Wednesday, 24 January 2018

Filsafat Pendidikan Naturalisme



Filsafat Pendidikan Naturalisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Filsafat Pendidikan Naturalisme

Naturalisme berasal dari dua kata, yakni natural yang berarti alami dan isme yang berarti paham. Maka, aliran naturalisme dapat juga disebut sebagai paham alami. Artinya, bahwa setiap manusia yang terlahir di bumi ini pada dasarnya memiliki kecenderungan atau pembawaan yang baik dan tidak ada seorang pun terlahir dengan pembawaan yang buruk.
Naturalisme merupakan falsafah yang menerima alam sebagai keseluruhan realitas. Istilah nature telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti, mulai dari dunia fisik yang dapat dilihat oleh manusia, sampai pada sistem total dari fenomena ruang dan waktu. Istilah naturalisme merupakan adalah kebalikan dari istilah supernaturalisme yang mengandung pandangan dualistik terhadap alam dengan adanya kekuatan yang ada di atas atau di luar alam.
Naturalisme lahir pada abad 17 dan mengalami perkembangan pada abad 18. Naturalisme berkembang dengan cepat pada bidang sains. Aliran naturalisme berpandangan bahwa learned heavily on the knowledge reported by man’s sense, artinya pembelajaran yang hebat dalam ilmu pengetahuan berasal dari akal pikiran manusia. Aliran ini dipelopori oleh J. J. Rosseau, seorang filsuf Perancis yang hidup pada tahun 1712-1778. Rosseau berpendapat bahwa semua anak baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik. Pembawaan baik akan menjadi rusak karena dipengaruhi lingkungan. Pendidikan yang diberikan orang dewasa, justru dapat merusak pembawaan baik anak itu, sehingga aliran ini sering juga dikenal dengan istilah negativisme.
Selain Rosseau, Plato dan Aristoteles memiliki pandangan yang sama. Plato (dalam Tafsir, 2012, hlm. 58-59) berpandangan bahwa “ajaran idea yang lepas dari objek, yang berada di alam idea, bukan hasil abstraksi”. Idea bersifat umum, artinya berlaku umum. Selain kebenaran yang umum ada kebenaran  yang khusus, yaitu kongkretisasi. Misalnya, “kucing” di alam idea berlaku umum atau merupakan kebenaran umum, sedangkan “kucing anggora di rumah saya” adalah kucing yang khusus.
Aristoteles termasuk tokoh filsafat yang rasional. Pemikiran filsafatnya lebih maju karena peletakan dasar-dasar sains. Ia berpandangan bahwa makhluk hidup di dunia ini terdiri atas dua prinsip, yaitu prinsip matter dan form. Matter memberikan substansi sesuatu, sedangkan form memberikan pembungkusnya. Matter disebut rohani, sedangkan form disebut juga badan. Badan material manusia pasti mati, sedangkan yang memberikan bentuk kepada materi adalah jiwa. Jiwa manusia mempunyai sejumlah fungsi yaitu memberikan hidup vegetatif (seperti jiwa tumbuhan), lalu memberikan hidup sensitif (seperti jiwa binatang), akhirnya membentuk hidup intelektif. Oleh karena itu,  jiwa intelektif manusia mempunyai hubungan baik dengan dunia materi maupun dengan dunia rohani, maka Aristoteles membedakan antara bagian akal budi yang pasif dan bagian akal budi yang aktif. Bagian akal budi yang pasif berhubungan dengan materi dan bagian akal budi yang aktif berhubungan dengan rohani.
Berdasar sejumlah pandangan tersebut, dapat ditarik garis besar bahwa filsafat naturalisme begitu menjunjung tinggi alam sebagai sarana utama dalam kehidupan manusia, bahkan Tuhan pun diyakini tidak ada hubungannya atau tidak peduli dengan alam. Landasan kebenaran berpatokan pada pemikiran ilmiah yang dapat dibuktikan kebenarannya secara nyata.
Filsafat naturalisme mempengaruhi berbagai bidang dalam kehidupan termasuk bidang pendidikan. Pendidikan merupakan wadah yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter seseorang, baik pendidikan dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan pendidikan formal, atau masyarakat.
Naturalisme dalam pendidikan mengajarkan bahwa guru paling alamiah dari seorang anak adalah kedua orangtuanya. Oleh karena itu, pendidikan bagi penganut pandangan naturalis perlu dimulai jauh hari sebelum proses pendidikan dilaksanakan. Sekolah merupakan dasar utama dalam kebenaran filsafat naturalisme karena belajar merupakan sesuatu yang natural.
Spencer seorang tokoh naturalis juga menjelaskan tujuh (7) prinsip dalam proses pendidikan beraliran naturalisme, sebagai berikut:
1. Pendidikan harus menyesuaikan diri dengan alam.
2. Proses pendidikan harus menyenangkan bagi anak didik.
3. Pendidikan harus berdasarkan spontanitas dari aktivitas anak.
4. Memperbanyak ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dalam pendidikan.
5. Pendidikan dimaksudkan untuk membantu perkembangan fisik, sekaligus otak.
6. Praktik mengajar adalah seni.
7. Cara yang paling baik dengan menggunakan metode intruksi dalam mendidik dan menggunakan cara induktif.
Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan pengalaman di dalam dirinya secara alami. Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator, menyediakan lingkungan yang mampu mendorong keberanian anak ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan serta sugesti dari pendidik. Pendidik memberikan tanggung jawab belajar pada diri anak didik. Program pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi pada pola belajar anak didik. Anak didik diberi kesempatan menciptakan lingkungan belajarnya sendiri. Dengan demikian, filsafat pendidikan naturalisme menitikberatkan pada strategi pembelajaran yang bersifat paedosentris. Artinya, faktor kemampuan anak didik menjadi pusat kegiatan proses belajar  dan mengajar.

Referensi
Tafsir, A. (2012). Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. Bandung: Rosda.


EmoticonEmoticon