Friday, 12 January 2018

Ngadu Muncang



Ngadu Muncang
Karya: Rizki Siddiq Nugraha
 
Ngadu Muncang

Muncang adalah bahasa Sunda dari biji kemiri, jadi ngadu muncang adalah mengadu biji kemiri, tentunya mengadu kekuatan. Ngadu muncang adalah permainan tradisional di daerah Sunda dan sekitarnya.
Sumedang memiliki kisah sejarah tersendiri berkaitan dengan adu muncang ini, di mana pada masa kerajaan dulu ngadu muncang adalah salah satu ajang untuk unjuk kesaktian. Pada suatu ketika, senapati Sumedang beradu kekuatan dengan senapati Mataram dalam ngadu muncang. Senapati Sumedang memenangkan pertandingan dan memperoleh hadiah berupa seperangkat gamelan yang kini disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun. Gamelan tersebut bernama Gamelan Sari Oneng Mataram, sekarang gamelan tersebut menjadi gamelan bersejarah dan menjadi salah satu perangkat gamelan tertua di Indonesia.
Pada praktiknya, ngadu muncang dilakukan dengan cara menyusun dua buah muncang milik dua pemain secara vertikal lalu di atasnya disimpan bambu yang kanan kirinya dipegang oleh dua orang sehingga posisi dua muncang terjepit. Muncang yang disusun untuk diadu diposisikan agar bagan yang terkuat saling berhadapan untuk diadu, setelah muncang terjepit dan posisinya tidak berubah bambu penjepitnya dipukul oleh benda keras. Muncang yang pecah ialah yang kalah.
Seiring waktu, tempat mengadu muncang mengalami perkembangan, di mana kedua muncang tidak usah dijepit oleh bambu yang kiri-kanannya dipegang masing-masing, tapi ada sebuah tempat yang dibuat sedemikian rupa dibuat agar posisi muncang yang disusun di atasnya tidak berubah, bambu untuk menjepit muncangnya pun sudah terpasang permanen di tempatnya sehingga tidak usah dipegang, pemain tinggal memukul bambu penjepit muncangnya saja.
Agar muncangnya kuat, biasanya muncang direndam dengan cuka terlebih dahulu selama beberapa waktu, mulai dari tiga jam sampai seharian. Untuk mempercantik tampilan muncang, biasanya biji muncang dibersihkan sedemikian rupa dari buah muncang yang mengering yang masih menempel pada biji muncangnya, setelah benar-benar bersih biji muncangnya digosok oleh bagian dalam biji muncang sampai biji muncang mengkilap.
Permainan ini dimaksudkan untuk mengasah kebersamaan dan kerja keras anak, karena zaman dahulu anak-anak memperoleh muncang dengan cara memetik sendiri dari pohon muncang yang tinggi. Setelah itu, mereka juga yang memproses muncang dari mulai mengeluarkan buahnya, membersihkan, sampai memolesnya hingga muncangnya terlihat bagus dan mengkilap. Jadi, untuk mempunyai satu muncang yang bagus anak-anak benar-benar dilatih untuk bekerjasama dan bekerja keras. Saat memiliki muncang yang bagus merupakan suatu kebanggaan.
Nilai-nilai kebersamaan dan keras ini yang sekarang nampaknya makin terkikis dalam permainan adu muncang ini. Walaupun permainan ngadu muncang masih lestari, nilai-nilai kerja keras nampaknya sudah mulai berkurang karena sekarang muncang aduan ini mulai diperjual-belikan. Banyaknya penjual muncang pada musimnya menjadikan anak-anak tidak usah lagi susah-susah mencari dan memperindah muncang sendiri, tinggal beli dengan harga kisaran Rp 5000-an.


EmoticonEmoticon