Sunday, 18 March 2018

Kecerdasan Visual Spasial


Kecerdasan Visual Spasial
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

kecerdasan visual

Kecerdasan visual spasial adalah kemampuan mempersepsikan dunia secara akurat dan mentransformasikan persepsi dunia tersebut. Menurut Gardner (dalam Armstrong, 2013, hlm. 7) “kecerdasan ini melibatkan kepekaaan terhadap garis, bentuk, ruang, dan hubungan-hubungan yang ada di antara unsur-unsur ini”. Hal tersebut mencakup kemampuan untuk memvisualisasikan, mewakili ide-ide visual atau spasial secara grafis, dan mengorientasikan diri secara tepat dalam sebuah matriks spasial. Menurut Olivia dan Ariani (2009, hlm. 82) kecerdasan visual spasial adalah “kemampuan berpikir menggunakan visual atau gambar dan membayangkan dalam pikiran dalam bentuk dua atau tiga dimensi”. Safaria (2005, hlm. 18) mengemukakan kecerdasan visual spasial “akan menunjukkan kemampuan anak dalam memahami perspektif ruang dan dimensi”.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan visual spasial adalah suatu kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang untuk memahami sesuatu dengan memvisualisasikan menggunakan indera penglihatan, baik yang berupa bentuk, warna, dan ruang.
Menurut Suyadi (2009, hlm. 201) perkembangan kecerdasan visual spasial pada anak usia lima sampai enam tahun, antara lain:
1. Mampu menghitung dengana cara menawang atau mencongkak.
2. Mampu membuat benda seperti yang tergambar dalam pikirannya.
3. Mampu mengarang cerita pendek.
Menurut Gardner (dalam Musfiroh, 2008, hlm. 4.14) kecerdasan visual spasial anak “dapat dikembangkan dengan berbagai cara, meliputi bermain, menggambar atau melukis, mewarnai, karyawisata, imajinasi, bercerita, proyek, dan dekorasi permainan”. Cara yang dimaksud adalah untuk pengenalan informasi visual, pengenalan dan pemandu warna, mengembangkan kemampuan menggambar, apersepsi gambar, foto, film, kemampuan konstruksi, penajaman kemampuan visual, dan pengembangan imajinasi.
Anak memiliki kepekaan merasakan dan membayangkan dunia gambar dan ruang secara akurat. Menurut Sefrina (2013, hlm. 59) “anak dengan kecerdasan visual spasial menonjol memiliki ciri yang berhubungan dengan gambar dan ruang”. Ciri pertama yang mudah diamati anak sering kali dapat menceritakan objek yang ditemuinya dengan sangat mendetail,  mulai dari bentuk, warna, ukuran hingga bagian-bagian dari objek tersebut.
Terdapat ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan visual spasial, yakni:
1. Menyukai bidang seni rupa, seperti lukisan, patung, dan sebagainya.
2. Dapat mengembangkan gambaran dalam sesuatu ruang dari beberapa sudut yang berbeda.
3. Menyukai bacaan yang penuh oleh gambar-gambar berwarna.
Sedangkan menurut Gunawan (2003, hlm. 123) ciri-ciri kecerdasan visual spasial yang berkembang baik, di antaranya:
1. Belajar dengan cara melihat dan mengamati, seperti mengenali wajah, objek, bentuk, dan warna.
2. Mampu mengenali suatu lokasi dan mencari jalan keluar.
3. Mengamati dan membentuk gambaran mental, berpikir dengan menggunakan gambar, dan menggunakan bantuan gambar untuk membantu proses mengingat.
4. Senang belajar dengan grafik, peta, diagram, atau alat bantu visual.
5. Suka mencoret-coret, menggambar, melukis, dan membuat patung.
6. Suka menyusun dan membangun permainan tiga dimensi, mampu secara mental mengubah bentuk suatu objek.
7. Mempunyai kemampuan imajinasi yang baik.
Menurut Gardner (dalam Musrifoh, 2008, hlm. 4.4) komponen inti dari kecerdasan visual spasial adalah “kepekaan pada garis, warna, bentuk, ruang, keseimbangan, bayangan, harmoni, pola, dan hubungan antar unsur tersebut”. Komponen lainnya adalah kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual dan spasial, dan mengorientasikan diri secara tepat. Komponen inti dari kecerdasan visual spasial benar-benar bertumpu pada ketajaman melihat dan ketelitian pengamatan.
Indikator kecerdasan visual spasial anak menurut Gardner (dalam Musfiroh, 2008, hlm. 4.7) sebagai berikut:
1. Anak menonjol dalam kemauan menggambar, mampu menunjukkan detail unsur daripada anak lainnya.
2. Anak memiliki kepekaan terhadap warna, cepat mengenali warna, dan mampu memadukan warna dengan lebih baik daripada anak-anak sebayanya.
3. Anak suka menjelajah lokasi di sekitarnya, serta cepat menghafal letak benda-benda.
4. Anak menyukai balok atau benda lain untuk membuat suatu bangunan benda, seperti mobil, rumah, pesawat, atau apapun yang diinginkan anak. Begitu melihat bangun geometri, anak tertarik untuk segera memuat konstruksi.
5. Anak suka melihat-lihat dan memperhatikan buku yang berilustrasi atau buku-buku penuh gambar.
6. Anak suka mewarnai berbagai gambar yang ada di buku, menebalkan garisnya, dan menirunya.
7. Anak menikmati bermain kolase dari berbagai unsur, membuat benda dari lilin atau sejenisnya.
8. Anak memperhatikan berbagai jenis grafik, peta, dan diagram, serta menanyakan nama dan maksud bentuk-bentuk informasi tesebut sementara anak sebayanya kurang antusias.
9. Anak menikmati foto-foto di album dan cepat mengenali orang-orang atau benda-benda di foto, tertarik dengan kamera dan ingin menggunakannya, serta dapat mengarahkan kamera pada objek yang dikehendaki.
10. Anak banyak bercerita tentang mimpinya dan dapat menunjukkan detail mimpi daripada anak-anak sebayanya.
11. Anak tertarik pada profesi yang terkait dengan penggunaan kecerdasan visual spasial secara optimal, seperti pelukis, fotografer, arsitek, perancang busana, pilot, penjelajah ruang angkasa, atau karier lain yang berorientasi visual spasial.
12. Anak dapat merasakan pola-pola sederhana dan mampu menilai pola mana yang lebih bagus dari pola lainnya.

Referensi
Armstrong, T. (2013). Kecerdasan Multipel di dalam Kelas. Jakarta: Indeks.
Gunawan, A. W. (2003). Genius Learning Strategy. Jakarta: Gramedia.
Musfiroh, T. (2008). Cerdas Melalui Bermain. Jakarta: Grasindo.
Olivia, F, & Ariani, L. (2009). Belajar Membaca yang Menyenangkan untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Safaria (2005). Interpersonal Intelligence: Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta: Amara Books.
Sefrina, A. (2013). Deteksi Minat Bakat Anak Optimalkan 10 Kecerdasan pada Anak. Yogyakarta: Media Pressindo.
Suyadi (2009). Permainan Edukatif yang Mencerdaskan. Yogyakarta: Powerbook.


EmoticonEmoticon