Monday, 11 June 2018

Sikap Sosial


Sikap Sosial
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

sikap

Sikap merupakan “reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek” (Howard dan Gerungan, dalam Notoatmodjo, 2005, hlm. 78). Terdapat batasan bahwa sikap merupakan kecenderungan individu untuk merespons dengan cara yang khusus terhadap stimulus yang ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, positif atau negatif terhadap berbagai keadaan sosial yang terdapat di lingkungan. Sebagaimana dikemukakan oleh Breckler dan Wiggins (dalam Saifudin, 2003, hlm. 8) bahwa “sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan pengaruh langsung terhadap perilaku berikutnya”.
Bandura (1989, hlm. 2) mengemukakan “social cognitive theory favors a model of causation involving triadic reciprocal determinism. In this model of reciprocal causation, behavior, cognition, and other personal factors and environment influences all operate as interacting determinants that influence each other bidirectionally. Artinya, bahwa yang dimaksud dengan sikap sosial adalah kesadaran diri dalam diri individu yang mempengaruhi terhadap lingkungan sosial. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Kurniawati (2005, hlm. 5) bahwa “sikap sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata, yang berulang-ulang terhadap obyek sosial”. Sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial, serta biasanya dinyatakan oleh sekelompok orang atau masyarakat.
Katz (dalam Anwar dan Arsyad, 2003, hlm. 95) mengemukakan fungsi sikap sosial, antara lain:
1. Fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat yang menunjukkan bahwa individu dengan sikapnya berusaha untuk memaksimalkan hal-hal yang diinginkan dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan demikian, individu akan membentuk sikap positif terhadap hal-hal yang dirasakan akan mendatangkan keuntungan dan membentuk sikap negatif terhadap hal-hal yang merugikan.
2. Fungsi pertahanan ego menunjukkan keinginan individu untuk menghindarkan diri serta melindungi dari hal-hal yang mengancam egonya atau apabila ia mengetahui fakta yang tidak mengenakkan, maka sikap dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan ego yang akan melindungi dari kepahitan kenyataan tersebut.
3. Fungsi pertanyaan nilai menunjukkan keinginan individu untuk memperoleh kepuasan dalam menyatakan suatu nilai yang dianutnya sesuai dengan penilaian pribadi dan konsep diri.
4. Fungsi pengetahuan menunjukkan keinginan individu untuk mengekspresikan rasa ingin tahu, mencari penalaran, dan mengorganisasikan pengalaman.
Pemahaman terhadap sikap sosial perlu kiranya mengenali apa yang menjadi ciri-ciri dari sikap sosial. Gerungan (dalam Notoatmodjo, 2005, hlm. 79) mengemukakan ciri-ciri sikap sosial, di antaranya (1) tidak dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk dan dapat dipelajari sepanjang perkembangan dalam hubungan dengan obyek, (2) dapat diubah-ubah karena dapat dipelajari, (3) tidak berdiri sendiri melainkan mempunyai hubungan tertentu dengan obyek, (4) dapat berkenaan dengan suatu obyek saja, atau dapat berkenaan dengan obyek lainnya, dan (5) mempunyai segi-segi motivasi dan perasaan. Lebih lanjut, Alex (2003, hlm. 355) menyatakan bahwa ciri khas dari sikap sosial adalah “mempunyai obyek tertentu (orang, prilaku, konsep, situasi, benda) dan mengandung penilaian (suka-tidak suka, setuju-tidak setuju)”.
Ahmadi (2003, hlm. 164) mengemukakan terdapat tiga komponen utama sikap sosial, yakni “(1) komponen kognisi terdiri atas keseluruhan kognisi yang dimiliki seseorang mengenai sikap, berupa fakta pengetahuan dan keyakinan, (2) komponen afeksi terdiri atas keseluruhan perasaan dan emosi terhadap obyek, (3) komponen konasi terdiri atas kesiapan seseorang untuk beraksi dan bertingkah laku terhadap obyek”. Melalui afeksi seseorang dapat memberikan evaluasi dari obyek yang dapat bersifat positif maupun negatif berdasarkan emosi. Sedangkan kognitif melahirkan sikap atau tingkah laku. Sikap merupakan konstelasi komponen kognitif, afektif, dan konasi yang berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berprilaku terhadap suatu obyek yang berintegrasi selaras dan seimbang. Kognitif berhubungan dengan persepsi, pengetahuan, dan keyakinan terhadap suatu obyek. Afeksi menunjukkan kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap suatu obyek, apabila obyek tersebut dirasakan bermanfaat makan akan ada respons untuk mendukung obyek tersebut, demikian sebaliknya.
Persepsi individu terhadap obyek sikap sosial akan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal atau faktor individu dan faktor eksternal atau faktor luar. Faktor internal yaitu fisiologi dan psikologis sedangkan faktor eksternal dapat berwujud pengalaman, pengetahuan, proses belajar mengajar, norma yang ada di masyarakat, dan hambatan-hambatan atau pendorong dalam masyarakat. Pembentukan sikap sosial menurut Mar’at (2001, hlm. 115) digambarkan sebagai berikut:

Sikap Sosial

Menurut Sarwono (2009, hlm. 203-204) sikap sosial dapat dibentuk atau berubah melalui empat macam cara, yakni:
1. Adopsi
Kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang tejadi berulang-ulang dan terus-menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhi terbentuknya suatu sikap sosial.
2. Diferensiasi
Melalui perkembangan intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia, maka terdapat hal-hal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri lepas dari jenisnya. Terhadap obyek tersebut dapat terbentuk sikap tesendiri.
3. Integrasi
Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tertentu sehingga akhirnya terbentuk sikap sosial mengenai hal tersebut.
4. Trauma
Trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan yang meninggalkan kesan yang mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan terbentuknya sikap sosial.
Sikap sosial dapat ditumbuhkan dan dikembangkan melalui proses belajar. Pada proses belajar tidak terlepas dari proses komunikasi di mana terjadi proses transfer pengetahuan dan nilai. Jika sikap merupakan hasil belajar, maka kunci utama belajar sikap terletak pada proses kognisi dalam belajar siswa. Menurut Bloom (dalam Munandar, 2009, hlm. 215) adalah “serendah apapun tingkatan proses kognisi siswa dapat mempengaruhi sikap sosial”. Pertanyaan yang muncul adalah apakah semua informasi dapat mempengaruhi sikap sosial, tidak semua informasi dapat mempengaruhi sikap sosial. Informasi yang dapat mempengaruhi sikap sangat tergantung pada isi, sumber, dan media informasi yang bersangkutan. Dilihat dari segi isi informasi, bahwa informasi yang menumbuhkan dan mengembangkan sikap sosial adalah berisi pesan yang bersifat persuasif. Pada pengertian ini, pesan yang disampaikan dapat proses komunikasi haruslah memiliki kemampuan untuk mempengaruhi keyakinan sasaran didik, meskipun sebenarnya keyakinan tersebut didapat siswa sendiri melalui proses belajar. Penumbuhan sikap sosial dapat tumbuh selama manusia hidup. Sepanjang hidupnya, manusia belajar tidak pernah berhenti. Proses akomodasi dan asimilasi pengetahuan dan pengalaman, berlangsung sepanjang hidup manusia. Pada proses panjang inilah nilai-nilai hidup didapatkan oleh manusia, yang kemungkinan besar akan dapat menumbuhkan sikap mereka terhadap suatu subyek atau obyek.

Referensi
Ahmadi, A. (2003). Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Alex, S. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Anwar, & Arsyad (2003). Pendidikan Anak Usia Dini. Bandung: Alfabeta.
Bandura, A. (1989). Self-Efficacy Mecanism in Psychological Activation and Healt-Promoting Behavior. New York: Raven.
Kurniawati, E. (2005). Analisis Tingkah Laku Ken Ratri dalam Novel Merpati Biru Karya Achmad Munif. (Skripsi). Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Mar’at (2001). Sikap Manusia: Perubahan serta Pengukurannya. Bandung: Ghalia Indonesia.
Munandar, U. (2009). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Saifudin, A. (2003). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sarwono, S. W. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.


EmoticonEmoticon