Tuesday, 27 February 2018

Drama



Drama
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

drama sebagai karya sastra

Kata drama berasal dari kata Yunani draomai yang berarti berbuat. Drama berarti perbuatan, tindakan, atau beraksi (action). Drama adalah karya sastra yang disusun untuk melukiskan hidup dan aktivitas menggunakan aneka tindakan, dialog, dan permainan karakter. Drama adalah “pertunjukan yang terjadi pada dunia manusia. Berdrama artinya pandai memoles situasi, bisa menyatakan yang tidak sebenarnya, dan imajinatif” (Endraswara, 2011, hlm. 264).
Sebuah drama pada hakikatnya terdiri atas dialog. Mungkin saja dalam drama terdapat petunjuk pementasan, namun petunjuk pementasan ini sebenarnya hanya dijadikan pedoman oleh sutradara dan para pemain. Oleh karena itu, dialog para tokoh disebut juga sebagai teks utama (hauptext) dan petunjuknya disebut teks sampingan (nebentext).
Drama seperti sebuah gambaran kehidupan masyarakat yang diceritakan lewat pertunjukan. Drama adalah “hidup yang dilukiskan dengan gerak, drama adalah menyaksikan kehidupan manusia yang diekspresikan secara langsung” (Hasanuddin, 1996, hlm. 2). Drama adalah “sebuah karya tulis berupa rangkaian dialog yang menciptakan atau tercipta dari konflik batin atau fisik dan memiliki kemungkinan untuk dipentaskan” (Riantiarno, 2003, hlm. 8).
Berdasar sejumlah pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media percakapan (dialog), gerak, dan tingkah laku. Naskah merupakan hal utama dalam drama karena hal tersebut merupakan panduan bagi para pemeran di atas pentas.
Menurut Aminuddin dan Roekhan (2003, hlm. 84) unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah drama, sebagai berikut:

1. Penokohan dan perwatakan
Unsur utama dalam karya drama adalah pelaku. Pada cerita, pelaku berfungsi untuk (a) menggambarkan peristiwa melalui perlakuan, dialog, dan monolog, (b) menampilkan gagasan penulis naskah secara tidak langsung, (c) membentuk rangkaian cerita sejalan dengan peristiwa yang ditampilkan, dan (d) menggambarkan tema atau ide dasar yang ingin dipaparkan penulis naskah melalui cerita yang ditampilkan. Fungsi tersebut dapat memberikan gambaran bahwa untuk memahami peristiwa, gagasan pengarang, rangkaian cerita, dan tema dalam suatu naskah drama, pementas drama terlebih dahulu memahami perlakuan, dialog, monolog, pikiran, suasana batin, dan hal lain yang berhubungan dengan pelaku.
Berdasarkan fungsi tersebut, pelaku dapat dibedakan antara pelaku utama dan pelaku tambahan. Pelaku yang menjadi sumber dan berperan utama dalam setiap peristiwa, berperan utama dalam membentuk cerita, mempunyai peranan penting dalam mewujudkan tema disebut pelaku utama. Sebaliknya pelaku yang hanya berfungsi sebagai pembantu atau pendukung kehadiran pelaku utama disebut pelaku tambahan.
Agar pelaku yang ditampilkan dapat memberikan efek yang nyata atau hidup dan menarik perlu diadakan karakterisasi. Salah satu bentuk karakterisasi yang dilakukan dengan memberikan gambaran penampilan dan gambaran perwatakan kepada para pelaku yang ditampilkan. Penggambaran pelaku tersebut dapat dilakukan melalui penggambaran pikiran, sikap, suasana batin, perilaku, cara berhubungan dengan orang lain, dialog, dan monolog. Selain itu, pelaku juga dapat digambarkan melalui pembicaraan, sikap, maupun pandangan pelaku lain. Sehingga para penyimak dapat merasakan adanya  pelaku yang memberi kesan menyenangkan dan tidak menyenangkan.

2. Latar cerita
Latar cerita adalah latar berupa peristiwa, benda, objek, suasana, maupun situasi tertentu. Latar dalam drama selain berfungsi untuk membuat cerita menjadi lebih tampak hidup juga dapat dimanfaatkan untuk menggambarkan gagasan tertentu secara tidak langsung. Latar cerita dapat berupa lingkungan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan sosial budaya. Dengan demikian, latar dapat ditentukan berdasarkan gambaran secara fisik, tetapi harus ditafsirkan oleh penonton.

3. Tema cerita
Tema merupakan ide dasar yang melandasi pemaparan suatu cerita. Tema harus dibedakan dengan nilai moral atau amanat. Tema dapat terwujud dalam gambaran peristiwa maupun rangkaian cerita yang berbeda-beda atau landas tumpu penceritaan sehingga pengembangan cerita harus menunjukkan keselarasan dengan tema ataupun berbagai pokok permasalahan yang digarap melalui pengembangan cerita.

4. Penggunaan gaya bahasa
Karya drama menggunakan gaya bahasa dalam penerapannya. Penggunaan gaya bahasa tersebut difungsikan untuk (a) memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik, (b) menggambarkan suasana lebih hidup dan menarik, (c) menekankan suatu gagasan, dan (d) menyampaikan gagasan secara tidak langsung.

5. Rangkaian cerita
Penentuan rangkaian cerita dalam drama terdapat berbagai macam. Apabila ditentukan cerita berbentuk roman misalnya, rangkaian cerita tersebut dapat digambarkan melalui tahap-tahap; perkenalan, komplikasi, konflik, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian. Unsur-unsur dan rangkaian cerita tersebut tidak selalu berlaku dalam setiap cerita drama. Untuk menyusun gambaran peristiwa tersebut sehingga membentuk sebuah plot, penonton mungkin menggarapnya berdasarkan urutan waktu maupun urutan sebab akibat.

Di dalam memerankan drama, seorang pemain harus dapat membayangkan latar dan tindakan pelaku dan dapat menggunakan suara sesuai dengan pemahamannya terhadap perasaan dan pikiran pelaku. Bermain drama yang merupakan pengembangan keterampilan berbicara harus dapat dilatihkan dengan sungguh-sungguh kepada siswa sekolah dasar melalui kegiatan pembelajaran. Untuk mengembangkan keterampilan bermain drama seorang siswa, tentunya guru harus memiliki dan memahami berbagai metode, teknik, dan model pembelajaran sehingga pembelajaran bermain drama dapat dipahami oleh siswa dan menumbuhkan rasa antusias siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
Sebelum bermain drama, Dewojati (2012, hlm. 266) mengemukakan sejumlah dasar-dasar pementasan yang perlu dikuasai dengan baik, sebagai berikut:

1. Pengusaan lafal
Seorang calon pemain drama harus menguasai pelafalan bunyi konsonan dan vokal sesuai dengan artikulasi secara tepat dan sempurna. Hal ini Disertai suara yang jelas dan keras. Penguasaan lafal ini biasanya dilakukan di tempat terbuka untuk mengulang-ulang suatu pelafalan/vokal tertentu sampai sempurna pengucapannya.

2. Penguasaan intonasi
Di samping lafal, mimik dan gerak tubuh, pemain drama harus pula menguasai intonasi dasar sedih (tempo lambat, nada rendah, tekanan lembut), intonasi marah (tempo cepat, nada tinggi, tekanan keras), dan intonasi gembira (tempo, nada, tekanan bersifat sedang). Suatu peran menjadi hidup bila aktornya memiliki penguasaan, pemahaman, dan penghayatan watak peran yang tepat. Ketika dialog pemain belum bisa menguasai intonasi, maka dialog yang diucapkan oleh pemain akan sulit dimengerti.

3. Penguasaan gesture
Penguasaan kelenturan tubuh atau gesture ini penting dalam sebuah pementasan drama. Tubuh seorang pemain drama harus lentur atau elastis sehingga dalam memainkan peran tertentu tidak kelihatan kaku. Untuk mencapai penguasaan tubuh yang elastik tersebut, perlu melakukan serangkaian gerakan, seperti berlari cepat dalam jarak dekat, bolak balik ke utara, selatan, timur, barat, ke segala penjuru. Berjalan dengan menggambarkan perasaan sedih,  jalan kepayahan membayangkan berjalan di padang pasir hingga jatuh bergulingan, dan seterusnya.

4. Penguasaan mimik dan ekspresi
Seorang calon pemain harus menguasai mimik dasar seperti mimik sedih, gembira, marah dan lainlain. Mimik marah biasa ditandai dengan mata melotot, muka kemerah-merahan, kening berkerut, mimik sedih ditandai dengan wajah muram, pandangan mata sayu, dan mulut tertutup, sedang mimik gembira ditandai muka yang bercahaya, mata bersinar, dan mulut tersenyum.

Banyak hal yang kita raih dalam bermain drama, baik secara fisik maupun psikis, di antaranya:

1. Meningkatkan pemahaman
Meningkatkan pemahaman kita terhadap fenomena dan kejadian-kejadian yang sering kita saksikan dan kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kita menyadari bahwa memahami orang lain merupakan pekerjaan yang paling sulit dan membutuhkan waktu. Untuk itu drama/teater merupakan salah satu cara untuk memecahkannya. Dengan bermain drama atau berteater kita selalu berkumpul dengan orang-orang yang sama sekali berbeda dengan diri kita. Pemahaman kita kepada orang lain tidak hanya dilihat dari orangnya, melainkan keseluruhan orang tersebut. Meliputi sifat, watak, cara berbicara, cara bertindak (tingkah laku), cara merespons suatu masalah, merupakan keadaan yang harus kita pahami dari orang tersebut.

2. Mempertajam kepekaan emosi
Drama melatih kita untuk menahan rasa, melatih kepekaan rasa, menumbuhkan kepekaan, dan mempertajam emosi kita. Rasa kadang kala tidak perlu dirasakan, karena sudah ada dalam diri kita. Perlu diingat bahwa rasa, sebagai sesuatu yang khas, perlu dipupuk agar semakin tajam. Apa yang ada dihadapan kita perlu adanya rasa. Kalau tidak, maka segala sesuatu yang ada akan kita anggap wajar saja. Padahal sebenarnya tidak demikian. Kita semakin peka terhadap sesuatu tentu saja melalui latihan yang lebih. Rasa indah, seimbang, tidak cocok, tidak asyik, tidak mesra adalah bagian dari emosi. Oleh karena itu, perasaan perlu ditingkatkan untuk mencapai kepuasan batin.
Drama menyajikan semua itu. Peka panggung, peka kesalahan, peka keindahan, peka suara atau musik, peka perlakuan yang tidak enak dan enak, semua berasal dari rasa. Semakin kita perasa semakin halus pula tanggapan kita terhadap sesuatu yang kita hadapi.

3. Pengembangan ujaran
Naskah drama sebagai genre sastra, hampir seluruhnya berisi percakapan. Percakapan secara tepat, intonasi, maka ujaran kita semakin jelas dan mudah dipahami oleh lawan bicara. Kejelasan tersebut dapat membantu pendengar untuk mencerna makna yang ada. Harus ada kata yang ditekankan supaya memudahkan pemaknaan. Di mana kita memberi koma (,) dan titik (.). Hampir keseluruhan konjungsi harus diperhatikan selama kita berlatih membaca dalam bermain drama. Suara yang tidak jelas dapat berpengaruh pada pendengar dan lebih-lebih pemaknaan pendengar atau penonton. Di sini perlu adanya kekuatan vokal dan warna vokal yang berbeda dalam setiap situasi. Tidak semua situasi memerlukan vokal yang sama. Tidak semua kalimat harus ditekan melainkan pasti ada yang dipentingkan. Drama memberi semua kemungkinan ini. Sebagai salah satu karya sastra yang harus dipentaskan dan berisi perlakuan serta ucapan.

4. Apresiasi dramatik
Apresiasi dramatik dikatakan sebagai pemahaman drama. Realisasi pemahaman ini adalah dengan pernyataan baik dan tidak baik. Kita bisa memberi pernyataan tersebut jika kita tidak pernah mengenal drama. Semakin sering kita menonton pementasan drama semakin luas pula pemahaman kita terhadap drama atau teater. Karena itulah, kita dituntut untuk lebih meningkatkan kecintaan kita terhadap drama. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh wawasan dramatik yang lebih baik.

5. Pembentukan postur tubuh
Postur berkaitan erat dengan latihan bermain drama. Latihan dasar ini adalah latihan vokal dan latihan olah tubuh. Kelenturan tubuh diperlukan dalam bermain drama, sebab bermain drama memerlukan gerak-gerik. Gerak-gerik inilah yang nantinya dapat membentuk postur tubuh kita sedemikian rupa.

6. Bersosialisasi
Bermain drama tidak mungkin dilaksanakan sendirian. Bermain drama, secara umum, dilakukan secara berkelompok. Betapa sulitnya mengatur kelompok sudah kita pahami bersama, bagaimana kita bisa hidup secara berkelompok adalah bergantung pada diri kita sendiri.
Masing-masing orang dalam kelompok drama memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang, semuanya sama rendah dan sama tinggi, sama-sama penting. Untuk itu, drama selalu menekankan pada sikap pemahaman kepada orang lain dan lingkungannya.
Kelompok drama harus merupakan satu kesatuan yang utuh. Semua unsur dalam drama tidak ada yang tidak penting, melainkan semuanya penting. Rasa kebersamaan, memiliki, dan menjaga keharmonisan kelompok merupakan tanggung jawab dan tugas semua anggota kelompok itu. Bukan hanya tugas dan tanggung jawab ketua kelompok. Baik buruknya pementasan drama tidak akan dinilai dari salah seorang anggota kelompok tetapi semua orang yang terlibat dalam pementasan. Oleh karena itu, perlu adanya kekompakan, kebersamaan, dan kesatuan serta keutuhan.

7. Menyalurkan hobi
Bermain drama dapat juga dikatakan sebagai penyalur hobi. Di dalam drama terdapat unsur-unsur sastra. Drama sebagai seni campuran berisi sastra, tari, dan arsitektur.

Referensi
Aminuddin, & Roekhan (2003). Apresiasi Drama. Jakarta: Angkasa.
Dewojati, C. (2012). Drama, Sejarah, Teori, dan Penerapannya. Yogyakarta: Javakarsa Media.
Endraswara, S. (2011). Metologi Penelitian Sastra. Jakarta: PT Buku Seru.
Hasanuddin, W. S. (1996). Drama, Karya dalam Dua Dimensi Kajian Teori, Sejarah, dan Analisis. Bandung: Angkasa.
Riantiarno, N. (2003). Menyentuh Teater, Tanya Jawab Seputar Teater Kita. Jakarta: 3 Books.


EmoticonEmoticon