Friday, 1 December 2017

Tari Piring



Tari Piring
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Tari Piring

Tari piring merupakan tarian yang berasal dari adat khas suku Minangkabau yang sudah begitu terkenal di dunia. Keunikan tersendiri yang membedakan tarian ini dengan jenis tarian lain di nusantara telah berhasil mengundang decak kagum.
Tari piring dipercaya telah ada sejak sekitar abad ke 12 Masehi, terlahir dari kebudayaan asli masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Tarian ini dulunya merupakan tarian persembahan bagi para dewa yang telah mengkaruniakan hasil panen yang berlimpah selama setahun. Perlu diketahui sebelum masuknya Islam, masyarakat Minangkabau mayoritas masih memeluk agama Hindu, Budha, dan sebagian Animisme.
Masuknya Islam ke tanah Sumatera pada abad ke 14 secara tidak langsung ikut mempengaruhi perkembangan tari piring. Semenjak ajaran Islam mulai dianut oleh mayoritas masyarakat, peruntukan tari piring pun berubah. Tari piring bukan lagi ditujukan sebagai tari persembahan bagi para dewa, melainkan hanya sebagai tontotan bagi masyarakat. Tarian ini dipertunjukkan setiap kali ada acara hajatan sebagai hiburan semata.
Pada perjalanan sejarahnya, tari piring kontemporer mengalami banyak pembaharuan, mulai dari musik yang mengiringinya, gerakan, koreografi, hingga komposisi pemain. Salah satu seniman tanah Minang yang telah berkontribusi besar pada kepopuleran tari piring adalah Huriman Adam.
Berbagai gerakan dalam tari piring adalah perpaduan yang laras antara seni tari yang indah, gerakan akrobatis, dan gerakan bermakna magis. Gerakan tarian yang dibawakan secara berkelompok oleh 3-5 personil ini sangat beragam. Gerakan-gerakan tersebut secara keseluruhan menceritakan tentang tahapan-tahapan kegiatan dalam budidaya tanaman padi yang menjadi mata pencaharian masyarakat adat Minang tempo dulu.
Sedikitnya ada 20 gerakan tari piring yang harus dibawakan para penari untuk dapat mempertunjukan tari piring yang sempurna. 20 gerakan tersebut, antara lain:
1. Gerak pasambahan;
2. Gerak singanjuo lalai;
3. Gerak mencangkul;
4. Gerak menyiang;
5. Gerak membuang sampah;
6. Gerak menyemai;
7. Gerak memagar;
8. Gerak mencabut benih;
9. Gerak bertanam;
10. Gerak melepas lelah;
11. Gerak mengantar juadah;
12. Gerak menyabit padi;
13. Gerak mengambil padi;
14. Gerak menggampo padi;
15. Gerak menganginkan padi;
16. Gerak mengirik padi;
17. Gerak menumbuk padi;
18. Gotong royong;
19. Gerak menampih padi; dan
20. Gerak menginjak pecahan kaca.
Keduapuluh gerakan tari piring di atas dilakukan dengan tempo cepat dengan diiringi iringan musik berirama syahdu yang menggambarkan rasa kebersamaan, kegembiraan, dan semangat. Iringan musik dalam tari piring sendiri berasal dari dua alat musik, yakni talempong dan saluang. Telempong adalah alat musik pukul yang terbuat dari kayu, kuningan, atau batu. Bentuknya mirip seperti bonang, sedangkan seluang adalah alat musik tiup yang terbuat dari bambu tipis mirip seperti suling. Selain dengan iringan kedua alat musik tersebut, tari piring juga diiringi dengan suara gemerincing cincin yang dikenakan para penarinya.
Ketika menari, para penari wajib mengenakan kostum khusus. Kostum tari piring untuk pria, sebagai berikut:
1. Busana rang mundo, berupa baju berlengan lebar yang dihiasi dengan renda emas.
2. Saran galembong, celana berukuran besar di bagian tengahnya khusus untuk tari piring.
3. Sisamping, kain songket yang dililitkan di pinggang hingga lutut.
4. Cawek pinggang, ikat pinggang yang terbuat dari kain songket.
5. Deta atau destar, yaitu penutup kepala berbentuk segitiga yang dibuat dari kain songket khas pria Minangkabau.
Sedangkan kostum tari piring untuk wanita, sebagai berikut:
1. Baju kurung yang terbuat dari kain beludru dan kain satin.
2. Kain songket.
3. Selandang songket yang dipasang di badan bagian kiri.
4. Tikuluak tanduak balapak yaitu penutup kepala khas wanita Minangkabau yang terbuat dari bahan songket dengan bentuk menyerupai tanduk kerbau.
5. Aksesoris lain berupa anting, kalung gadang, dan kalung rambai.


EmoticonEmoticon