Friday, 13 July 2018

Pendekatan Moving Class


Pendekatan Moving Class
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

moving class

Moving class berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu “moving artinya bergerak, dan class artinya kelas” (Echols dan Sadili, 1997, hlm. 387). Sejalan dengan itu, Rasyid (dalam Sagala, 2009, hlm. 183) mengemukakan bahwa moving class adalah “pembelajaran yang diciptakan untuk belajar aktif dan kreatif dengan sistem belajar mengajar bercirikan peserta didik yang mendatangi guru di kelas, bukan sebaliknya”. Untuk itu, moving class dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang berpindah-pindah kelas, dari kelas satu ke kelas yang lain, ketika jam pelajaran berganti yang kelasnya sesuai dengan masing-masing mata pelajaran.
Pendekatan moving class merupakan suatu sistem full activity, karena aktifitas belajar siswa yang dibutuhkan, di mana ketika sebelum adanya sistem ini, seorang guru yang harus aktif memasuki kelas ketika jam pelajaran berganti, tetapi dengan adanya sistem ini, seorang siswa dituntut untuk aktif, karena ketika pergantian jam pelajaran bukan lagi guru yang mencari kelas, melainkan siswa yang harus aktif mencari kelas, sedangkan guru menunggu  di ruang kelas. Jadi, pelaksanaan moving class sangat membutuhkan keaktifan  siswa untuk belajar, “keaktifan siswa akan terlihat secara intelektual dan emosional sehingga ia betul-betul berperan dan berpartisipasi dalam melakukan kegiatan belajar” (Sriyono, dkk., 1992, hlm. 8).
Pada pelaksanaan pendekatan moving class, selalu tetap berpijak pada aturan yang telah disepakati bersama dalam suatu lembaga pendidikan. Pelaksanaan moving class tidak hanya dilaksanakan di kelas saja, melainkan juga dapat dilaksanakan di masjid, perpustakaan, dan tempat-tempat lain selama masih berhubungan dengan sekolah dan sesuai bila digunakan untuk proses belajar mengajar.
Konsep moving class mengacu pada pembelajaran kelas yang berpusat pada siswa untuk memberikan lingkungan yang dinamis sesuai dengan bidang yang dipelajari. Melalui moving class, pada saat subjek mata pelajaran berganti, maka siswa akan meninggalkan kelas menuju kelas lain sesuai mata pelajaran yang dijadwalkan. Jadi, siswa yang mendatangi guru, bukan sebaliknya.
Adapun tujuan penerapan pendekatan moving class, antara lain:
1. Memfasilitasi siswa yang memiliki beraneka ragam gaya belajar, baik visual, auditori, dan kinestetik.
2. Menyediakan sumber belajar, alat peraga, dan sarana belajar yang sesuai dengan karakter mata pelajaran.
3. Melatih kemandirian, kerjasama, dan kepedulian sosial siswa. Karena dalam moving class mereka akan bertemu dengan siswa lain setiap ada perpindahan kelas atau pergantian mata pelajaran.
4. Merangsang seluruh aspek perkembangan dan kecerdasan siswa.
5. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
6. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi waktu pembelajaran karena guru mata pelajaran tetap berada di ruangan, sehingga waktu guru mengajar tidak terganggu dengan berbagai hal.
7. Meningkatkan disiplin siswa dan guru.
8. Meningkatkan keterampilan guru dalam memvariasikan metode dan media pembelajaran yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari siswa.
9. Meningkatkan keberanian siswa untuk bertanya, menjawab, mengemukakan pendapat, dan bersikap terbuka pada setiap mata pelajaran.
10. Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
Kelebihan pelaksanaan pendekatan moving class, di antaranya:
1. Siswa akan mendapat pendidikan yang antisipatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
2. Siswa akan merasakan nuansa yang berbeda saat proses belajar mengajar, karena setiap kelas yang dimasuki memiliki suasana yang beragam.
3. Siswa akan selalu aktif dalam mengikuti setiap mata pelajaran.
4. Siswa akan mendapatkan pendidikan yang lebih proporsional.
5. Siswa akan lebih cepat mengenal kawannya, sehingga menunjang terhadap optimalnya proses pembelajaran.
6. Perkembangan bakat, minat, dan kecerdasan siswa terantisipasi sejak dini karena dapat dilihat dari keaktifannya setiap hari.
Sedangkan kelemahan penggunaan pendekatan moving class yang perlu diantisipasi, antara lain:
1. Memerlukan jumlah ruangan yang relatif banyak.
2. Memerlukan persiapan yang lebih matang, baik dari segi pengelolaan kurikulum, tata ruangan, maupun waktu.
3. Guru dituntut memiliki keterampilan dan kreatifitas agar dapat memanfaatkan ruangan, bahan ajar, alat peraga, dan alat penunjang lainnya secara optimal.

Referensi
Echols, J., & Sadili, H. (1997). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Sagala, S. (2009). Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta.
Sriyono, dkk. (1992). Teknik Belajar dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta.


EmoticonEmoticon