Sunday, 28 January 2018

Pendekatan Blended Learning



Pendekatan Blended Learning
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Pendekatan Blended Learning

Konsep pendekatan blended learning mulai muncul sejak akhir abad 19. Blended learning mengkombinasikan aktivitas pembelajaran tatap muka secara formal dengan aktivitas pembelajaran online. Blended learning dapat mengkombinasikan aspek positif dari dua kondisi pembelajaran, yakni pembelajaran di kelas dan e-learning.
Pendekatan blended learning digunakan sebagai solusi untuk mengkombinasikan berbagai cara belajar, seperti kelas tatap muka, pembelajaran online, dan pembelajaran mandiri. Blackboard (2009) mengemukakan keuntungan dalam penggunaan pendekatan blended learning, sebagai berikut:
1. Sekolah dapat memposisikan diri sebagai pusat utama (central role) dalam membimbing peserta didik pada proses pembelajaran.
2. Guru memiliki fleksibilitas dalam mengembangkan kurikulum, terutama dalam hal pengintegrasian konten digital (e-learning) dan pengalaman belajar nyata.
3. Memberikan guru kesempatan untuk mengoptimalkan teknologi dalam menyiapkan pembelajaran menggunakan pendekatan blended learning secara kreatif.
Sejalan dengan itu, Ahmad, dkk. (2008) mengemukakan keuntungan penggunaan blended learning, di antaranya (1) peserta didik lebih terkontrol dalam belajar, (2) mengembangkan proses berpikir kritis, dan (3) mengoptimalkan penggunaan sistem penilaian online (online asessment) serta pembelajaran berbasis komputer (computer tutorials).
Program pembelajaran tatap muka secara formal memiliki keterbatasan berkenaan dengan jumlah peserta didik yang dapat mengikuti karena terbatas pada luas tempat dan waktu yang telah ditentukan. Sebaliknya, program pembelajaran online dapat mengatasi keterbatasan tersebut. Hal inilah yang menjadi konsep dasar dari blended learning.
Penggunaan pendekatan blended learning meningkatkan efektivitas penggunaan active learning strategies, peer-to-peer learning strategies, dan learner-centered strategies. Penggunaan modul online dapat membantu peserta didik untuk mendapatkan informasi tambahan daripada sekedar pada saat pembelajaran tatap muka formal yang berfokus pada praktik, pemecahan masalah, dan keterampilan mengambil keputusan. Pembelajaran online tepat digunakan untuk latihan (exercises), online coaching, interaksi antar peserta didik, online feedback, penilaian (assessment), dan penyampaian pesan pendek (instant messaging). Adapun pembelajaran mandiri baik untuk melakukan simulasi, pendalaman materi, dan percobaan.
Harriman (2004) mengidentifikasi sarana yang dapat menunjang penggunaan blended learning, antara lain:
1. Bahan online, berupa portal pembelajaran online yang interaktif.
2. Bahan penunjang, baik hardware berupa seperangkat komputer, maupun software berupa performance support tools.
3. Kelas untuk sesi tatap muka formal.
4. Tugas online, berupa reading assignmenti atau CD-ROM.
5. Teletraining atau media lainnya.
Lebih lanjut, sarana penunjang blended learning dapat dilihat pada tabel berikut:


Pendekatan Blended Learning

Referensi
Ahmad, W. F. W., dkk. (2008). Students’ Perception Towards Blended Learning in Teaching and Learning Mathematics. [Online]. Diakses dari: http://atcm.mathandtech.org/EP2008/papers_full/2412008_15274.pdf.
Blackboard (2009). Blended Learning: Where Online and Face-to-face Instruction Intersect for 21st Century Teaching and Learnin. [Online]. Diakses dari: http://www.blackboard.com/CMSPages/GetFile.aspx?guid= be3a6c2a-ea0f-47c3-8148-8cf4caedd40b.
Harriman (2004). Blended Learning. [Online]. Diakses dari: http://www.grayharriman.com/blended_learning.htm.


EmoticonEmoticon