Monday, 21 May 2018

Karakteristik Anak Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD)


Karakteristik Anak Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

karakteristik anak ADHD

Istilah Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD) pertama kali disinggung oleh seorang neurolog, Heinrich Hoffman pada tahun 1845 pada tulisannya mengenai perilaku yang kemudian dikenal dengan hiperaktif dalam buku cerita anak karangannya. ADHD pertama kali dikemukakan oleh seorang dokter Inggris, George F. Still di dalam penelitiannya terhadap sekelompok anak yang menunjukkan suatu ketidakmampuan abnormal untuk memusatkan perhatian, gelisah, dan resah. Ia mengemukakan bahwa anak-anak tersebut memiliki kekurangan yang serius dalam hal kemauan yang berasal dari bawaan biologis. “Gangguan tersebut disebabkan oleh sesuatu di dalam diri anak dan bukan karena faktor lingkungan” (Baihaqi dan Sugiarman, 2006, hlm. 4).
ADHD adalah nama yang diberikan untuk anak-anak, remaja, dan beberapa orang dewasa, yang kurang mampu memperhatikan, mudah dikacaukan, over aktif, dan implusif. Menurut Millichap (2013, hlm. 1) ADHD adalah suatu gangguan neurobiologi, dan bukan penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik”. Sejalan dengan itu, Baihaqi dan Sugiarman (2006, hlm. 2) mendefinisikan ADHD sebagai “kondisi anak-anak yang memperlihatkan ciri-ciri atau gejala kurang konsentrasi, hiperaktif, dan implusif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup mereka”. Pengertian ini didukung oleh Peters dan Douglas (dalam Rusmawati dan Dewi, 2011, hlm. 75) yang mendeskripsikan ADHD sebagai “gangguan yang menyebabkan individu memiliki kecenderungan untuk mengalami masalah pemusatan perhatian, kontrol diri, dan kebutuhan untuk selalu mencari stimulasi”. Pengertian ini juga didukung oleh hasil observasi yang dilakukan oleh Russell Barkley, dkk. (dalam Kutscher, 2005, hlm. 43) yang menggambarkan ADHD sebagai “ketidakmampuan menahan gangguan, ketidakmampuan mengontrol pemikiran, dan ketidakmampuan mengontrol tindakan”.
Berdasar sejumlah pengertian tersebut dapat ditarik garis besar bahwa ADHD adalah salah satu gangguan pemusatan perhatian, hiperaktif, dan implusif.
Aktivitas dan kegelisahan pada anak ADHD menghambat kemampuan mereka di sekolah. “Mereka tampak tidak dapat duduk dengan tenang, mereka gelisah dan bergerak-gerak di kursi, mengganggu kegiatan anak lain, mudah marah, dan dapat melakukan perilaku yang berbahaya seperti berlari ke jalan tanpa melihat keadaan di jalan terlebih dahulu” (Nevid, dkk., 2003, hlm. 160). Anak ADHD dengan sejumlah permasalahan tersebut mengalami “masalah perilaku, sosial, kognitif, akademik, dan emosional, serta mengalami hambatan dalam mengaktualisasi potensi kecerdasannya.
Menurut Baihaqi dan Sugiarman (2006, hlm. 8) mengemukakan karakteristik ADHD, sebagai berikut:
1. Kurang perhatian
Pada kriteria ini, penderita ADHD paling sedikit mengalami enam atau lebih dari gejala-gejala berikutnya, dan berlangsung selama paling sedikit enam bulan sampai suatu tingkatan yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan. Kriterianya sebagai berikut:
a. Seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau membuat kesalahan yang sembrono dalam pekerjaan sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya.
b. Seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain.
c. Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara secara langsung.
d. Seringkali tidak mengikuti baik-baik instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas sekolah atau pekerjaan.
e. Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan.
f. Sering kehilangan benda/barang penting untuk tugas-tugas dan kegiatan.
g. Seringkali menghindar, tidak menyukai atau enggan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menyentuh usaha mental.
h. Seringkali bingung oleh rangsangan luar.
i. Sering lupa dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.
2. Hiperaktivitas impulsifitas
Paling sedikit enam atau lebih dari gejala-gejala hiperaktivitas impulsifitas dan bertahan paling sedikit enam sampai dengan tingkat yang maladaptif. Gejalanya sebagai berikut:
a. Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka dan sering menggeliat di kursi.
b. Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau dalam situasi lainnya di mana diharapkan anak tetap duduk.
c. Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi  di mana hal ini tidak tepat.
d. Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang.
e. Sering bergerak atau bertindak seolah-olah dikendalikan oleh orang lain.
f. Sering berbicara berlebihan.
g. Sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai.
h. Sering mengalami kesulitan menanti giliran.
i. Sering menginterupsi atau mengganggu orang lain.
Sejumlah faktor penyebab ADHD, antara lain:
1. Faktor genetik
Anak dengan orang tua yang menyandang ADHD mempunyai delapan kali kemungkinan mempunyai resiko mendapatkan anak ADHD. Namun, “belum diketahui gen mana yang menyebabkan ADHD” (Paternotte dan Buitelaar, 2010, hlm. 17).
2. Faktor fungsi anak
Secara biologis terdapat dua mekanisme di dalam otak, yaitu pengaktifan sel-sel saraf (eksitasi) dan penghambat sel-sel saraf (inhibisi). Tampaknya pada anak ADHD perkembangan sistem ini lebih lambat dan juga dengan kapasitas yang lebih kecil. “Pada penelitian juga disebutkan bahwa adanya neuro-anatomi dan neuro-kimiawi yang berbeda antara anak yang menyandang ADHD dan tidak” (Paternotte dan Buitelaar, 2010, hlm. 19).
3. Faktor lingkungan
Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan secara luas, termasuk lingkungan psikologis (relasi dengan orang lain, berbagai kejadian, dan penanganan yang telah diberikan), lingkungan fisik (makanan, obat-obatan), dan lingkungan biologis (cedera otak, radang otak, komplikasi saat melahirkan).

Referensi
Baihaqi, & Sugiarman (2006). Memahami dan Membantu Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama.
Kutscher, M. L. (2005). Kids in the Syndrome Mix of ADHD, LD, Asperger’s, Tourette’s, Bipolar, and More!. London: Jessica Kingsley Publishers.
Millichap, J. G. (2013). Attention Deficit Hyperactivity Disorder Handbook. London: Springer.
Nevid, J. S., dkk. (2005). Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.
Paternotte, A., & Buitelaar, J. (2010). ADHD Attention Deficit Hyperactive Disorder. Jakarta: Pernada.
Rusmawati, D., & Dewi, E. K. (2011). Pengaruh Terapi Musik dan Gerak Terhadap Penurunan Kesulitan Perilaku Siswa Sekolah Dasar dengan Gangguan ADHD. Jurnal Psikologi Undip, 1, hlm. 75.


EmoticonEmoticon