Tuesday, 6 February 2018

Lompat Tinggi



Lompat Tinggi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Lompat Tinggi

Kompetisi lompat tinggi dimulai sejak abad ke-19 di Skotlandia. Pada masa itu para peserta lompat tinggi menggunakan teknik gunting, jadi tidak boleh sembarang dalam melompat. Dahulu peserta lompat tinggi harus menggunakan gaya gunting dan jatuh ke tanah dengan cara membelakang. Hal ini mengakibatkan banyak peserta cedera, jadi untuk meminimalisir cedera, tanah diganti dengan matras sebagai alat untuk mendarat. Kala itu tercatat lompatan tertinggi yang dilakukan atlet adalah 1,68 meter.
Kemudian pada sekitar akhir abad ke-19 gaya lompat tinggi telah dimodernisasi oleh seorang warga Irlandia-Amerika bernama Michael Sweeney. Pada tahun 1895, Michael Sweeney berhasil melakukan lompatan setinggi 1,97 meter dengan gaya gunting yang sedikit berbeda, diberi nama eastern cut-off, di mana dengan memanjangkan punggungnya dan mendarat di atas bar.
Warga Amerika lain bernama George Horine mengembangkan teknik lompat yang lebih efisien bernama western roll. Melalui teknik ini, Horine dapat mencapai lompatan setinggi 2,01 meter pada tahun 1912. Kemudian pada Olimpiade Berlin tahun 1936 teknik lompatan ini menjadi dominan dilakukan  dan untuk cabang lompat tinggi telah dimenangkan oleh Cornelius Johnson yang mencapai ketinggian 2,03 meter.
Kemudian pelompat Amerika dan Uni Soviet telah merintis evolusi teknik straddle. Charles Dumas adalah orang pertama yang menggunakan teknik ini mencapai ketinggian 2,13 meter pada tahun 1956. Lalu warga Amerika, John Thomas meningkatkan rekor dunia dengan ketinggian lompatan 2,23 meter. Setelah itu, empat tahun kemudian pelompat Uni Soviet, Valeriy Brumel mengambil alih rekor dunia dengan mencatat ketinggian lompatan hingga 2,28 meter.
Lompat tinggi merupakan salah satu cabang olahraga atletik yang menguji keterampilan melompat dengan melewati tiang mistar. Tujuan olahraga lompat tinggi adalah untuk memperoleh lompatan setinggi-tingginya saat melewati mistar dengan ketinggian tertentu. Tinggi mistar yang harus dilewati seorang atlet lompat tinggi minimal 2,5 meter dengan panjang mistar 3,15 meter. Olahraga lompat tinggi dilakukan pada lapangan atletik tanpa menggunakan bantuan alat tertentu.
Pada pertandingan, mistar akan dinaikkan setelah peserta berhasil melewati ketinggian mistar. Peserta harus melonjak dengan sebelah kaki. Peserta boleh mulai melompat di mana ketinggian permulaan yang disukai. Suatu lompatan akan dianggap tidak sah apabila peserta menyentuh palang, menjatuhkan palang, dan tidak melompat. Peserta yang gagal melompat melintasi palang sebanyak tiga kali berturut-turut dinyatakan gagal dan keluar dari pertandingan. Pemenang ditentukan dengan lompatan tertinggi yang berhasil dilewati.
Saat ingin melakukan lompat tinggi terdapat sejumlah teknik yang harus diperhatikan, ada empat (4) tahapan posisi yang harus diketahui sebelum melakukan lompat tinggi, yakni:
1. Posisi awalan adalah dengan gerakan berlari menuju mistar.
2. Posisi tolakan adalah dengan gerakan tumpuan kaki pada lantai dasar untuk menaikkan badan menuju ke mistar.
3. Posisi melayang adalah gaya saat posisi badan berada di atas mistar atau di udara.
4. Posisi mendarat adalah  jatuhnya badan saat di atas matras.
Berikut adalah empat (4) jenis gaya lompat tinggi yang biasa digunakan oleh atlet lompat tinggi, sebagai berikut:

1. Gaya straddle (guling)

Lompat Tinggi

Gaya guling (straddle) merupakan gaya di mana badan kita melewati tiang dengan cara diputar dan dibalikkan lagi, sehingga sikap badan kita saat di atas mistar telungkup. Cara untuk melakukan gaya guling adalah pelompat tinggi harus mengambil awalan terlebih dahulu dari samping antara tiga (3) sampai sembilan (9) langkah. Tumpuan terletak pada kaki yang paling kuat, kemudian ayunkan ke depan. Setalah kaki diayunkan, untuk dapat melewati mistar kemudian dengan cepat badan dibalikkan, sehingga sikap badan di atas mistar telungkup. Pada waktu mendarat gunakan kaki kanan dan tangan kanan jika tumpuan menggunakan kaki kiri, begitupun sebaliknya.

2. Gaya flop

Lompat Tinggi

Gaya ini diciptakan oleh Dick Ricarod Fosbury. Ia adalah seorang pelompat tinggi yang berasal dari Amerika. Pada Olimpiade Mexico yang diadakan pada tahun 1968, Fosbury menggunakan gaya tersebut dan berhasil menjadi juara pertama lompat tinggi.
Mulai saat itu para ahli atletik banyak yang meneliti gerakan unik tersebut. Keunikan dari gerakan flop yaitu tubuh berada di atas mistar dengan posisi terlentang dan jatuh menggunakan punggung  masih dalam kondisi terlentang. Cara melampaui mistar dengan teknik ini adalah kebalikan dari teknik straddle. Jika pada lompatan straddle berguling di atas mistar dengan posisi perut menghadap ke bawah, sebaliknya jika teknik flop yaitu dengan punggung yang menghadap ke bagian bawah arah agak serong ke kiri, tidak tegak lurus pada mistar.

3. Gaya scissors (gunting)

Lompat Tinggi

Gaya gunting ditemukan oleh Sweney. Untuk itu, gaya gunting sering disebut juga dengan gaya sweney. Sebelumnya di tahun 1880, Sweney menggunakan gaya jongkok, namun ia merasa gaya tersebut kurang tepat hingga mengubah gaya tersebut menjadi gaya gunting.

4. Gaya western roll (guling sisi)

Lompat Tinggi

Gaya ini diciptakan oleh G. Horin yang berasal dari Amerika pada tahun 1912, namun sayang sekali gaya ini tidak dapat digunakan karena berbenturan dengan peraturan lompat tinggi itu sendiri. Pada penggunaan gaya ini, saat kita melewati mistar, posisi kepala cenderung lebih rendah daripada pinggul, sehingga hal ini tidak sah. Maka dari itu, gaya ini tidak dapat digunakan dalam perlombaan resmi lompat tinggi.

Adapun sarana dan prasarana pada olahraga lompat tinggi, sebagai berikut:
1. Untuk awalan
a. Daerah awalan panjangnya tidak terbatas minimal 15 meter.
b. Daerah tumpuan  harus datar dan tingkat kemiringannya 1:100.
c. Tiang lompat tinggi harus kuat dan kokoh, dapat terbuat dari apa saja. Kedua tiang tersebut adalah 3,98-4,02 meter.
2. Bilah lompat terbuat dari kayu, mental, atau bahan lain yang sesuai dengan:
a. Panjang mistar lompat 3,98-4,02 meter dan berat maksimal mistar adalah 2 kg.
b. Garis tengah mistar antara 2,5-3 meter, dengan penampang mistar terbuat bulat dan permukaannya harus datar dengan ukuran 3 cm x 15 cm x 20 cm.
c. Lebar penopang bilah 4 cm dan panjang 6 cm.
d. Tempat pendaratan tidak boleh kurang dari 3 x 5 meter yang terbuat dari busa dengan ketinggian 60 cm di atasnya ditutupi oleh matras yang tebalnya 10-20 cm.

Lompat Tinggi


EmoticonEmoticon