Sunday, 29 July 2018

Pendekatan Pembelajaran Tuntas


Pendekatan Pembelajaran Tuntas
Karya: Rizki Siddiq Nugraha

mastery learning

Pendekatan pembelajaran tuntas (mastery learning) adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Pendekatan pembelajaran tuntas adalah “pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan untuk setiap unit bahan pelajaran, baik secara perseorangan maupun kelompok, dengan kata lain apa yang dipelajari siswa dapat dikuasai sepenuhnya” (Usman, 1993, hlm. 96).
Pendekatan pembelajaran tuntas “dikembangkan oleh John B. Caroll dan Benjamin Bloom (1971)” (Wena, 2011, hlm. 184). Belajar tuntas menyajikan unjuk kerja siswa ke tingkat pencapaian suatu pokok bahasan yang lebih memuaskan. Pendekatan ini menguraikan faktor-faktor pokok yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, seperti bakat dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tingkat pencapaian.
Belajar tuntas adalah pendekatan pembelajaran berdasar pandangan filosofis bahwa seluruh peserta didik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat. Konsep belajar tuntas adalah proses belajar yang bertujuan agar bahan ajar dikuasai secara tuntas, artinya menguasai materi secara penuh. “Melalui sistem belajar tuntas diharapkan proses belajar dapat dilaksanakan agar tujuan instruksional yang akan dicapai diperoleh secara optimal sehingga proses belajar lebih efektif dan efisien” (Sukmadinata, 2005, hlm. 24).
Pada dasarnya belajar tuntas akan mendorong siswa memiliki kemampuan dan mengembangkan potensi yang dimiliki, serta mengecilkan perbedaan antar anak. “Belajar tuntas membuat siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi anak cerdas akan mencapai semua tujuan pembelajaran, sedangkan anak yang kurang cerdas mencapai sebagian atau tidak mencapai sama sekali tujuan pembelajaran” (Sukmadinata, 2005, hlm. 190).
Biasanya siswa yang berbakat tinggi memerlukan waktu yang relatif sedikit untuk mencapai taraf penguasaan bahan, dibandingkan dengan siswa yang memiliki bakat rendah. Siswa dapat mencapai penguasaan penuh terhadap bahan yang disajikan, apabila kualitas pengajaran dan kesempatan waktu belajar disusun sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Secara psikologi perilaku atau kemampuan intelektual anak memiliki karakteristik yang berbeda dalam kecepatan mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta, dan sebagainya. Oleh karena itu, “seorang siswa yang tidak mencapai tingkat keberhasilan yang ditetapkan adalah karena tidak disediakan jumlah waktu yang cukup sesuai dengan kebutuhannya atau karena waktu yang disediakan sebenarnya sudah cukup tetapi tidak digunakan dengan sungguh-sungguh” (Suryosubroto, 1997, hlm. 100).
Konsep belajar tuntas menurut Sukmadinata (2005, hlm. 32) mendasarkan pengembangan pembelajarannya pada prinsip-prinsip berikut:
1. Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian besar bahan yang dipelajari. Guru bertugas untuk merancang pembelajaran sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai hampir seluruh bahan yang dipelajari.
2. Guru menyusun strategi pembelajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa.
3. Sesuai dengan tujuan-tujuan khusus tersebut, guru merinci bahan ajar menjadi satuan-satuan bahan ajar kecil yang mendukung pencapaian tujuan khusus tersebut.
4. Selain disediakan bahan ajar untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajar untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik.
5. Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi menggunakan acuan patokan.
6. Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual. Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yakni siswa yang pandai atau cepat belajar dapat maju lebih dahulu pada satuan pelajaran berikutnya, sedangkan siswa yang lambat dapat menggunakan waktu lebih banyak atau lama sampai menguasai secara tuntas bahan yang diberikan.
Adapun secara garis besar, pelaksaaan belajar tuntas menurut Hamalik (2001, hlm. 93) mengikuti pola berikut:
1. Kegiatan orientasi
Kegiatan ini mengorientasi siswa terhadap strategi belajar tuntas yang berkenaan dengan orientasi tentang apa yang akan dipelajari oleh siswa dalam jangka satu semester dan cara belajar yang harus dilakukan oleh siswa. Guru menjelaskan keseluruhan bahan yang telah direncanakan dalam tabel spesifikasi, lalu dilanjutkan dengan pretest yang lingkup isinya sama dengan isi tes sumatif.
2. Kegiatan belajar mengajar
Pada kegiatan belajar mengajar yang harus dilakukan oleh guru, yakni (1) memperkenalkan tujuan instruksional khusus pada satuan pelajaran yang akan dipelajari dengan cara memperkenalkan tabel spesifikasi tentang arti dan cara mempergunakannya untuk kepentingan bimbingan belajar atau menunjukkan topik umum atau konsep umum yang akan dipelajari, (2) penyajian rencana kegiatan belajar berdasarkan standar kelompok, (3) penyajian pelajaran dalam situasi kelompok berdasarkan satuan pelajaran, (4) melaksanakan diagnostic progress test, (5) mengidentifikasi kemampuan belajar siswa yang telah memuaskan dan yang belum memuaskan, (6) menetapkan siswa yang hasil belajarnya telah memuaskan, (7) memberikan kegiatan korektif kepada siswa yang hasil belajarnya belum memuaskan, (8) memonitor keefektifan kegiatan korektif, dan (9) menetapkan kembali siswa yang hasil belajarnya memuaskan.
3. Menentukan tingkat penguasaan bahan
Setelah pelajaran selesai dilakukan, maka guru melakukan tes untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa.
4. Memberikan atau melaporkan kembali tingkat penguasaan setiap siswa
Kegiatan ini bertujuan agar mengetahui tingkat penguasaan setiap siswa. Mereka diberi tabel spesifikasi, bahan yang sudah dikuasai diberi tanda.
5. Pengecekan keefektifan keseluruhan program
Keefektifan strategi belajar tuntas ditandai berdasarkan hasil yang dicapai oleh siswa. Untuk itu, terdapat dua cara yang dapat ditempuh guru, yakni (1) membandingkan hasil yang dicapai oleh kelas yang menggunakan strategi belajar tuntas dengan kelas yang menggunakan strategi lain dan (2) terlebih dahulu membuat hipotesis tentang hasil belajar jika menggunakan strategi belajar tuntas, lalu dibuktikan berdasarkan hasil belajar kelas nyata. Dengan cara tersebut, maka dapat diketahui keefektifan keseluruhan program yang telah dilaksanakan.
Menurut Mariana (2003, hlm. 21) terdapat kelebihan pembelajaran tuntas, yakni:
1. Pencapaian siswa dan daya tahan konsep yang dipelajari lebih tahan lama.
2. Efisiensi belajar siswa secara keseluruhan lebih tinggi jika menerapkan pembelajaran tuntas.
3. Meningkatkan rasa ingin tahu dan rasa percaya diri pada siswa.
Sedangkan kelemahan penggunaan pembelajaran tuntas menurut Mariana (2003, hlm. 24), sebagai berikut:
1. Guru sulit beradaptasi dalam menggunakan pembelajaran tuntas.
2. Memerlukan berbagai fasilitas yang memadai.
3. Diberlakukan sistem Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan Ujian Nasional (UN) yang menuntut penyelenggaraan program pada waktu yang telah ditetapkan dan usaha persiapan siswa untuk menempuh ujian.

Referensi
Hamalik, O. (2001). Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar berdasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru.
Mariana, M. A. (2003). Pembelajaran Remedial. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Sukmadinata, N. S. (2005). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.
Suryosubroto, B. (1997). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Usman, M. U. (1993). Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wena, M. (2011). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.


EmoticonEmoticon