Sunday, 22 April 2018

Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)


Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

model pembelajaran TPS

Model pembelajaran think pair share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran tipe kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam kelompok secara keseluruhan. Pada model think pair share siswa dibimbing secara mandiri, berpasangan, dan saling berbagi untuk menyelesaikan permasalahan. Arends (dalam Komalasari, 2011, hlm. 64) menyatakan bahwa think pair share merupakan “suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas”. Sejalan dengan itu, Trianto (2010, hlm. 81) mengemukakan bahwa model pembelajaran think pair share merupakan “jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa”.
Berdasar sejumlah pendapat tersebut, dapat ditarik garis besar bahwa model pembelajaran think pair share adalah suatu model pembelajaran yang dapat memberi siswa lebih banyak kesempatan untuk berpikir dan berpendapat secara individu untuk merespon pendapat yang lain, kemudian saling membantu dalam kelompoknya, serta membagi pengetahuan kepada siswa lain.
Model pembelajaran think pair share pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman pada tahun 1981. Resiko dalam pembelajaran think pair share relatif rendah dan memiliki struktur pembelajaran kolaboratif jangka pendek, sehingga sangat ideal bagi guru dan siswa yang baru mengenal pembelajaran kolaboratif. Think pair share dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Think pair share menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota kelompok).
Think pair share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Misalkan, guru telah menyelesaikan suatu penyajian singkat atau siswa telah membaca suatu tugas dan guru menginginkan siswa memikirkan lebih mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami. Untuk itu, guru dapat menerapkan langkah-langkah berikut:
1. Tahap I: thinking (berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau soal yang berhubungan dengan apa yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan atau soal tersebut secara mandiri untuk beberapa waktu.
2. Tahap II: pairing (berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lainnya untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban atau berbagi ide. Biasanya guru memberi waktu sekitar lima (5) menit untuk berpasangan.
3. Tahap III: sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada setiap kelompok untuk berbagi dengan kelompok lainnya tentang apa yang mereka diskusikan. Masing-masing anggota dalam kelompok memiliki tugas yang setara. Pada pembelajaran ini keberhasilan kelompok sangat diperhatikan, maka siswa yang pandai ikut bertanggung jawab membantu temannya yang kurang dalam kelompok. Dengan demikian, siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang kurang dapat terbantu dalam memahami permasalahan yang diselesaikan kelompok tersebut.
Kelebihan penggunaan model pembelajaran think pair share, antara lain:
1. Meningkatkan pencurahan waktu pada pengerjaan tugas.
2. Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
3. Mengurangi sikap apatis dari siswa.
4. Penerimaan terhadap pendapat individu lebih besar.
Adapun kelemahan penggunaan model pembelajaran think pair share, di antaranya:
1. Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir sistematik.
2. Lebih sedikit ide yang masuk.
3. Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam kelompok, sehingga banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.

Referensi
Komalasari, K. (2011). Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika Aditama.
Trianto (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresifi. Jakarta: Kencana.


EmoticonEmoticon