Monday, 22 January 2018

Perkembangan Peran Gender pada Siswa Sekolah Dasar



Perkembangan Peran Gender pada Siswa Sekolah Dasar
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Perkembangan Peran Gender pada Siswa Sekolah Dasar

Gender menunjukkan dimensi sosial dari menjadi laki-laki atau perempuan. Adapun jenis kelamin lebih menunjukkan pada dimensi biologis dari menjadi laki-laki atau perempuan. Identitas gender adalah suatu perasaan menjadi laki-laki atau perempuan, di mana hal ini kebanyakan diperoleh anak pada usia tiga (3) tahun. Sementara peran gender berisi harapan-harapan yang menunjukkan bagaimana laki-laki atau perempuan harus berpikir, bertingkah laku, dan merasakan.
Di sisi lain, stereotip gender diartikan sebagai seperangkat keyakinan tentang karakteristik yang sesuai menjadi perempuan atau laki-laki. Misalnya, begitu anak perempuan lahir, orangtua cenderung memberikan perlakuan yang berbeda terhadap anak laki-laki maupun perempuan. Warna-warna tertentu lebih cenderung ditujukan untuk anak perempuan, sementara warna lain untuk laki-laki. Seiring berjalannya waktu, perbedaan ini juga tampak dalam gaya potongan rambut, baju, maupun jenis makanan. Selama masa perkembangan anak, orang dewasa dan kelompok sebaya memberikan dukungan atas perbedaan ini. Anak laki-laki diyakini cenderung dominan, agresif, dan independen, sedangkan anak perempuan cenderung perhatian, sabar, dan tergantung.
Pada usia sekolah, anak laki-laki memiliki identitas peran masculine, sedangkan anak perempuan lebih androgyny (adanya ciri-ciri masculine dan feminime pada individu yang sama). Selain memasak, menjahit, anak perempuan juga menyukai kegiatan olahraga, terlibat dalam kegiatan ilmu pengetahuan. Orangtua ataupun guru biasanya lebih toleran melihat anak perempuan menunjukkan peran gender laki-laki, tetapi tidak sebaliknya. Anak laki-laki yang seperti anak perempuan biasanya dibuat bahan ejekan.
Pada dasarnya memang ada perbedaan gender dalam kemampuan mental dan kepribadian. Anak perempuan lebih unggul dalam perkembangan bahasa, namun lebih sensitif dan tergantung. Sedangkan anak laki-laki unggul dalam kemampuan keruangan dan lebih agresif. Adapun karakteristik perbedaan lainnya, sebagai berikut:
1. Anak perempuan lebih bersifat sosial daripada laki-laki.
2. Anak perempuan lebih mudah terpengaruh.
3. Anak perempuan punya harga diri lebih rendah.
4. Anak perempuan lebih mempelajari peran dan tugas yang lebih sederhana.
5. Anak laki-laki lebih analitis.
6. Anak perempuan lebih dipengaruhi oleh bakat, sedangkan anak laki-laki oleh lingkungan.
7. Anak perempuan kurang memiliki hasrat untuk bersaing.
8. Anak perempuan cenderung lebih mendengarkan, sedangkan anak laki-laki lebih melihat.
Adanya perkembangan zaman menuju industrialisasi, maka kesempatan anak belajar peran gender semakin terbatas. Terlebih dengan majunya tingkat pendidikan wanita yang berdampak pada luasnya peran wanita kepada hal-hal yang dulunya hanya dikerjakan laki-laki.
Anak perempuan dan laki-laki belajar peran gender melalui meniru atau mengamati lingkungan, misalnya dengan memperhatikan apa yang dilakukan dan dikatakan orang. Melalui orangtua anak belajar mengenai peran gender, itulah sebabnya orangtua dikatakan sebagai sosok yang paling berpengaruh dalam perkembangan gender.
Ibu dan ayah secara psikologis berperan dalam perkembangan gender anak. Ibu secara konsisten bertanggungjawab terhadap pengasuhan, sementara ayah lebih berperan pada interaksi bermain dengan anak dan bertanggung jawab menanamkan agar anak laki-laki atau perempuan tunduk pada norma-norma yang berlaku. Tanpa disadari ayah merupakan bagian penting dalam perkembangan gender daripada ibu karena ayah cenderung bereaksi secara berbeda pada anak laki-laki maupun perempuan. Anak laki-laki dan perempuan didorong untuk terlibat dalam permainan dan kegiatan yang berbeda. Anak perempuan umumnya bermain dengan boneka sampai ia mencapai usia sekolah, jika sudah dewasa ia diharapkan dapat mengasuh atau terlibat dengan hal-hal yang bersifat emosional daripada laki-laki. Sedangkan laki-laki dilibatkan pada permainan yang bersifat agresif. Begitu menginjak remaja, anak laki-laki lebih diberi kebebasan.
Kelompok sebaya cenderung mendukung anak untuk terlibat dalam aktivitas yang sesuai dengan gendernya. Kelompok cenderung mencela anak yang terlibat dalam permainan yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Tuntutan semacam ini akan semakin menonjol menjelang masa remaja.
Ketika memasuki usia sekolah, anak menyadari dan meyakini bahwa ada beberapa stereotip, seperti pekerjaan, kepribadian, ataupun keinginan berprestasi. Ada keyakinan, anak laki-laki lebih unggul dalam pelajaran matematika dan atletik, sedangkan anak perempuan pada pelajaran seni, musik, dan keterampilan.
Berbagai berita yang disajikan media masa dapat berpengaruh besar dalam perkembangan gender. Bagaimana cara perempuan tampil di televisi, majalah, atau koran amat berbeda dengan laki-laki, perempuan lebih banyak ditampilkan di berbagai iklan.
Orangtua maupun guru harus dapat memahami apa yang dimaksud dengan gender, jenis kelamin, dan apa yang harus dilakukan agar anak lebih memahami peran gender dalam masyarakat.


EmoticonEmoticon