Wednesday, 4 July 2018

Model Pembelajaran Generative Learning


Model Pembelajaran Generative Learning
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

generative learning

Model pembelajaran generative learning menggunakan teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Wittrock (dalam Wulandari, 2014, hlm. 8) mengasumsi bahwa “siswa bukan penerima informasi yang pasif, melainkan siswa aktif berpartisipasi dalam proses belajar dan dalam mengkonstruksi makna dari informasi yang ada di sekitarnya”. Hal ini berarti bahwa pengetahuan dibangun di dalam pikiran siswa dan tidak dapat dipindahkan dari pikiran guru ke pikiran siswa. Jika pengetahuan baru tersebut berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi, maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang.
Intisari dari model pembelajaran generative learning adalah bahwa otak tidak menerima informasi dengan pasif, melainkan dengan aktif mengkonstruk suatu interpretasi dari informasi tersebut dan kemudian membuat kesimpulan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Osborne dan Wittrock (dalam Hulukati, 2005, hlm. 50) bahwa “otak bukanlah suatu blank state yang dengan pasif belajar dan mencatat informasi yang datang”. Osborne dan Wittrock (dalam Yulviana, 2008, hlm. 10) menjelaskan “proses pengolahan input indera dalam otak, yaitu ide yang ada di pikiran siswa mempengaruhi dalam mengarahkan indera yang dimiliki oleh siswa”. Ide yang ada di pikiran siswa akan menentukan masukan dari indera mana yang akan diperhatikan atau yang tidak diperhatikan oleh otak. Tetapi ide yang masuk belum memiliki arti sebelum siswa membangun hubungan-hubungan yang diperhatikan dengan yang ada dalam pikiran siswa. Siswa menggunakan hubungan tersebut dan akan mempelajari arti setelah apa yang telah diperhatikan oleh siswa. Terkadang siswa menguji arti yang dibangun dalam pikiran dengan keterangan lain yang disimpan dalam otak, sehingga siswa menyimpan apa yang diperoleh oleh otaknya dalam ingatan. Karena otak siswa begitu berperan dalam menyerap dan memaknai informasi, maka siswa sendiri adalah penanggung jawab utama dalam belajar.
Pembelajaran generative learning memiliki landasan teoritik yang berakar pada teori-teori belajar konstruktivis mengenai belajar. Butir-butir penting dari pandangan belajar menurut teori konstruktivis menurut Nur dan Katu (dalam Kholil, 2008, hlm. 1) di antaranya:
1. Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya dapat terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru.
2. Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat, yaitu daerah perkembangan sedikit di atas  tingkat perkembangan saat ini.
3. Penekanan pada prinsip scaffolding, yaitu pemberian dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah.
4. Lebih menekankan pada pengajaran top-down. Top-down berarti siswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks, utuh, dan autentik untuk dipecahkan.
5. Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan. Meskipun jika kita menyampaikan informasi kepada siswa, tetapi mereka harus melakukan operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka.
6. Menganut visi siswa ideal, yaitu seorang siswa yang dapat memiliki kemampuan pengaturan diri sendiri dalam belajar.
7. Menanggap bahwa jika seseorang memiliki strategi belajar yang efektif dan motivasi, serta tekun menerapkan strategi tersebut sampai suatu tugas terselesaikan demi kepuasan mereka sendiri, maka kemungkinan mereka adalah pelajar yang efektif dan memiliki motivasi abadi dalam belajar.
Menurut Sumarna (2009, hlm. 21) karakteristik model pembelajaran generative learning, antara lain:
1. Dilandasi oleh pandangan konstruktivisme, memperhatikan pengalaman dan konsep awal siswa.
2. Pembelajaran berpusat pada siswa, di mana siswa sendiri aktif membangun pengetahuan.
3. Siswa diberi kesempatan untuk melakukan kegiatannya sendiri dan melatih berpikir.
4. Menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar.
Pembelajaran generative learning menurut Weda (2009, hlm. 177) terdiri atas empat tahap, yaitu “(1) pendahuluan atau disebut dengan eksplorasi, (2) pemfokusan, (3) tantangan atau tahap pengenalan konsep, dan (4) penerapan konsep”. Secara operasional menurut Weda (2009, hlm. 180-183) kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran dapat dijabarkan sebagai berikut:
No
Tahap Pembelajaran
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
1.
Eksplorasi
Memberikan aktivitas melalui demonstrasi/ contoh-contoh yang dapat merangsang siswa untuk melakukan eksplorasi.
Mengeksplorasikan pengetahuan, ide, atau konsepsi awal yang diperoleh dari pengalaman sehari-hari atau diperoleh dari pembelajaran pada tingkat sebelumnya.
Mendorong dan merangsang siswa untuk menemukan ide/pendapat serta merumuskan pendapat hipotesis.
Mengutarakan ide-ide dan merumuskan hipotesis.
Membimbing siswa untuk mengklasifikasikan pendapat.
Melakukan klarifikasi pendapat/ide-ide yang telah ada.
2.
Pemfokusan
Membimbing dan mengarahkan siswa untuk menetapkan konteks permasalahan berkaitan dengan ide siswa yang kemudian dilakukan pengujian.
Menetapkan konteks permasalahan, memahami, mencermati permasalahan sehingga siswa menjadi familiar terhadap bahan yang digunakan untuk mengeksplorasi konsep.
Membimbing siswa melakukan proses sains, yaitu menguji sesuatu.
Melakukan pengujian, berpikir apa yang terjadi, menjawab pertanyaan berhubungan dengan konsep, memutuskan dan menggambarkan apa yang ia ketahui tentang kejadian, dan mengklarifikasi ide ke dalam konsep.
Menginterpretasi respons dan menguraikan ide siswa.
Mempresentasikan ide ke dalam kelompok dan juga forum kelas melalui diskusi.
3.
Tantangan
Mengarahkan dan memfasilitasi agar terjadi pertukaran ide antar siswa, menjamin semua ide siswa dipertimbangkan, membuka diskusi, dan mengusulkan demonstrasi jika diperlukan.
Memberikan pertimbangan ide kepada siswa yang lain.
Melakukan bukti ide ilmuan (scientist view).
Menguji validitas ide/pendapat dengan mencari bukti. Membandingkan ide ilmuan dengan ide kelas (class’s view).
4.
Aplikasi
Membimbing siswa merumuskan permasalahan yang sangat sederhana dan membawa siswa mengklarifikasi ide baru.
Menyelesaikan masalah praktis dengan menggunakan konsep dalam situasi yang baru dan menerapkan konsep yang baru dipelajari dalam berbagai konteks berbeda.
Membimbing siswa agar mampu menggambarkan secara verbal menyelesaikan masalah dan ikut terlibat dalam merangsang serta berkontribusi ke dalam diskusi untuk menyelesaikan permasalahan.
Mempresentasikan penyelesaian masalah di  hadapan teman, diskusi atau debat tentang penyelesaian masalah, mengkritisi, menilai penyelesaian masalah, dan menarik kesimpulan akhir.

Kelebihan penggunaan model pembelajaran generative learning, antara lain:
1. Memberi peluang kepada siswa untuk belajar secara kooperatif.
2. Merangsang rasa ingin tahu siswa.
3. Cocok untuk meningkatkan keterampilan proses.
4. Meningkatkan aktivitas siswa, dengan bertukar pikiran, menjawab pertanyaan dari guru, dan berani tampil untuk mempresentasikan hipotesis.
5. Konsep yang dipelajari siswa akan masuk ke memori jangka panjang.
Sedangkan kekurangan penggunaan model pembelajaran generative learning, di antaranya:
1. Membutuhkan waktu yang relatif lama.
2. Dikhawatirkan akan terjadi miskonsepsi. Agar tidak terjadi miskonsepsi, guru harus membimbing siswa dalam mengeksplorasi pengetahuan yang dimiliki siswa.

Referensi
Hulukati, E. (2005). Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP melalui Model Pembelajaran Generatif. (Disertasi). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Kholil, A. (2008). Pembelajaran Generatif (MPG). [Online]. Diakses dari: http://anwarkholil.blogspot.com/2008/04/pembelajaran-generatif-mpg.html.
Sumarna, H. (2009). Pengaruh Model Pembelajaran Generatif terhadap Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Madrasah Aliyah. (Skripsi). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Weda, M. (2009). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tujuan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.
Wulandari (2014). Pengaruh Model Pembelajaran Generatif terhadap Minat dan Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas V SD (Studi Kasus di Gugus Letkol Wisnu Denpasar Utara). Jurnal Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha, 4, hlm. 1-9.
Yulviana, R. (2008). Penerapan Model Pembelajaran Generatif untuk Meningkatkan Kompetensi Strategi Siswa SMA. (Skripsi). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.


EmoticonEmoticon