Wednesday, 17 January 2018

Karakteristik Anak Autisme



Karakteristik Anak Autisme
Karya: Rizki Siddiq Nugraha


Karakteristik Anak Autisme
Autis merupakan gangguan perkembangan pada anak. Menurut Veskarisyanti (2008, hlm. 17) “dalam bahasa Yunani dikenal kata ‘auto’ yang berarti diri sendiri ditujukan pada seseorang ketika menunjukkan gejala hidup dalam dunianya sendiri atau mempunyai dunia sendiri”. Autisme pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan bahasa yang tertunda, pembalikan kalimat, adanya aktivitas repetitive dan stereotype, rute ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungan.
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang secara umum tampak di tiga tahun pertama kehidupan anak. “Gangguan ini berpengaruh pada komunikasi, interaksi sosial, imajinasi, dan sikap” (Wright, 2007, hlm. 4). Menurut Yuwono (2009, hlm. 26) “autis merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang sangat kompleks/berat dalam kehidupan yang panjang, meliputi gangguan pada aspek interaksi sosial, komunikasi, bahasa, perilaku, dan gangguan emosi serta persepsi sensori bahkan pada aspek motorik”.
Berdasarkan sejumlah definisi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa autisme merupakan suatu gangguan perkembangan pervasif yang secara menyeluruh mengganggu fungsi kognitif dan mempengaruhi kemampuan bahasa, komunikasi, dan interaksi sosial. Gangguan-gangguan dalam berkomunikasi, interaksi sosial, dan imajinasi sering saling berkaitan.
Adapun karakteristik lain dari penyandang autisme, sebagai berikut:
1. Kerusakan kualitatif dalam interaksi sosial yang dimanifestasikan dengan setidak-tidaknya dua dari hal berikut:
a. Kerusakan yang dapat ditandai dari penggunaan beberapa perilaku non verbal seperti tatapan langsung, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gestur untuk mengatur interaksi sosial.
b. Kegagalan untuk mengembangkan hubungan teman sebaya yang tepat menurut tahap perkembangan.
c. Kekurangan dalam mencoba secara spontanitas untuk berbagi kesenangan, ketertarikan, atau pencapaian dengan orang lain.
d. Kekurangan dalam timbal balik sosial atau emosional.
2. Kerusakan kualitatif dalam komunikasi yang dimanifestasikan pada setidak-tidaknya satu dari hal berikut:
a. Penundaan dalam atau kekurangan penuh pada perkembangan bahasa.
b. Pada individu dengan bicara yang cukup, kerusakan ditandai dengan kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain.
c. Penggunaan bahasa yang berulang-ulang dan berbentuk tetap atau bahasa yang aneh.
d. Kekurangan divariasikan, dengan permainan berpura-pura yang spontan atau permainan imitasi sosial yang sesuai dengan tahap perkembangan.
3. Dibatasinya pola-pola perilaku yang berulang-ulang dan berbentuk tetap, ketertarikan dan aktivitas, yang dimanifestasikan pada setidak-tidaknya satu dari hal berikut:
a. Meliputi preokupasi dengan satu atau lebih pola ketertarikan yang berbentuk tetap dan terhalang atau fokusnya abnormal.
b. Ketidakfleksibilitas pada rutinitas non fungsional atau ritual yang spesifik.
c. Sikap motorik yang berbentuk tetap dan berulang.
d. Preokupasi yang tetap dengan bagian dari objek.
Menurut Verkarisyanti (2008, hlm. 18) ada sejumlah gangguan pada anak penyandang autisme, antara lain:
1. Komunikasi
Munculnya kualitas komunikasi yang tidak normal, ditunjukkan dengan (1) kemampuan wicara tidak berkembang atau mengalami keterlambatan, (2) pada anak tidak tampak usaha untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, (3) tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan yang melibatkan komunikasi dua arah dengan baik, dan (4) bahasa yang tidak lazim yang selalu diulang-ulang atau stereotipik.
2. Interaksi sosial
Timbulnya gangguan kualitas interaksi sosial yaitu (1) anak mengalami kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan bahwa yang tidak berekspresi, (2) ketidakmampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama, (3) ketidakmampuan anak untuk berempati, dan mencoba membaca emosi yang dimunculkan oleh orang lain.
3. Perilaku
Aktivitas, perilaku, dan ketertarikan anak terlihat sangat terbatas. Banyak pengulangan terus-menerus dan stereotipik seperti adanya suatu kelekatan pada rutinitas atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki di keset, baru naik ke tempat tidur. Bila ada satu dari aktivitas di atas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan menangis bahkan berteriak-teriak minta diulang.
4. Gangguan sensoris
Sangat sensitif terhadap sentuhan, bila mendengar suara keras langsung menutup telinga, senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda dan tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.
Adapun penyebab autisme menurut Maulana (2007, hlm. 19), di antaranya:
1. Faktor neurobiologis
Gangguan neurobiologis pada susunan saraf pusat. Biasanya, gangguan ini terjadi dalam tiga bulan pertama masa kehamilan, bila pertumbuhan sel-sel otak di beberapa tempat tidak sempurna.
2. Masalah genetik
Faktor genetik juga memegang peranan kuat. Pasalnya, banyak manusia mengalami mutasi genetik yang bisa terjadi karena cara hidup yang semakin modern. Beberapa faktor yang juga terkait adalah usia ibu saat hamil, usia ayah saat istri hamil, serta masalah yang terjadi saat kehamilan dan proses melahirkan.
3. Masalah selama kehamilan dan kelahiran
Masalah pada masa kehamilan dan proses melahirkan memiliki resiko autisme terutama yang terjadi pada masa delapan minggu pertama kelahiran. Ibu yang mengonsumsi alkohol, terkena virus rubella, menderita infeksi kronis atau mengonsumsi obat-obatan terlarang diduga mempertinggi resiko autisme. Proses melahirkan yang sulit sehingga bayi kekurangan oksigen juga diduga berperan dalam penyebab autisme.
4. Keracunan logam berat
Keracunan logam berat merupakan kondisi yang sering dijumpai ketika anak dalam kandungan. Keracunan logam seperti timbal, merkuri, cadmium, spasma infantile, rubella kongenital, sclerosis tuberosa, lipidosis serebral, dan anomaly kromosom X. Racun dan logam berat dari lingkungan, berbagai racun yang berasal dari pestisida, polutan udara, dan cat tembok dapat mempengaruhi kesehatan janin.
5. Terinfeksi virus
Lahirnya anak autisme diduga dapat disebabkan oleh virus seperti rubella, toxoplasmolis, herpes, jamur, nutrisi yang buruk, pendarahan, dan keracunan makanan pada masa kehamilan yang dapat menghambat pertumbuhan sel otak yang menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi, dan interaksi.

Referensi
Maulana (2007). Anak Autis, Mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan Sehat. Yogyakarta: Ar-ruzz Media Group.
Veskarisyanti, G. A. (2008). 12 Terapi Autis Paling Efektif & Hemat: Untuk Autisme, Hiperaktif, & Retardasi Mental. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
Wright, W. C. (2007). How to Life with Autism & Aspeger Syndrome: Strategi Praktis Bagi Orangtua Anak Autis. Jakarta: Dian Rakyat.
Yuwono, T. (2009). Biologi Molekular. Jakarta: Erlangga.


EmoticonEmoticon