Monday, 7 May 2018

Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW)


Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW)
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

model pembelajaran TTW

Think talk write (TTW) merupakan model pembelajaran yang didasarkan pada pemahaman bahwa belajar adalah sebuah perilaku sosial. Model pembalajaran ini dikenalkan oleh Huinker dan  Laughin, “pada dasarnya (model pembelajaran) ini dibangun melalui berpikir, berbicara, dan menulis” (Huda, 2013, hlm. 218). Suyatno (2009, hlm. 66) mengemukakan bahwa model pembelajaran think talk write adalah “pembelajaran yang dimulai dengan berpikir dengan bahasa bacaan, hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi”. Suhendar (2011, hlm. 74) mengemukakan bahwa model pembelajaran think talk write “pada dasarnya menggunakan strategi pembelajaran kooperatif, sehingga dalam pelaksanaannya model ini membagi sejumlah siswa ke dalam kelompok kecil secara heterogen agar suasana pembelajaran lebih efektif”.
Berdasar sejumlah uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran think talk write adalah model pembelajaran yang melatih siswa untuk mampu membangun pemikiran dalam menetapkan ide, mengungkapkan ide, dan berbagi ide dengan temannya, serta menulis hasil pemikirannya tersebut dalam proses belajar.
Menurut Hamdayana (2014, hlm. 216) model pembelajaran think talk write melibatkan empat tahap penting yang harus dikembangkan  dan dilakukan dalam pembelajaran, sebagai berikut:
1. Berpikir (think)
Aktivitas berpikir dapat dilihat dari proses membaca suatu teks bacaan, kemudian membuat catatan apa yang telah dibaca. Pada tahap ini, peserta didik secara individu memikirkan kemungkinan jawaban, membuat catatan apa yang telah dibaca, baik itu berupa apa yang diketahuinya, maupun langkah-langkah penyelesaian dalam bahasanya sendiri. Membuat catatan kecil meningkatkan siswa dalam berpikir dan menulis.
2. Berbicara (talk)
Tahap selanjutnya adalah talk yaitu berkomunkasi dengan menggunakan kata-kata dan bahasa yang mereka pahami. Tahap komunikasi pada model ini memungkinkan siswa untuk terampil berbicara. Proses komunikasi di dalam kelas dapat dilakukan dengan cara diskusi. Diskusi pada tahap talk ini merupakan sarana untuk mengungkapkan dan merefleksikan pikiran siswa.
3. Menulis (write)
Tahap write yaitu menuliskan hasil diskusi atau pada lembar kerja siswa yang disediakan. Aktivitas menulis berarti mengontruksi ide karena setelah berdiskusi antarteman kemudian mengungkapkannya melalui tulisan. Aktivitas menulis akan membantu siswa dalam membuat hubungan dan juga memungkinkan guru melihat pengembangan konsep siswa.
4. Presentasi
Presentasi ini dimaksudkan agar siswa dapat berbagi pendapat dalam ruang lingkup yang lebih besar, yakni dengan teman satu kelas.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam pelaksanaan model think talk write menurut Hamdayana (2014, hlm. 219) sebagai berikut:
1. Guru membagikan lembar kerja siswa yang memuat soal yang harus dikerjakan siswa serta petunjuk pelaksanaannya.
2. Peserta didik membaca masalah yang ada dalam lembar kerja siswa dan membuat catatan kecil secara individu tentang apa yang ia ketahui dan tidak diketahui terkait masalah tersebut.
3. Guru membagi siswa dalam kelompok kecil (3-5 siswa).
4. Siswa berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman satu kelompok untuk membahas isi catatan. Pada kegiatan ini mereka menggunakan bahasa dan kata-kata mereka sendiri untuk menyampaikan ide-ide dalam diskusi. Diskusi diharapkan dapat menghasilkan solusi atas soal yang diberikan.
5. Berdasar hasil diskusi, peserta didik secara individu merumuskan pengetahuan berupa jawaban atas soal dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Pada tulisan tersebut, peserta didik menghubungkan ide-ide yang diperolehnya melalui diskusi.
6. Perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi kelompok melalui persentasi.
Pada suatu model pembelajaran tidak terlepas dari suatu kelebihan dan kekurangan. Penerapan model pembelajaran think talk write memiliki sejumlah kelebihan menurut Hamdayana (2014, hlm. 222), di antaranya:
1. Mempertajam seluruh keterampilan berpikir visual.
2. Mengembangkan pemecahan yang bermakna dalam rangka memahami materi ajar.
3. Dengan memberikan soal open ended dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa.
4. Dengan berinteraksi dan berdiskusi dengan kelompok akan melibatkan siswa secara aktif dalam belajar.
5. Membiasakan siswa berpikir dan berkomunikasi dengan teman, guru, dan bahkan dengan diri mereka sendiri.
Adapun kelemahan penggunaan model pembelajaran think talk write menurut Hamdayana (2014, hlm. 222), antara lain:
1. Ketika siswa bekerja dalam kelompok itu mudah kehilangan kemampuan dan kepercayaan, karena didominasi oleh siswa yang mampu.
2. Guru harus benar-benar menyiapkan semua media dengan matang agar dalam menerapkan model pembelajaran ini tidak mengalami kesulitan.

Referensi
Hamdayana, J. (2014). Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia.
Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suhendar, D. (2011). Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Suyatno (2009). Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Siduarjo: Masmedia Buana Pustaka.

2 comments


EmoticonEmoticon