Thursday, 1 March 2018

Kecerdasan Verbal/Linguistik



Kecerdasan Verbal/Linguistik
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

Kecerdasan Verbal/Linguistik

Kecerdasan berasal dari kata cerdas yang berarti kesempurnaan perkembangan akal budi pekerti. Kecerdasan berarti “bahasa-bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian dipengaruhi kebudayaan di mana ia dilahirkan, merupakan alat untuk belajar, menyelesaikan masalah, dan menciptakan semua hal yang bisa digunakan manusia” (Campbell, 2002, hlm. 2). Secara umum, linguistik diartikan sebagai “ilmu tata bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya” (Chaer, 2009, hlm. 3). Adapun secara bahasa linguistik diartikan sebagai ilmu tata bahasa telaah bahasa secara ilmiah. Sedangkan kata verbal berarti lisan.
Kecerdasan verbal/linguistik adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan mengargai makna kompleks. Kecerdasan verbal/linguistik merupakan “kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya” (Uno dan Umar, 2010, hlm. 17). Kecerdasan verbal/linguistik diartikan sebagai “kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakan kemampuan ini secara kompeten melalui kata-kata untuk mengungkapkan pikiran-pikiran ini dalam berbicara, membaca, dan menulis”. (Lwin, 2008, hlm. 11). Menurut Zulkifli (2002, hlm. 34) kecerdasan verbal/linguistik merupakan “kemampuan untuk menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyatakan ekspresi, untuk mempengaruhi orang lain dan alat untuk memberi nama”. Menurut Efendi (2005, hlm. 140) kecerdasan verbal/linguistik adalah “kemampuan dalam menggunakan kata-kata secara terampil dan mengekspresikan konsep-konsep secara fasih (fluently).
Berdasar sejumlah definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan verbal/linguistik adalah kemampuan berbahasa dalam menggunakan kata-kata secara terampil untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks sebagai alat untuk berkomunikasi, berpikir, dan menyampaikan pendapat. Seseorang dengan kecerdasan verbal/linguistik yang tinggi tidak hanya akan memperlihatkan suatu penguasaan bahasa yang sesuai, tetapi juga dapat menceritakan kisah, berdebat, berdiskusi, menafsirkan, menyampaikan laporan, dan melaksanakan berbagai tugas lain yang berkaitan dengan berbicara dan menulis. Kecerdasan verbal/linguistik penting bukan hanya untuk keterampilan berkomunikasi melainkan untuk mengungkapkan pikiran, keinginan, dan pendapat seseorang.
Kecerdasan verbal/linguistik memiliki sejumlah ciri khusus. Kecerdasan ini menunjukkan dengan kepekaan seseorang pada bunyi, struktur, makna, fungsi kata, dan bahasa. Individu yang memiliki kecerdasan verbal/linguistik cenderung menunjukkan hal-hal berikut:
1. Senang dan efektif berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Mereka dapat menyampaikan pikiran dan perasaan mereka kepada orang lain secara tepat.
2. Senang dan baik dalam mengarang cerita, mereka sangat membuat cerita, merangkainya sangat bagus, dan menyajikannya dalam bentuk yang menarik.
3. Senang berdiskusi dan mengikuti debat masalah. Mereka pandai menangkap permasalahan yang disampaikan secara verbal, memaknainya sekaligus menanggapinya.
4. Senang dan efektif belajar bahasa asing. Mereka sering mendengarkan ujaran dalam bahasa asing, cepat menangkap perbedaan fonem dan mampu membandingkan dengan fonem dari bahasanya sendiri.
5. Senang bermain game bahasa. Mereka menikmati permainan bunyi, peka terhadap kelucuan yang muncul akibat pertukaran bunyi, dan peka terhadap kata-kata.
6. Senang membaca dan mampu mencapai pemahaman tinggi. Mereka mampu menangkap makna dibalik kata-kata dan mampu memberikan interpretasi yang tepat.
7. Mudah mengingat kutipan, ucapan ahli, pakar, atau ayat. Mereka memiliki memori yang kuat terhadap kata-kata, kalimat, fakta-fakta, dan kutipan yang penting. Mereka bahkan mampu mengulang kembali apa yang mereka dengar dan apa yang mereka baca secara akurat.
8. Tidak mudah salah tulis atau salah eja. Mereka peka terhadap ejaan dan memiliki ketajaman yang baik dalam penataan dan penempatan dalam ejaan dalam tulisan mereka.
9. Pandai membuat lelucon. Oleh karena itu, peka terhadap kata dan informasi lisan serta pandai bermain kata-kata, mereka pandai membuat lelucon yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Mereka pandai membuat plesetan, mengaitkan fakta yang serius dengan fakta yang mirip, tetapi jelas-jelas tidak berkaitan dan menimbulkan kelucuan.
10. Pandai membuat puisi. Mereka peka terhadap daya kata dan memiliki kemampuan mengekspresikan pikiran dan perasaan dalam bahasa yang padat dan indah.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan verbal-linguistik, sebagai berikut:
1. Berbedanya cara bagaimana anak mempelajari bahasa.
2. Berbedanya jenis bahasa yang dipelajari anak.
3. Berbedanya karakteristik kepribadian anak.
4. Berbedanya lingkungan proses pembelajaran bahasa tersebut.
Kecerdasan verbal/linguistik sangat berakar dalam perasaan mengenai kompetensi dan kepercayaan diri. Semakin banyak anak yang berlatih kecerdasan ini di tempat yang kondusif, makin mudah mereka mengembangkan keterampilan-keterampilan verbal/linguistik ini. Adapun yang termasuk dalam ruang lingkup kecerdasan verbal/linguistik meliputi empat (4) aspek, yakni (1) mendengar, (2) menulis, (3) membaca, dan (4) berbicara.

Referensi
Campbell, L. (2002). Multiple Intelegences: Metode Terbaru Melesatkan Kecerdasan. Depok: Inisiasi Press.
Chaer, A. (2009). Psikolinguistik Kajian Teori. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Efendi, A. (2005). Revolusi Kecerdasan Abad 21. Bandung: Alfabeta.
Lwin, M. (2008). Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan. Jakarta: PT Indeks.
Uno, H. B., & Umar, M. K. (2010). Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran: Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan. Jakarta: Bumi Aksara.
Zulkifli (2002). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


EmoticonEmoticon