Thursday, 12 April 2018

Biblioterapi


Biblioterapi
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

terapi buku

Biblioterapi atau sering dikenal juga dengan istilah biblioguidance, bibliocounseling, literatherapy, bookmatching, atau terapi membaca merupakan pengunaan buku bacaan dalam proses terapi atau konseling. Biblioterapi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yakni biblion yang berarti buku atau bahan bacaan dan therapy yang berarti penyembuhan. Terapi ini melibatkan buku atau bahan bacaan untuk memfasilitasi perkembangan seseorang baik yang normal maupun yang memiliki masalah klinis.
Biblioterapi adalah proses menggunakan bahan bacaan atau buku-buku untuk membantu seseorang dalam berpikir, memahami, dan bekerja melalui kepedulian sosial dan emosional. Membaca dapat menjadi sebuah terapi bagi seseorang karena individu tersebut dapat memasuki suatu dunia dan terlibat dalam sebuah karakter yang dijelaskan dalam sebuah buku, sehingga bisa memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih. “Terapi ini bisa membantu seseorang dalam mengatasi gejolak emosi yang berkaitan dengan masalah kehidupan” (Akinola, 2014, hlm. 1281). “Bahan bacaan bisa menjadi agen utama sekaligus menjadi tambahan dalam terapi, sedangkan konselor bisa menjadi pemberi bantuan dan juga sebagai orang yang menjembatani permasalahan konseli dengan buku bacaan dalam proses biblioterapi” (Shechtman, 2009, hlm. 22).
Kecenderungan anak atau remaja dalam mengidentifikasi karakter dalam cerita membuat biblioterapi menjadi sebuah alat yang memiliki kekuatan penuh untuk membantu menormalkan kembali perasaan dan memberikan contoh dan kegembiraan. Selain itu, juga memberikan pandangan-pandangan, nasihat, anjuran, dan perilaku-perilaku baik yang ditulis oleh pengarang yang nantinya dapat mengubah perilaku dan tutur kata dari pembaca.
Menurut Afolayan (1992, hlm. 139) tujuan utama biblioterapi adalah “membimbing seseorang melalui kegiatan membaca, menggunakan buku-buku untuk membantu memecahkan masalah pribadi, mengembangkan keterampilan hidup, meningkatkan konsep diri dan kepribadian, serta adanya interaksi seseorang dengan sebuah sastra yang dinamis antara kepribadian dan bacaan”.
Penggunaan biblioterapi dapat memberikan manfaat, di antaranya:
1. Mengurangi stres atau tekanan yang dihadapi anak.
2. Membantu memulihkan keadaan individu yang memiliki trauma.
3. Menghilangkan kebosanan yang dialami oleh seseorang.
4. Menurunkan ketegangan.
5. Meningkatkan wawasan.
6. Membantu untuk dapat memahami permasalahan yang dialami dengan lebih baik sehingga dapat memiliki solusi pemecahan masalah dan memiliki semangat untuk menata masa depan yang lebih baik.
Biblioterapi memiliki tiga tahap perubahan yang nantinya dapat membantu seseorang meringankan permsalahan yang dihadapi. Tahapan tersebut, sebagai berikut:
1. Identifikasi
Tahap ini dimulai saat pembaca, pendengar, dan karakter cerita telah saling terhubung satu sama lain. Tahap ini bertujuan untuk memperluas konsep diri seseorang sebagai pembaca yang didasarkan bahwa individu tidak sendiri, ada seseorang di luar sana yang juga mengalami hal yang sama sehingga pembaca atau pendengar pasti bisa mendapatkan jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi.
2. Pembersihan
Setelah pembaca melewati proses identifikasi dengan karakter cerita, maka pembaca akan mengalami perasaan berupa ikatan emosional yang kuat dengan karakter cerita sehingga dapat merasakan dan ikut larut dalam situasi yang digambarkan oleh penulis cerita. Pada tahap ini pembaca akan memiliki efek pembersihan atau adanya kontrol dalam diri sehingga emosi yang awalnya meledak atau meluap berangsur-angsur normal dan tenang. Saat ini pula pembaca juga akan mencari solusi yang dihadapi bersama karakter cerita.
3. Wawasan
Pada tahap ini pembaca mulai menyadari bahwa permasalahan yang dialami dapat mengalami perubahan karena karakter dalam cerita memberikan alternatif pemecahan masalah yang nantinya akan menjadi panutan positif bagi anak-anak. Tahap ini memungkinkan pembaca untuk bisa menganalisis karakter dan situasi sehingga bisa mengembangkan perilaku serta tindakan karakter dalam cerita untuk bisa menyelesaikan permasalahan pembaca sendiri. Keadaan ini kemudian dilaksanakan di kehidupan nyata pembaca sehingga ketika merasa sadar bahwa situasi dan kondisi di kehidupan nyata tidak seperti dalam cerita, maka pembaca bisa mencari solusi alternatif yang bisa digunakan dalam menyelesaikan permasalahan.
Kegiatan yang menggunakan biblioterapi tentunya telah melalui sejumlah tahap konseling umum yang kemudian dari proses tersebut disimpulkan bahwa penggunaan biblioterapi dapat sesuai dengan permasalahan yang ada. Proses konseling yang hendaknya dilakukan sebelum memasuki proses biblioterapi menurut Aswadi (2009, hlm. 40), antara lain:
1. Identifikasi masalah, dimaksudkan untuk mengetahui masalah beserta gejala yang tampak.
2. Diagnosis, yaitu langkah untuk menetapkan masalah yang dihadapi beserta latar belakangnya.
3. Prognosis, yakni langkah untuk mengukur tingkat permasalahan dan kemungkinan pemberian bantuan sehingga dapat menetapkan jenis bantuan apa yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah.
4. Terapi (treatment) adalah langkah pelaksanaan bantuan yang telah ditetapkan dalam proses konseling. Setelah ditetapkan bahwa terapi yang diberikan adalah biblioterapi, maka proses pemberian terapinya, sebagai berikut:
a. Awali dengan motivasi
Konselor dapat memberikan kegiatan pendahuluan, seperti permainan atau bermain peran yang dapat memotivasi anak untuk terlibat secara aktif dalam biblioterapi.
b. Memberikan waktu yang cukup membaca bahan-bahan bacaan yang telah disiapkan hingga selesai
Konselor harus memahami benar bahan-bahan bacaan yang digunakan. Setelah itu, berikan waktu yang cukup bagi anak untuk membaca dan memahami bahan-bahan bacaan tersebut.
c. Lakukan inkubasi
Konselor memberikan waktu pada anak untuk merenungkan dan merefleksikan materi yang baru saja dibaca. Berikan dorongan pada anak untuk bisa memahami isi cerita atau bacaan yang telah dibaca sehingga anak dapat menangkap nasihat dan pengetahuan dari bacaan tersebut.
d. Tindak lanjut
Tindak lanjut dapat dilakukan dengan cara diskusi. Melalui diskusi, anak mendapatkan ruang untuk saling bertukar pandangan sehingga memunculkan gagasan baru. Kemudian, konselor membantu anak untuk merealisasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan.
5. Evaluasi (follow up), yakni untuk mengetahui sejauh mana hasil dari proses konseling yang telah dilaksanakan sekaligus untuk menentukan langkah jangka panjang.
Sebelum melaksanakan biblioterapi hendaknya konselor melakukan persiapan yakni memastikan bahwa anak benar-benar memiliki kemampuan membaca yang baik, sehingga keseluruhan pesan yang disampaikan pada bahan bacaan dapat diterima dengan baik oleh anak. Lebih lanjut, mengenai pemilihan bahan bacaan yang tepat untuk anak, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Mengetahui latar belakang dan permasalahan anak dengan baik.
2. Bahan bacaan yang digunakan harus sesuai dengan tingkat kemampuan baca anak, agar anak dapat memahami bacaan yang digunakan serta merefleksikan pada diri.
3. Bahan bacaan harus menarik anak agar dapat lebih termotivasi dalam membaca.
4. Tokoh atau karakter yang ada pada bahan bacaan harus dapat memunculkan rasa empati dan memberikan contoh yang sesuai dengan permasalahan anak agar dapat lebih memahami dan tahu perilaku yang dapat dilakukan untuk meningkatkan diri.
5. Alur cerita yang tertulis dalam bahan bacaan harus dapat digunakan dan diterapkan pada masa kini.

Referensi
Afolayan, J. A. (1992). Documentary Perspective of Bibliotherapy in Education. Journal Reading Horizos, 33, hlm. 138-148.
Akilona, A. N. (2014). Bibliotherapy as an Alternative Approach Children’s Emotional Disorders. Nigeria: Scientific Research.
Aswadi (2009). Iyadah dan Ta’ziah Perspektif Bimbingan Konseling Islam. Surabaya: Dakwah Digital Press.
Shectman, Z. (2009). Treating Child and Adolescent Aggresion Through Bibliotherapy. New York: Springer Science and Business Media.


EmoticonEmoticon