangan ke depan tanpa mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya, gerak tak sadar dalam adegan kesurupan menyimbolkan kehidupan manusia yang selalu menyekutukan dan mengkhianati Tuhan yang artinya manusia yang tidak mempercayai adanya Tuhan.
Properti memiliki makna sebagai partner atau teman dalam melakukan suatu gerak, artinya seorang manusia yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan atau uluran tangan dari orang lain. Sesaji memiliki fungsi sebagai permohonan izin kepada Tuhan dan roh nenek moyang agar diberi keselamatan, artinya bahwa manusia mengakui adanya sesuatu yang lebih atau diagungkan dalam kehidupan di dunia.
Tata rias dapat mengubah karakter seorang penunggang kuda yang mempunyai makna bahwa seorang pemuda harus dapat menempatkan diri di lingkungan masyarakat serta berani membela kebenaran dan keadilan. Tata busana menyimbolkan kesederhanaan yang artinya hidup di dunia harus menerapkan prinsip hidup sederhana apa adanya tanpa melebih-lebihkan.
Iringan musik berupa seperangkat gamelan pengiring tari yang menyimbolkan seorang pemuda yang selalu siap untuk menolong sesamanya, dan pawang sebagai pengatur utama jalannya pertunjukan, artinya dalam menjalani hidup di dunia, seorang manusia harus mempunyai panutan atau contoh.
Nilai estetis terdapat dalam gerak yang meliputi keseimbangan dan simetris gerak dalam tari kuda lumping dan dalam gerak tak sadar terdapat dalam setiap adegan yang selalu menyisipkan gerak tari kuda lumping.
Nilai estetis tata rias terdapat dalam kemeriahan, ketebalan, dan warna yang mencolok dalam pemakaian riasan sehingga memunculkan karakter penari kuda lumping. Nilai estetis tata busana terdapat dalam kemeriahan warna busana yang dipakai sehingga terkesan kurang praktis. Nilai estetis properti dalam setiap gerakan yang selalu menggunakan properti baik ditunggangi maupun digerakkan, dan nilai estetis iringan musik terdapat pada gerak dengan iringan musik pada kesesuaian gerak dengan iringan gamelan berlaras sendro dengan syair lagu pengiring Sluku-Sluku Bathok dan Waru Doyong.
Tari kuda lumping merupakan jenis kesenian rakyat yang sederhana, dalam pementasannya tidak diperlukan suatu koreografi khusus serta perlengkapan peralatan gamelan, seperti halnya karawitan. Gamelan untuk mengiringi seni kuda lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari satu buah kendang, dua buah kenong, dua buah gong, dan sebuah selompret. Sajak-sajak yang dibawakan dalam mengiringi tarian semuanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta.
Tata cara pertunjukan kesenian kuda lumping sebagai berikut: diawali mempersiapkan alat-alat seperti gamelan, gong, kenong, kendang, dan selompret untuk digunakan untuk pertunjukan. Selanjutnya, pengrawit menempati alat musik masing-masing dan mulai memainkan musik. Lalu, menata/menyiapkan perlengkapan seperti kuda, barongan, celengan. Selanjutnya, menyiapkan bunga setaman, wangi-wangian fambo, dupa, dan kemenyan. Para pemain dan sinden bersiap-siap dengan kostum dan make up. Pertunjukan siap dimulai dengan tarian yang dibawakan oleh para penari yang menunggangi kuda dari anyaman bambu, kemudian penari dengan memakai barongan dilanjutkan penari dengan memakai celengan.
Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kesurupan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supernatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar sehingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.


EmoticonEmoticon